Libur sekolah kerap menjadi momen yang dinantikan anak-anak. Namun, di balik waktu luang yang lebih panjang, terdapat risiko yang sering luput dari perhatian orang tua, yakni meningkatnya ketergantungan anak pada gawai dan berkurangnya aktivitas fisik.
Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, menilai masa liburan justru menjadi kesempatan penting bagi anak untuk lebih banyak bereksplorasi di luar ruangan. Menurutnya, anak membutuhkan ruang untuk bergerak bebas dan mencoba berbagai pengalaman baru guna membangun kemandirian serta ketangguhan mental.
"Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat Adventurous Play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali," ujar Saskhya dalam acara Community Playdate: Eksplorasi Tanpa Rasa Khawatir, Langkah Awal #BaikUntukAnak yang digelar Cap Kaki Tiga Anak di Jakarta.
Baca Juga: Gaya Hidup Sehat Anak Menurut Dokter Ahli Endokrinologi
Ia menjelaskan, pengalaman menghadapi tantangan secara langsung menjadi bekal penting bagi anak untuk belajar mengambil keputusan, menghadapi ketidakpastian, hingga bangkit saat mengalami kegagalan.
Menurut Saskhya, terlalu banyak larangan dengan alasan melindungi anak justru dapat memberikan pesan bahwa dunia merupakan tempat yang menakutkan dan sulit dihadapi. Sebaliknya, memberikan kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi dapat membantu membangun rasa percaya diri dan ketahanan mental mereka.
Menariknya, kebiasaan bermain aktif juga disebut memiliki manfaat bagi kesehatan mental anak. Saskhya mengungkapkan bahwa sebuah survei yang dilakukan University of Exeter di Inggris terhadap 2.500 orang tua menunjukkan anak yang terbiasa melakukan permainan fisik yang menantang memiliki tingkat gejala kecemasan dan depresi yang lebih rendah.
Baca Juga: 8 Tempat Liburan Ramah Anak di Bogor, Cocok Dikunjungi saat Libur Sekolah
"Ketenangan ibu itu menular dan sangat krusial. Kalau kita terlalu mudah cemas atau sedikit-sedikit melarang, anak justru akan menyembunyikan rasa sakit atau lelahnya karena takut disuruh berhenti bermain," jelasnya.
Lebih lanjut, Saskhya mengatakan orang tua tidak harus selalu berada sangat dekat dengan anak saat bermain. Ia menyarankan penerapan konsep supervision partnership, yakni orang tua tetap hadir sebagai tempat aman bagi anak, tetapi tetap memberikan ruang bagi mereka untuk bermain secara mandiri.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya kepekaan orang tua terhadap kondisi fisik anak selama beraktivitas di luar ruangan. Pasalnya, kemampuan anak untuk mengenali sinyal tubuhnya sendiri belum berkembang secara sempurna.
Baca Juga: In This Economy… Ini Sederet Aktivitas Liburan Sekolah Seru Tanpa Bikin Kantong Jebol!
Menurutnya, rasa senang dan lonjakan adrenalin saat bermain sering kali membuat anak tidak menyadari bahwa tubuh mereka sebenarnya sudah lelah atau mulai mengalami dehidrasi.
"Ketika anak mendadak rewel, lesu, atau mudah marah saat bermain, jangan buru-buru melabeli mereka nakal. Bisa jadi itu adalah cara tubuh mereka memberi sinyal bahwa mereka membutuhkan bantuan atau mulai mengalami dehidrasi," ujarnya.
Ia menambahkan, alih-alih langsung menghentikan aktivitas bermain, orang tua dapat mengajak anak beristirahat sejenak di tempat yang teduh sambil memberikan asupan cairan yang cukup sebelum kembali beraktivitas.
Pandangan tersebut sejalan dengan fenomena yang kerap terjadi selama musim liburan sekolah. Sejumlah studi menunjukkan bahwa saat rutinitas sekolah berhenti, anak cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar. Kondisi ini dikenal sebagai Structured Days Hypothesis, yakni situasi ketika hilangnya jadwal teratur membuat anak menjadi lebih pasif.
Baca Juga: Libur Sekolah Tiba, Ini 3 Aktivitas Seru Bersama Keluarga yang Menyenangkan dan Ramah di Kantong
Bahkan, sejumlah survei mencatat durasi screen time anak dapat meningkat hingga dua setengah jam per hari selama liburan. Di saat yang sama, aktivitas fisik dan waktu tidur mereka justru mengalami penurunan. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak usia sekolah untuk tetap aktif bergerak setidaknya 60 menit setiap hari.
Melihat kondisi tersebut, Cap Kaki Tiga Anak menggelar kegiatan Community Playdate: Eksplorasi Tanpa Rasa Khawatir, Langkah Awal #BaikUntukAnak sebagai upaya mengajak orang tua memberikan ruang bagi anak untuk lebih aktif bereksplorasi.

Senior Brand Manager Cap Kaki Tiga Anak, Jesica Christianty, mengatakan banyak orang tua sebenarnya ingin mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai dengan mengajak mereka bermain di luar. Namun, kekhawatiran terhadap cuaca dan kondisi kesehatan anak sering kali menjadi penghalang.
"Kami sangat mengerti dilema yang dihadapi para ibu saat liburan sekolah tiba. Para ibu sadar betul anaknya butuh jeda dari gadget dan ingin mereka aktif bereksplorasi di luar ruangan. Namun pada saat yang sama, kekhawatiran bahwa anak akan drop atau jatuh sakit akibat cuaca yang tidak menentu kerap kali menghantui. Kegelisahan keseharian inilah yang mendorong Cap Kaki Tiga Anak hadir untuk memberikan ketenangan penuh bagi para ibu, sehingga anak-anak bisa bebas bereksplorasi tanpa rasa khawatir," kata Jesica.
Menurutnya, memberikan kebebasan bagi anak untuk bermain dan bereksplorasi merupakan bagian penting dalam membentuk karakter mereka di masa depan.
"Kampanye ini menjadi pengingat bahwa fondasi mental yang kuat tidak dibentuk di dalam ruangan. Anak-anak sangat membutuhkan kebebasan untuk berlari, memanjat, berinteraksi dengan alam, dan belajar memecahkan masalahnya sendiri. Dengan dukungan serta persiapan matang dari orang tua, kegiatan yang dilakukan hari ini akan menjadi bekal berharga untuk masa depan mereka kelak," ujarnya.
Sebagai penutup, Saskhya kembali menegaskan bahwa tujuan utama orang tua bukanlah menghilangkan seluruh risiko dalam kehidupan anak, melainkan membekali mereka agar siap menghadapinya.
"Langkah awal #BaikUntukAnak bukan menghapus semua risiko dari dunia anak, tapi membekali diri kita agar berani melepas. Anak menjadi tangguh bukan karena dilindungi dari segala hal, melainkan karena dipercaya, sambil tahu ibunya selalu bisa ia jangkau," tutup Saskhya.