Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, membagikan pandangannya mengenai pentingnya membangun kerja sama tim atau teamwork di dalam sebuah organisasi.

Menurutnya, peran pemimpin sangat krusial untuk menjaga keseimbangan antara kompetisi dan kolaborasi di lingkungan kerja.

Jahja menilai, persaingan memang diperlukan untuk mendorong setiap individu berkembang. Namun, persaingan yang tidak sehat justru bisa merusak kekompakan tim dan memunculkan ego sektoral di dalam organisasi.

“Berulang-ulang saya mengatakan, untuk teamwork itu perlu persaingan. Jangan lupa, perlu persaingan. Tapi cara bersaing itu yang sehat,” papar Jahja, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Sabtu (9/5/2026).

Jahja menegaskan, pemimpin harus mampu memastikan setiap anggota tim tetap memiliki semangat untuk berkembang tanpa kehilangan rasa kebersamaan.

Menurut Jahja, ketika setiap orang hanya ingin menjadi yang paling unggul, maka kerja sama tim akan perlahan hilang. Kondisi itu dapat memunculkan ‘silo’, yakni kelompok-kelompok kecil yang bekerja sendiri-sendiri tanpa sinergi.

“Karena kalau semua orang ingin the best, ingin paling hebat, maka teamwork hilang. Tidak ada kerja sama lagi. Karena saling mau bersaing, jadi ada silo-silo,” katanya.

Jahja menambahkan, budaya silo tidak akan menghasilkan sesuatu yang positif bagi perusahaan dalam jangka panjang.

“Mereka membentuk silo dan tidak menghasilkan sesuatu yang positif. Nah ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup suatu organisasi, suatu tim,” lanjut Jahja.

Dalam pandangan Jahja, hasil kerja tim yang solid jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan kemampuan individu semata.

“Kalau saya, dengan pengetahuan saya, saya nyuruh orang untuk bekerja, gak akan sebagus daripada mereka teamwork. Nah, teamwork juga salah satu yang penting,” ucapnya.

Baca Juga: Tak Harus Selalu Bahas Target, Jahja Setiaatmadja Ungkap Pentingnya Leader Bangun Kedekatan dengan Tim

Untuk menggambarkan pentingnya kompetisi sehat, Jahja mengambil contoh dari hobinya berenang dan bermain golf.

Ia mengaku rutin berenang lima hingga enam kali dalam seminggu dan menyukai golf karena olahraga tersebut melatih seseorang untuk terus meningkatkan kemampuan diri.

“Kalau saya kalah sama Pak Eddy, saya harus belajar bagaimana supaya lebih bagus lagi, lebih bagus lagi,” katanya.

Meski begitu, Jahja menekankan bahwa sistem penilaian kinerja atau Key Performance Indicator (KPI) tetap perlu diterapkan secara bijak.

Di BCA, kata dia, KPI tetap digunakan sebagai alat ukur performa, tetapi perbedaan reward antar-pegawai tidak dibuat terlalu jauh agar tidak memicu persaingan berlebihan.

“Contoh, dalam hal ini ya, KPI itu penting. Di mana-mana orang cari KPI. Tetapi di BCA, KPI ada, tetapi rewardnya itu gak terlalu beda-beda banyak,” ujar Jahja.

“Kenapa? Karena kalau semua orang ingin the best, ingin paling hebat, maka teamwork hilang. Tidak ada kerjasama lagi,” lanjut Jahja.

Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan agar budaya kolaborasi tetap terjaga dan seluruh tim bisa bergerak bersama mencapai tujuan organisasi.

“Karena saling mau bersaing, jadi ada silo-silo. Mereka membentuk silo dan tidak menghasilkan sesuatu yang positif. Nah ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup suatu organisasi, suatu tim,” pungkas Jahja.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Investasi ‘Leher ke Atas’ Bisa Mengubah Jalan Hidup Anda