Di tengah konflik global seperti perang Rusia–Ukraina atau ketegangan di Timur Tengah, masyarakat Indonesia sering kaget saat harga BBM tiba‑tiba naik padahal “perangnya di mana‑mana, bukan di sini”.
Faktanya, kenaikan harga BBM di SPBU tidak lahir dari kebijakan pemerintah secara sepihak, melainkan hasil dari getaran rantai pasok energi global yang terganggu oleh konflik luar negeri.
Konflik Global dan Melonjaknya Harga Minyak Dunia
Salah satu contoh paling jelas adalah konflik Rusia–Ukraina. Rusia adalah salah satu pemasok minyak terbesar di dunia, sehingga perang di wilayah Eropa Timur langsung mengguncang pasar energi global.
Baca Juga: Program Biodiesel Efektif Tekan Impor BBM
Sebuah studi akademik menunjukkan bahwa perang Rusia–Ukraina menyumbang sekitar 70–73% volatilitas harga minyak mentah WTI dan Brent, artinya sebagian besar lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa tahun terakhir memang berasal dari sentimen geopolitik ini.
Beberapa alasan yang mendorong kenaikan harga minyak saat konflik terjadi:
- Produksi terganggu: kilang minyak dan infrastruktur energi di Rusia dan sekitarnya sering terdampak serangan, sehingga pasokan minyak ke pasar global berkurang.
- Sanksi dan larangan impor: banyak negara Barat menjatuhkan sanksi terhadap ekspor minyak Rusia, sehingga minyak Rusia harus “cari jalan lain” ke pasar atau jumlah total minyak yang masuk ke pasar global menyusut.
Baca Juga: Klaim Bahlil: Masa Kritis BBM di Indonesia Sudah Lewat!
Akibatnya, harga minyak mentah dunia (ICP) naik dan karena Indonesia mengaitkan harga BBM dengan ICP dan nilai tukar dolar, harga bahan bakar di dalam negeri juga berpotensi ikut berimbas.
Rantai Pasok Energi Global yang Rentan
Rantai pasok energi global adalah sistem yang sangat kompleks dan saling terhubung, dari ladang minyak di Rusia, Timur Tengah, atau Afrika, lalu diangkut ke kilang, lalu diolah menjadi produk akhir seperti pertamax, solar, dan avtur, baru akhirnya dikirim ke SPBU di berbagai negara.
Secara sederhana, rantai pasoknya bisa dibagi menjadi empat tahap:
1. Ekstraksi dan produksi
Negara produsen besar seperti Rusia, Arab Saudi, Irak, dan Amerika memproduksi minyak mentah yang menjadi komoditas utama di pasar global.
2. Transportasi dan distribusi
Minyak diangkut lewat kapal tanker melalui jalur kritis seperti Selat Hormuz, Laut Hitam, atau rute Eropa Timur. Setiap konflik atau penutupan jalur ini membuat biaya transportasi dan asuransi kapal melonjak.
3. Pengolahan di kilang (refinery)
Minyak mentah diolah jadi BBM di kilang besar yang tersebar di Asia, Eropa, dan Amerika. Gangguan di salah satu rantai (misalnya kilang Rusia terdampak serangan drone) berpotensi mengurangi pasokan BBM siap pakai.
Baca Juga: Kenapa Harga BBM Subsidi Tidak Naik? Menkeu Purbaya: Beban Hidup Rakyat Bisa Makin Berat
4. Distribusi ke konsumen
BBM jadi ini dijual ke negara pengimpor, termasuk Indonesia, lalu didistribusikan ke SPBU dan konsumen akhir.
Ketika konflik terjadi di salah satu titik seperti perang di Rusia mengganggu kilang dan jalur pipanya, hal ini tidak hanya merugikan Eropa, tetapi juga memaksa negara lain harus mencari alternatif pasokan yang lebih mahal.
Mengapa Indonesia Ikut Kena Dampak?
Indonesia tidak lagi menjadi pengekspor minyak bersih; sebaliknya, kebutuhan minyak dalam negeri sudah jauh melebihi produksi lokal. Beberapa studi menunjukkan bahwa 75–80% kebutuhan energi cair (minyak) Indonesia masih dipenuhi melalui impor, yang artinya negara sangat tergantung pada pasokan global. Ketergantungan ini membuat Indonesia ikut merasakan setiap gejolak harga di pasar minyak dunia.
