Nama Letjen TNI (Purn) Lodewyk Freidrich Paulus Pusung tengah menjadi sorotan publik. Mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) itu dikabarkan dicopot dari jabatannya oleh Presiden Prabowo Subianto dan ditahan Kejaksaan Agung terkait dugaan kasus korupsi dalam tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kabar tersebut cukup mengejutkan karena Lodewyk selama ini dikenal sebagai sosok dengan rekam jejak panjang di dunia militer, politik, dan pemerintahan.
Purnawirawan jenderal TNI AD itu pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, mulai dari perwira Kopassus, Pangdam I/Bukit Barisan, hingga Wakil Kepala BGN.
Di tengah mencuatnya kasus yang menyeret namanya, publik pun mulai menyoroti perjalanan hidup dan karier Lodewyk Pusung.
Lantas, siapa sebenarnya sosok Lodewyk Pusung dan bagaimana jejak karier, kekayaan, hingga kiprahnya di dunia politik dan pemerintahan? Dikutip dari berbagai sumber, Kamis (4/6/2026), berikut Olenka ulas profil lengkapnya.
Latar Belakang dan Pendidikan
Lodewyk Freidrich Paulus Pusung lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1957. Masa pendidikan dasar hingga SMP ditempuh di kota kelahirannya sebelum melanjutkan pendidikan menengah atas di Palu, Sulawesi Tengah.
Selain dikenal sebagai perwira militer, Lodewyk memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan Prancis yang fasih. Kemampuan tersebut menjadi salah satu modal penting dalam perjalanan kariernya, terutama ketika menjalankan berbagai tugas strategis dan menjalin kerja sama internasional.
Dikutip dari Detikcom, pendidikan militernya dimulai di Akademi Militer dan kemudian dilanjutkan dengan berbagai jenjang pendidikan strategis, seperti Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI), hingga Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) Lemhannas RI. Selain itu, ia juga tercatat mengikuti Susarcab Infanteri, Selapa I Infanteri, dan Diklapa II Infanteri sebagai bagian dari pengembangan karier militernya.
Awal Karier Militer
Karier militer Lodewyk dimulai setelah lulus dari Akademi Militer. Dikutip dari Viva.co.id, ia mengawali pengabdian di Komando Pasukan Khusus (Kopassus), salah satu satuan elite TNI Angkatan Darat yang dikenal memiliki standar operasi dan kepemimpinan tinggi.
Di Korps Baret Merah, Lodewyk menapaki karier dari level bawah. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Peleton (Danton) Kopassandha sebelum dipercaya menduduki berbagai posisi penting. Pengalaman tersebut menjadi fondasi yang mengantarkannya menempati sejumlah jabatan strategis di lingkungan TNI.
Jejak Karier
Karier Lodewyk berkembang pesat seiring bertambahnya pengalaman dan tanggung jawab yang diemban. Salah satu posisi prestisius yang pernah dijabatnya adalah Komandan Detasemen Khusus 81 Penanggulangan Teror (Sat-81/Gultor) Kopassus pada 2001. Satuan ini dikenal sebagai unit antiteror elite yang memiliki peran penting dalam penanganan ancaman keamanan berisiko tinggi.
Sepanjang kariernya, Lodewyk dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis, mulai dari Danyonif 203/Arya Kemuning, Dandim 0505/Jakarta Timur, Asisten Operasi Kasdam IX/Udayana, Danrem 142/Tatag, hingga menjadi dosen di Sesko TNI.
Kariernya semakin menanjak ketika menjabat Inspektur Kostrad pada 2013, Kepala Staf Kodam VI/Mulawarman pada 2014, Panglima Divisi Infanteri 1 Kostrad pada 2015, serta Panglima Kodam I/Bukit Barisan pada tahun yang sama.
Jabatan terakhirnya di lingkungan TNI adalah Asisten Operasi Panglima TNI pada 2017, salah satu posisi paling strategis yang berperan dalam perencanaan dan pengendalian operasi militer nasional.
Dikutip dari Detikcom, selama masa pengabdiannya, Lodewyk juga pernah menjalankan berbagai operasi di wilayah strategis Indonesia seperti Timor Timur, Papua, dan Aceh. Ia turut memperoleh pengalaman internasional melalui sejumlah penugasan luar negeri yang memperkaya kapasitas kepemimpinannya.
Baca Juga: Daftar Kekayaan Dadan Hindayana, Mantan Kepala BGN dengan Harta Rp9 Miliar