Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai mencari alternatif sumber pembiayaan utang pemerintah dengan biaya yang lebih murah. China dan Jepang kini dilirik untuk membantu pemerintah menekan beban bunga utang.

Purbaya mengungkapkan pemerintah telah menjajaki pembiayaan bilateral dari China. Hasilnya, pemerintah mendapat tawaran bunga sekitar 1,9% untuk pinjaman dengan tenor tiga tahun.

Sementara untuk tenor lima tahun, bunga yang ditawarkan sekitar 2,18%. Menurut Purbaya, tingkat bunga tersebut lebih rendah dibandingkan biaya pembiayaan dalam denominasi dolar AS.

"Saya sudah ke Cina, di sana saya bisa dapat bunga 1,9 untuk 3 tahun, untuk 5 tahun bisa dapat 2,18, jauh lebih rendah dibandingkan dengan dollar denominated," kata Purbaya dalam acara Seserahan Ekonomi, dikutip Jumat (4/9/2026).

Baca Juga: Purbaya Buka Suara, Desil 9-10 Bakal Dilarang Beli Pertalite?

China bukan satu-satunya negara yang dilirik. Purbaya mengatakan Jepang juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembiayaan dengan bunga yang relatif rendah.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk melakukan diversifikasi sumber pendanaan. Dengan memiliki lebih banyak pilihan, pemerintah diharapkan tidak terlalu bergantung pada satu sumber pembiayaan, terutama ketika kondisi pasar sedang kurang menguntungkan.

"Dan Jepang kita manfaat juga yang bunga rendah, jadi kita bisa diversifikasi ke sumber pendanaan yang lebih murah, sehingga net pembayaran kita ke depan bisa ditekan ke bawah," ujarnya.

Meski demikian, pembiayaan bilateral dari negara lain bukan berarti pemerintah akan meninggalkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Pemerintah tetap akan menggunakan berbagai instrumen pembiayaan dengan mempertimbangkan biaya serta kondisi pasar.

Menurut Purbaya, semakin banyak alternatif pendanaan yang tersedia justru membuat posisi tawar pemerintah menjadi lebih kuat. Pemerintah dapat memilih sumber pembiayaan yang paling efisien ketika membutuhkan dana untuk menutup defisit APBN.

Baca Juga: Purbaya Bantah Pembelian Pertalite Bakal Diperketat, Tapi...

"Jadi sekarang kita punya bargaining position yang lebih baik karena kita bisa di berbagai negara, ya tidak hanya menjual secara umum ke depan," katanya.

Di sisi lain, Purbaya menilai struktur kepemilikan surat utang pemerintah saat ini juga memberikan bantalan terhadap gejolak pasar global. Sekitar 87,5% surat utang pemerintah disebut telah dipegang oleh investor domestik.

"87,5 dipegang domestic player, artinya stabilitas kita bisa terjaga," ujarnya.

Menurut Purbaya, kondisi tersebut membuat pasar surat utang Indonesia relatif tidak terlalu bergantung pada pergerakan investor asing. Ketika kepemilikan domestik lebih besar, risiko tekanan akibat arus modal keluar juga dinilai dapat lebih terjaga.

Purbaya juga menyoroti aliran pembayaran bunga utang kepada investor dalam negeri. Menurutnya, pembayaran tersebut tidak seluruhnya keluar dari perekonomian Indonesia karena kembali diterima oleh berbagai institusi dan pelaku ekonomi domestik.

"Yang penting lagi bunga yang saya bayar dibagi untuk tempat ibu kerja, bank, pemain pensiun, pemain domestic juga. Jadi itu secara tidak langsung juga memberi stimulus kepada ekonomi, jadi uangnya nggak lari ke luar, tapi masuk ke dalam," kata Purbaya.

Dengan strategi tersebut, pemerintah berupaya menjaga agar pembiayaan utang tetap terkendali. Diversifikasi sumber pendanaan menjadi salah satu cara untuk menekan biaya bunga, sementara basis investor domestik yang besar diharapkan dapat menjaga stabilitas pasar surat utang.

Selain itu, pemerintah masih berupaya memperkuat penerimaan negara dan memangkas belanja yang dinilai kurang produktif. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Bagi pemerintah, mencari sumber utang dengan bunga lebih murah bukan sekadar soal mendapatkan pinjaman baru. Strategi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi biaya pembiayaan negara sehingga tekanan pembayaran bunga terhadap APBN ke depan dapat ditekan.