Penampilan Erling Haaland di Piala Dunia 2026 sukses mencuri perhatian publik sepak bola dunia. Tak hanya berkat ketajamannya sebagai mesin gol, striker Norwegia itu juga dinilai memiliki mental yang membuatnya berbeda dari pemain lain.
Namun, menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Samanta Elsener, M.Psi., Psikolog, keunggulan Haaland berasal dari kemampuan mengendalikan fokus, emosi, hingga cara otaknya mengambil keputusan di lapangan.
Samanta menilai, banyak orang keliru jika menganggap Haaland hanya unggul karena postur tubuh atau faktor fisik semata.
Menurutnya, dari sudut pandang psikologi olahraga, cara kerja pikiran sang striker justru menjadi salah satu faktor utama yang membuatnya tampil begitu efektif.
"Stop deh bilang Erling Haaland itu cuma menang lucu atau menang fisik doang. Secara psikologi olahraga, isi kepala orang ini tuh benar-benar enggak normal menurutku. Kamu mesti tahu rahasianya," ungkap Samanta, sebagaimana Olenka kutip dari Instagram pribadinya, Senin (13/7/2026).
Samanta memaparkan, Haaland memiliki kemampuan mengendalikan fokus yang sangat baik. Saat berada di lapangan, pemain berusia 25 tahun itu tidak terus-menerus memaksakan konsentrasi selama 90 menit seperti kebanyakan pemain.
Sebaliknya, ia mampu mengatur kapan harus mengamati permainan secara menyeluruh dan kapan harus mengunci fokus pada momen yang tepat.
"Pernah lihat Haaland kayak menghilang di lapangan? Itu namanya control mind wandering. Otaknya enggak tegang nyari bola 90 menit kayak pemain biasa. Dia nge-scan lapangan pakai intuisi predatornya, tahu kapan harus zooming out dan boom! Begitu momentumnya datang, fokusnya langsung terkunci 100 persen," jelasnya.
Baca Juga: Psikolog: Pemimpin Masa Kini Harus Jadi Storyteller, Bukan Sekadar Bos
Selain itu, Samanta juga menyoroti kebiasaan selebrasi meditasi yang kerap dilakukan Haaland usai mencetak gol.
Menurutnya, gestur tersebut bukan sekadar gaya khas seorang pesepak bola, melainkan memiliki fungsi psikologis untuk membantu mengelola emosi.
"Terus kenapa dia jarang frustrasi kalau gagal? Lihat selebrasi meditasinya, itu bukan gaya-gayaan. Secara psikologis itu trick emotional reset. Dia nge-delete beban mental dan tekanan ratusan ribu suporter dalam hitungan detik," kata Samanta.
Dengan melakukan emotional reset, lanjutnya, Haaland mampu mengembalikan kondisi mentalnya ke situasi yang tenang sehingga tidak larut dalam tekanan maupun kegagalan.
Kondisi ini, lanjut Samanta, dikenal sebagai flow state, yakni fase ketika seseorang dapat menampilkan performa terbaik karena pikirannya tetap fokus dan bebas dari gangguan.
"Otaknya langsung balik ke flow state, kosong, tenang tapi mematikan. Dia sudah memvisualisasikan semua gol itu di dalam kepalanya sebelum bertanding. Makanya pas bola datang, otaknya enggak mikir lagi, tapi langsung eksekusi otomatis tanpa ragu," ungkapnya.
Menurut Samanta, kemampuan tersebut merupakan bentuk cognitive automation, yaitu proses ketika keterampilan yang telah dilatih berulang kali menjadi otomatis sehingga atlet dapat mengambil keputusan dengan cepat tanpa harus berpikir terlalu lama.
"Dan ini bukan cuma bakat, ini adalah cognitive automation level dewa," pungkasnya.
Baca Juga: Pilates dan Manfaatnya untuk Tubuh hingga Ketajaman Mental