Nama Pontjo Sutowo mendadak menjadi sorotan publik di tengah proses eksekusi Hotel Sultan, di kawasan Gelora Bung Karno (GBK).

Hotel mewah itu mulai dieksekusi pada Kamis (17/6/2026) yang berakhir ricuh. Puluhan orang mengalami luka setelah bentrok dengan aparat.

Keberadaan Hotel Sultan memang sedang dalam sengketa dengan pemerintah. Proses hukumnya sudah berlangsung bertahun-tahun. Kekinian hotel tersebut mulai diambil alih negara. 

Baca Juga: Kuasa Hukum Mundur, Kebohongan Sony Sonjaya di Kasus Korupsi MBG Langsung Dibongkar

Hotel Sultan dikelola oleh PT Indobuildco yang dikomandoi oleh Pontjo Sutowo putra konglomerat Ibnu Sutowo yang sebelumnya mengelola hotel tersebut.

Profil Pontjo Sutowo

Pontjo Sutowo bukan orang sembarangan lantaran karier panjangnya di dunia bisnis Tanah Air. Selain berkecimpung di dunia bisnis nama pria kelahiran Palembang pada 17 Agustus 1950 itu juga harum di berbagai organisasi pengusaha dan perhotelan nasional. 

Pontjo merupakan salah satu pengusaha kawakan yang sudah memulai bisnis pada usia 20an tahun. 

Tak main-main usaha pertama yang ia lakoni adalah industri galangan kapal lewat PT Adiguna Shipyard yang dirintis bareng bareng saudaranya Adiguna Sutowo. 

Bersama saudaranya Pontjo sukses besar membangun bisnisnya. Mereka bahkan mampu memproduksi 500 kapal tanker berbobot 3.500 DWT. Padahal di awal perjalanan perusahaan itu hanya mampu memproduksi tongkang berukuran kecil.

Sukses di bisnis galangan kapal, Pontjo mulai keluar dari zona nyaman dengan terjun ke bisnis perhotelan sekaligus menjadi awal mula perjalanannya mengelola Hotel Sultan.

Bisnis perhotelan mulai digeluti Pontjo pada 1982. Ia mengambil alih pengelolaan hotel Sultan yang ketika itu masih bernama Hotel Hilton. Pengambilanalih itu dilakukan ketika hotel yang dibangun pada 1976 terkendala dana operasional.

Nama Pontjo langsung melambung setelah mengambil alih pengelolaan hotel tersebut. Ia kemudian terpilih menjadi ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pada 1986. Tiga tahun kemudian, Pontjo dipercaya menjadi ketua umum PHRI dan menjabat pada periode 1989 hingga 2001.

Selain itu Pontjo juga berkontribusi besar dalam mendirikan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Organisasi itu dirikannya bareng Abdul Latief pada Pada 1972.

Pada masa awal pembentukan organisasi tersebut, Pontjo menjabat sebagai ketua sektor banking and finance. Karier organisasinya terus berkembang hingga akhirnya dipercaya sebagai Ketua Umum Hipmi untuk masa bakti 1979-1983.

Latar Belakang Pendidikan

Pontjo memulai pendidikannya di kampung halamannya sebelum pindah ke Jakarta pada 1956 mengikuti penugasan sang ayah yang ketika itu bertugas di Staf Umum Angkatan Darat. Pendidikan dasar ditempuh di Sekolah Rakyat (SR) Santo Xaverius, Palembang.

Di Jakarta, Pontjo melanjutkan pendidikannya di Perguruan Cikini hingga jenjang SMA. Pada masa sekolah tersebut, ia sempat menjadi adik kelas Megawati Soekarnoputri.

Selanjutnya, Pontjo berpindah ke SMA Katolik Pangudi Luhur dan menyelesaikan pendidikan menengahnya di sekolah tersebut.

Baca Juga: Jadi Kontrak Politik Prabowo, Seberapa Besar Peluang MBG Dibubarkan?

Setelah menamatkan pendidikan menengah, Pontjo Sutowo melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1969 dengan mengambil jurusan teknik mesin.

Namun, pendidikannya di ITB tidak selesai karena alasan kesehatan. Setelah itu, ia meneruskan pendidikan tinggi di Fakultas Teknik Universitas Trisakti.