Untuk menggambarkan pentingnya kompetisi sehat, Jahja mengambil contoh dari hobinya berenang dan bermain golf.
Ia mengaku rutin berenang lima hingga enam kali dalam seminggu dan menyukai golf karena olahraga tersebut melatih seseorang untuk terus meningkatkan kemampuan diri.
“Kalau saya kalah sama Pak Eddy, saya harus belajar bagaimana supaya lebih bagus lagi, lebih bagus lagi,” katanya.
Meski begitu, Jahja menekankan bahwa sistem penilaian kinerja atau Key Performance Indicator (KPI) tetap perlu diterapkan secara bijak.
Di BCA, kata dia, KPI tetap digunakan sebagai alat ukur performa, tetapi perbedaan reward antar-pegawai tidak dibuat terlalu jauh agar tidak memicu persaingan berlebihan.
“Contoh, dalam hal ini ya, KPI itu penting. Di mana-mana orang cari KPI. Tetapi di BCA, KPI ada, tetapi rewardnya itu gak terlalu beda-beda banyak,” ujar Jahja.
“Kenapa? Karena kalau semua orang ingin the best, ingin paling hebat, maka teamwork hilang. Tidak ada kerjasama lagi,” lanjut Jahja.
Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan agar budaya kolaborasi tetap terjaga dan seluruh tim bisa bergerak bersama mencapai tujuan organisasi.
“Karena saling mau bersaing, jadi ada silo-silo. Mereka membentuk silo dan tidak menghasilkan sesuatu yang positif. Nah ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup suatu organisasi, suatu tim,” pungkas Jahja.
Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Investasi ‘Leher ke Atas’ Bisa Mengubah Jalan Hidup Anda