Analisa menambahkan bahwa gejala fisik tersebut biasanya berlangsung cukup lama, bukan hanya beberapa hari.
"Kalau cuma dua hari mungkin karena virus atau kelelahan biasa. Tetapi kalau dua minggu sampai berbulan-bulan tidak membaik, itu perlu diperhatikan," kata Analisa.
Selain keluhan fisik, burnout juga dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Orang yang mengalami burnout biasanya menjadi lebih mudah marah, sensitif, atau merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
"Ketika sedang bekerja, kita jadi gampang marah, gampang kesal, atau tiba-tiba sedih dan menangis sendiri. Kadang orang lain melihat kita marah, tetapi kita sendiri tidak sadar bahwa emosi kita sedang tidak terkendali," ungkapnya.
Perubahan emosi ini, lanjut dia, biasanya terjadi secara konsisten dalam jangka waktu yang cukup panjang dan mulai mengganggu hubungan dengan orang-orang di sekitar.
Lebih lanjut, Analisa memaparkan bahwa tanda burnout berikutnya adalah perubahan perilaku dan menurunnya produktivitas kerja. Seseorang yang sebelumnya bersemangat bekerja bisa kehilangan motivasi dan merasa sulit menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari.
Analisa menjelaskan bahwa perubahan tersebut dapat terlihat dari pola tidur yang berubah drastis, nafsu makan yang meningkat atau menurun, hingga hilangnya keinginan untuk bekerja.
"Bahkan bisa sampai kehilangan desire untuk bekerja. Ada juga perubahan-perubahan perilaku yang cukup signifikan dibandingkan biasanya," jelasnya.
Menurut Analisa, burnout umumnya dapat dikenali melalui tiga aspek utama, yaitu gejala fisik, perubahan emosional, dan perubahan perilaku yang berlangsung secara konsisten.
"Jadi yang perlu diperhatikan adalah ketika ada perubahan fisik, emosional, dan perilaku yang signifikan, serta terjadi minimal dua minggu sampai enam bulan," pungkasnya.
Baca Juga: Kerja Tanpa Burnout, Inilah 5 Negara dengan Work–Life Balance Terbaik