Di tengah semakin banyaknya pilihan produk nutrisi anak di pasaran, orang tua diimbau untuk tidak hanya terpaku pada klaim yang tertera di bagian depan kemasan atau sekadar membaca tabel informasi nilai gizi.

Kebiasaan memeriksa daftar komposisi dinilai menjadi langkah penting untuk memahami kualitas produk secara lebih menyeluruh sebelum diberikan kepada anak.

Pesan tersebut disampaikan Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang–Pediatri Sosial, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K). Menurutnya, pemenuhan nutrisi anak tidak hanya ditentukan oleh jumlah asupan, tetapi juga kualitas dan keseimbangan zat gizi yang dikonsumsi sejak dini.

Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi masa yang sangat menentukan bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta pembentukan sistem imun anak.

Pada fase ini, anak membutuhkan kombinasi nutrisi yang seimbang, mulai dari energi, protein, lemak esensial, zat besi, zinc, vitamin, hingga berbagai mineral penting lainnya. Selain asupan nutrisi yang memadai, stimulasi yang tepat juga diperlukan agar tumbuh kembang anak berlangsung optimal.

Karena itu, Prof. Rini mengimbau orang tua untuk tidak hanya memperhatikan klaim manfaat yang ditonjolkan pada kemasan, tetapi juga membaca daftar komposisi secara menyeluruh. Dari daftar tersebut, orang tua dapat mengetahui bahan utama yang digunakan, kandungan tambahan, serta menilai apakah produk sesuai dengan kebutuhan anak.

"Klaim dan kandungan tambahan yang ditampilkan pada kemasan sering kali hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan produk. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada informasi yang ada di bagian depan kemasan, tetapi juga membaca dengan cermat dan memahami komposisi utama produk tersebut," terang Prof. Rini, dikutip dari keterangan resminya, Jumat (3/7/2026).

Menurut Prof. Rini, salah satu hal pertama yang perlu diperhatikan saat membaca daftar komposisi adalah urutan bahan. Bahan yang tercantum pada posisi paling awal umumnya merupakan komponen dengan jumlah paling banyak di dalam produk.

“Informasi ini dapat membantu orang tua memahami bahan utama yang sebenarnya digunakan, bukan sekadar melihat kandungan tertentu yang ditampilkan sebagai keunggulan produk,” tuturnya.

Pada produk nutrisi berbasis susu, misalnya, kata Prof. Rini, orang tua juga dapat mencermati jenis bahan dasar yang digunakan. Jika susu segar tercantum sebagai komposisi utama, hal tersebut menunjukkan bahwa produk menggunakan susu sapi segar sebagai bahan baku utama.

“Dengan proses pengolahan yang lebih ringkas, kualitas nutrisi alami susu diharapkan tetap terjaga karena tidak mengalami paparan panas tinggi secara berulang,” ujar Prof. Rini.

Sebaliknya, kata Prof. Rini, apabila daftar komposisi mencantumkan susu bubuk, susu rekonstitusi, atau susu rekombinasi, orang tua perlu memahami bahwa bahan baku dan proses pengolahannya berbeda.

Dipaparkan Prof. Rini, susu rekonstitusi maupun rekombinasi umumnya berasal dari susu bubuk yang dicampur kembali dengan air dan komponen lain sebelum diproses menjadi produk akhir.

Ia lantas menjelaskan bahwa sejumlah komponen penting dalam susu, seperti protein bioaktif, vitamin, dan enzim tertentu, bersifat sensitif terhadap proses pemanasan maupun pengolahan berulang.

“Oleh sebab itu, memahami sumber bahan baku dan proses produksi menjadi bagian penting dalam memilih produk nutrisi anak,” ungkapnya.

Baca Juga: Masuk Pasar Indonesia, AceKid Hadirkan Inovasi Susu Formula Berbasis Natural Whole Milk

Selain bahan utama, lanjut Prof. Rini, orang tua juga disarankan lebih teliti mengenali gula tambahan yang tercantum dalam daftar komposisi. Gula tambahan dapat ditulis dengan berbagai nama, seperti sukrosa, glukosa, fruktosa, sirup jagung, maupun maltodekstrin.

“Kandungan tersebut berbeda dengan laktosa yang merupakan gula alami dalam susu. Meski demikian, jenis gula, letaknya dalam daftar komposisi, serta frekuensi konsumsi produk tetap perlu diperhatikan agar asupan gula anak tidak berlebihan,” paparnya,

Di samping daftar komposisi, informasi nilai gizi tetap menjadi bagian penting yang perlu dibaca. Tabel ini memberikan informasi mengenai kandungan energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral dalam setiap sajian.

Namun, Prof. Rini mengingatkan agar orang tua tidak membaca informasi nilai gizi secara terpisah dari daftar komposisi karena keduanya saling melengkapi dalam memberikan gambaran menyeluruh mengenai kualitas suatu produk.

Tak hanya itu, Prof. Rini juga mengingatkan bahwa paparan gula tambahan sejak usia dini perlu dikelola secara bijak.Selain meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan obesitas, kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman dengan rasa manis secara terus-menerus dapat membentuk preferensi rasa anak

“Anak yang terbiasa mengonsumsi makanan manis cenderung lebih sulit menerima makanan dengan rasa alami, seperti sayuran, buah-buahan, maupun sumber nutrisi sehat lainnya. Kondisi ini berpotensi memengaruhi pola makan hingga usia dewasa,” tegas Prof. Rini.

Terakhir, Prof. Rini juga menegaskan bahwa memilih produk nutrisi anak dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yakni membaca daftar komposisi, memahami bahan utama, mencermati informasi nilai gizi, membatasi produk dengan gula tambahan yang tinggi, serta menyesuaikan pilihan dengan usia dan kebutuhan anak.

"Nutrisi terbaik bagi anak tetap perlu dibangun melalui variasi makanan, pola makan seimbang, dan lingkungan makan yang tepat," tegas Prof. Rini.

Ia juga mengingatkan bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi, terutama pada awal kehidupan.

“Penggunaan produk nutrisi anak sebaiknya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan masing-masing anak serta dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan jika diperlukan agar pemenuhan nutrisi berlangsung secara tepat, aman, dan mendukung tumbuh kembang yang optimal,” tandasnya.

Baca Juga: Cerita Denny Sumargo soal Memilih Susu Formula dan Gaya Parenting untuk Sang Putri