Beberapa faktor yang membuat Indonesia “ikut kena timbul” adalah:
Harga minyak global (ICP): pemerintah Indonesia menggunakan referensi harga minyak dunia (ICP) sebagai acuan penentuan harga BBM subsidi maupun non‑subsidi. Ketika ICP naik, subsidi negara akan membengkak jika harga BBM tetap murah.
Kurs dolar AS: minyak dunia diperdagangkan dalam dolar; jika rupiah melemah terhadap dolar, biaya impor minyak menjadi lebih mahal dan tekanan terhadap harga BBM semakin besar.
Struktur anggaran negara: subsidi BBM adalah bagian besar dari pengeluaran APBN; saat harga minyak global melonjak karena konflik (seperti akibat perang AS–Israel dan efek lanjutannya ke Rusia), banyak negara termasuk Indonesia mempertimbangkan penyesuaian harga BBM untuk menjaga kestabilan fiskal.
Selain itu, Indonesia juga masih rentan terhadap gangguan rantai pasok global karena:
Ketergantungan pada impor BBM: meski Indonesia punya kilang sendiri, kapasitasnya belum mencukupi seluruh kebutuhan sehingga harus mengimpor produk BBM maupun minyak mentah.
Keterlambatan inovasi energi: pergantian ke energi terbarukan (surya, panas bumi, biofuel) masih berjalan lambat, sehingga sebagian besar sektor transportasi dan industri masih bertumpu pada minyak.
Dampak Konflik Rusia Terhadap Energi Dunia
Perang Rusia–Ukraina juga mengubah konstelasi geopolitik energi dunia. Sebelumnya, Rusia menjadi salah satu pemasok energi utama ke Eropa, kini posisinya terganggu karena sanksi dan tekanan diplomatik.
Negara‑negara seperti Amerika Serikat dan Arab Saudi lantas mendapatkan “suara energi” yang lebih besar, sementara Rusia terpaksa mencari pembeli baru di Asia, termasuk melalui penjualan minyak dengan harga diskon ke beberapa negara.
Mengapa Kenaikan Harga BBM “Terasa” oleh Rakyat Biasa?
Ketika harga BBM naik, dampaknya bukan hanya terasa di pompa bensin, tetapi juga menyasar seluruh ekonomi. Sebagai bahan bakar utama transportasi dan sebagian industri, kenaikan harga BBM:
- Memicu kenaikan ongkos angkutan dan logistik,
- Meningkatkan biaya produksi barang, dan
- Berpotensi menaikkan inflasi dan harga kebutuhan sehari‑hari.
Bagi masyarakat menengah‑bawah, kenaikan BBM bisa bermakna pengurangan kemampuan daya beli masyarakat, uang bensin yang sebelumnya cukup untuk satu bulan hanya bisa cukup untuk 10 hari, sehingga harus mengurangi pengeluaran lain.
Menuju Kemandirian Energi: Langkah yang Perlu Dilakukan
Agar Indonesia tidak selalu “terguncang” oleh konflik luar negeri, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan:
Mempercepat investasi energi terbarukan: mengembangkan panas bumi, surya, biofuel, dan energi lain yang bisa mengurangi ketergantungan terhadap minyak impor.
Memperkuat kilang dan rafinasi dalam negeri: dengan proyek kilang baru dan RDMP, Indonesia bisa mengolah minyak mentah lokal maupun impor lebih efisien dan mengurangi kebutuhan impor BBM jadi.
Meningkatkan efisiensi dan diversifikasi sumber energi: misalnya mendorong transportasi listrik, bio‑pertamax, dan kebijakan hemat energi di sektor industri.
Konflik luar negeri bukan hanya perkara perang di luar negeri tetapi juga soal rantai pasok energi global yang terhubung dengan harga BBM di SPBU yang ada di Indonesia.
Negara Indonesia memang jauh dari front‑line perang, tetapi akan tetap terkena dampaknya karena masih terjebak di sistem global yang sangat bergantung pada minyak dan sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik.