RedDoorz mempercepat ekspansi bisnisnya di Indonesia dengan menambah 100 hotel yang dikelola langsung oleh perusahaan. Langkah ini diumumkan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/2/2026), menjelang periode mudik dan Lebaran yang diprediksi kembali menjadi puncak permintaan akomodasi.
Ekspansi tersebut berlangsung di tengah tren perjalanan domestik yang terus bertumbuh. Manajemen menilai Indonesia tetap menjadi pasar strategis, terutama dengan kebutuhan akomodasi terjangkau dan andal di lebih dari 300 kota tempat jaringan RedDoorz beroperasi.
Head of Strategic Hotel Acquisition RedDoorz, Leon Yaphar, menyebut model bisnis perusahaan kini memasuki fase “Hospitality 3.0”. Menurutnya, RedDoorz tidak lagi sekadar menjual kamar seperti online travel agent (OTA), tetapi juga masuk ke pengelolaan operasional hotel secara menyeluruh.
Baca Juga: Kolaborasi RedDoorz, Ekraf, dan BAZNAS Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Sumatra
“Kami membantu para hoteliers dan guest house owner untuk melakukan end-to-end management. Di dalamnya termasuk online dan offline channel di seluruh Indonesia,” ujar Leon.
Saat ini, RedDoorz mengelola sekitar 4.300 mitra properti di Indonesia dan Filipina. Dari jumlah tersebut, 100 hotel telah berada dalam skema kelolaan langsung oleh tim profesional internal. Skema ini berbeda dari model franchise yang sebelumnya lebih berfokus pada distribusi dan penjualan kamar.
Model ganda tersebut dinilai memberi fleksibilitas bagi perusahaan untuk memperluas jaringan sekaligus meningkatkan kontrol terhadap kualitas layanan.
Baca Juga: RedDoorz Latih 1.000 Mitra Properti dalam Langkah Tanggap Darurat Kebakaran Bersama Damkar
Dalam konferensi pers tersebut, hadir pula Amit Saberwal selaku Founder dan CEO RedDoorz serta Nitin Vyas, SVP of Product and Data. Pemaparan terkait pengembangan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) disampaikan langsung oleh Nitin.
Ia menjelaskan bahwa kompleksitas operasional hotel semakin tinggi, mulai dari pengelolaan staf hingga ekspektasi layanan tamu yang kian menuntut standar konsisten.
“Selama delapan hingga sepuluh tahun kami membangun teknologi untuk pricing, distribution, marketing, branding, sales, dan customer support. Tahun ini kami membangun teknologi untuk mengurus operasi hotel,” ujar Nitin.
Untuk mendukung ekspansi hotel kelolaan langsung, perusahaan meluncurkan RedPilot, sistem AI internal yang berfungsi sebagai co-pilot bagi manajer hotel.
Baca Juga: Satu Dekade RedDoorz Makin Optimis dan Raup Pertumbuhan 25% di Semester I/2025
“Ini adalah co-pilot untuk hotel manager dan pada dasarnya bekerja di latar belakang untuk memastikan operasi berjalan lancar,” jelasnya.
RedPilot memiliki lima fitur utama. Pertama, quality assurance, yang menganalisis ulasan pelanggan dan mengubahnya menjadi tiket tindakan bagi staf. Kedua, smart inventory untuk memprediksi kebutuhan perlengkapan dan menjaga ketersediaan stok. Ketiga, staff management yang memantau jadwal kerja dan memberi peringatan jika terjadi kekurangan staf.
Keempat, check-in alert berbasis analisis CCTV untuk memastikan prosedur berjalan sesuai standar. Kelima, finance automation guna mengotomatisasi pencatatan pemasukan dan pengeluaran properti.
Menurut Nitin, teknologi ini memungkinkan perusahaan mengelola 175 hingga 200 properti tahun ini tanpa perlu menambah banyak manajer operasional, sehingga efisiensi dapat tetap terjaga.
Baca Juga: RedDoorz Targetkan 4.500 Properti di Semua Segmen Pasar pada Akhir 2024, Indonesia Jadi Pasar Kunci
Terkait kesiapan menghadapi Lebaran 2026, Leon memprediksi puncak permintaan akan terjadi pada minggu pertama Lebaran serta satu hingga dua minggu setelahnya.
“Setiap tahun kami selalu sangat siap. Dari sisi persiapan lokal sudah ada perencanaan matang. Bahkan sejak bulan lalu kami sudah melakukan refresh dan kunjungan ke hotel-hotel untuk memastikan properti siap menerima lonjakan tamu,” ujarnya.
Periode Lebaran disebut tetap menjadi salah satu kontributor utama terhadap pendapatan tahunan perusahaan. Dengan tambahan 100 hotel kelolaan langsung, RedDoorz menargetkan standar layanan lebih terkontrol dan okupansi dapat dimaksimalkan selama musim puncak.
Berdasarkan laporan pasar yang dipaparkan dalam materi presentasi, hotel independen masih mendominasi pangsa pasar perhotelan Indonesia pada 2025. Namun, segmen jaringan diproyeksikan tumbuh dua digit hingga 2031. Kondisi ini membuka peluang bagi model konsolidasi dan pengelolaan profesional seperti yang kini diperkuat RedDoorz.
Baca Juga: RedDoorz Kantongi Rp1 Milliar Lebih dari Lini B2B di Paruh Pertama 2024
Melalui ekspansi hotel kelolaan langsung dan integrasi AI, RedDoorz menunjukkan pergeseran strategi dari sekadar platform distribusi menjadi operator dengan kontrol operasional penuh.
Menjelang mudik dan Lebaran 2026, perusahaan berupaya memadukan skala jaringan, efisiensi teknologi, serta pengawasan kualitas untuk memperkuat posisinya di pasar akomodasi domestik yang terus berkembang.