Muhammad Asrorun Ni’am Sholeh merupakan salah satu birokrat sekaligus akademisi Indonesia yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya sebagai pemerhati anak. 

Ia banyak terlibat dalam kajian-kajian dan pembuatan undang-undang tentang anak.

Saat ini aktivis NU kelahiran 31 Mei 1976 itu menjabat Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Baca Juga: Kenapa Film Pesta Babi Harus Dilarang?

Jauh sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dua periode berturut-turut setelah sebelumnya menjabat Wakil Ketua KPAI periode 2011–2014. 

Kepedulian Ni’am terhadap anak-anak Indonesia bukan demi jabatan apapun di lembaga-lembaga pemerintahan, itu hanya bonus. Kerja kerasnya menjadi pemerhati anak adalah ketulusan yang murni dari lahir dari hati.

Ni’am bisa saja memilih jalan hidup yang jauh lebih mudah ketimabang harus berjibaku mengrusi anak-anak Indonesia. 

Ia merupakan aktivis 1998 yang turut memainkan peran penting dalam menumbangkan rezim orde baru, dimana kawan-kawan seperjuangannya ketika itu langsung terjun ke dunia politik dan mendapatkan berbagai jabatan penting di sana.

Tetapi tidak bagi Ni’am, alih-alih memikirkan karier politik, ia justru memilih putar haluan dan kembali ke kampus melanjutkan pendidikan pascasarjana.

Dari Tanah Air Ni’am terbang jauh ke negeri orang, ia ke Mesir melanjutkan sekolah S2 di Al-Azhar Mesir pada umurnya yang ke 23 tahun.

Rekam jejak Ni’am di kampus memang sudah mentereng sejak menempuh pendidikan S1. 

Selain terlibat langsung dalam gerakan 1998 ia juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan bahkan terlibat langsung dalam mendirikan forum kajian Lembaga Studi Agama dan Sosial (elSAS). 

Lembaga itu bergerak di bidang pengkajian dan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan kreativitas anak bangsa di bidang agama, sosial, politik, dan budaya Indonesia.

Hal ini pula yang membuat Ni’am semakin mantap memilih jalan hidup sebagai pemerhati anak, sebuah peran mulia yang tidak semua orang mau melakoninya.

Di kemudian hari Ni’am lalu mendirikan lembaga pendidikan bagi anak-anak yang secara akademik potensial dengan nama Al- Nahdlah Islamic Boarding School yang terletak di Depok. Lembaga itu bertujuan memberikan kesempatan pendidikan untuk anak anak dari pedesaan.

Menggodok Regulasi Anak

Keseriusan Ni’am sebagai pemerhati anak tidak berhenti disitu saja. Ia tak sekadar berdiri dalam wadah-wadah yang berkaitan dengan anak. Dengan latar belakang pendidikan mumpuni dan pengalaman panjang sebagai aktivis Ni’am berupaya masuk dalam lingkaran pembuat kebijakan.

2005 harapan itu benar kejadian, Ni’am yang berkapasitas sebagai Tenaga Ahli di Komisi X DPR RI ketika itu turut terlibat dalam penyusunan kebijakan yang terkait dengan pendidikan, termasuk di dalamnya pendidikan anak.

Perlu diketahui Komisi X DPR RI membidangi masalah pendidikan, olahraga dan kepemudaan, kebudayaan dan pariwisata serta perpustakaan. 

Lewat komisi ini Ni’am banyak terlibat dalam menggodok berbagai regulasi terkait anak ia bahkan pernah terlibat langsung menjadi Koordinator Tim Ahli pengawasan pelaksanaan UU Sisdiknas, Koordinator Tim Ahli penyusunan UU Perpustakaan dan UU Perfilman.

Baca Juga: Pemeran Film Pesta Babi Mengaku Dijebak, Dandhy Laksono: Kita Tidak Tahu Apa yang Sedang Dialami Mama Yasinta Moiwend

Berkat berbagai jasa besarnya karier Ni’am turut menanjak yang mengantarnya ke pucuk pimpinan KPAI selama bertahun-tahun dan mengantarnya ke Kemenpora hingga sekarang ini.