Persepsi publik terhadap kondisi ekonomi nasional menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkapkan hampir separuh masyarakat Indonesia kini menilai kondisi ekonomi sedang berada dalam situasi yang buruk.

Sebanyak 49,4 persen responden menyatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini buruk atau sangat buruk. Rinciannya, 37,9 persen menilai ekonomi "buruk", sementara 11,5 persen menyebut "sangat buruk".

Sebaliknya, hanya 15,7 persen responden yang menilai kondisi ekonomi nasional berada dalam kategori baik atau sangat baik. Adapun 33,9 persen lainnya menganggap situasi ekonomi saat ini berjalan biasa saja.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan penilaian negatif terhadap ekonomi kini bukan lagi sekadar pandangan sebagian kecil masyarakat, melainkan telah menjadi persepsi mayoritas.

Yang menarik, lonjakan sentimen negatif ini terjadi dalam waktu relatif singkat. Pada survei SMRC yang dilakukan pada November 2025, hanya 22,7 persen responden yang menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk.

Baca Juga: Gubernur BI Nilai Ketidakpastian Global Meningkat, Pertumbuhan Ekonomi Dunia Masih Akan Melemah

Angka tersebut meningkat menjadi 31,7 persen pada periode Februari-Maret 2026, sebelum akhirnya melonjak tajam menjadi 49,4 persen pada Juli 2026.

Sebagai perbandingan, sentimen positif terhadap ekonomi nasional pada November 2025 masih berada di kisaran 40 persen. Artinya, dalam kurun sembilan bulan, terjadi pergeseran signifikan dari optimisme menuju kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi.

Tak hanya itu, survei juga menemukan bahwa 45,8 persen responden merasa kondisi ekonomi Indonesia saat ini lebih buruk dibandingkan satu tahun lalu. Sementara itu, hanya 19,7 persen yang menilai situasi ekonomi mengalami perbaikan.

Baca Juga: Data Sensus Ekonomi 2026 Perkuat Penyusunan Kebijakan Ketenagakerjaan

Memburuknya persepsi ekonomi turut beriringan dengan penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam survei yang sama, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah tercatat berada di angka 51 persen, lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Sentimen serupa juga terlihat dalam penilaian masyarakat terhadap kondisi politik nasional. Hanya 13,5 persen responden yang menilai situasi politik Indonesia saat ini berada dalam kondisi baik atau sangat baik.

Survei SMRC dilaksanakan pada 5-19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 responden yang merupakan warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Pengambilan sampel dilakukan secara acak menggunakan kombinasi metode wawancara tatap muka dan telepon, dengan margin of error sebesar ±3,7 persen.

Temuan ini menjadi sinyal bahwa kondisi ekonomi masih menjadi perhatian utama masyarakat dan berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah apabila tidak segera direspons melalui kebijakan yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.