Konsep makan sehat sering kali terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya masih banyak yang keliru memahaminya.

Terkait hal itu, Dokter sekaligus Ahli Gizi Masyarakat, DR. dr. Tan Shot Yen,M.hum., menekankan bahwa kunci pola makan sehat bukan sekadar kenyang atau terlihat 'aman' saat dikonsumsi, melainkan bagaimana dampaknya bagi tubuh dalam jangka panjang.

dr. Tan memaparkan bahwa prinsip yang seharusnya menjadi pegangan adalah B2SA, yaitu beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Namun, makna 'aman' sendiri sering disalahartikan.

Menurutnya, keamanan pangan tidak berhenti pada tidak adanya risiko keracunan sesaat.

“Yang namanya B2SA beragam, bergizi, seimbang, seimbang tapi termasuk sehat ya dan A-nya adalah aman. Aman itu artinya kalau dimakan sekarang nggak jadi keracunan, tapi Insyaallah aman juga kalau dimakan terus-menerus tidak menyebabkan obesitas, tidak menyebabkan penyakit tidak menular (PTM)," ungkap , dikutip dari laman Instagram pribadinya, Jumat (26/3/2026).

"Buat apa aman dimakan sekarang, tapi kalau kecanduan malah jadi masalah di kemudian hari,” sambung dr. Tan.

Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa makanan yang benar-benar aman adalah yang tidak memicu penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, atau gangguan metabolik ketika dikonsumsi secara rutin.

Dengan kata lain, keamanan pangan harus dilihat sebagai investasi kesehatan jangka panjang.

Baca Juga: Kasus GERD Meningkat Usai Lebaran, Ini Pemicunya Menurut Dokter Ahli

Lebih lanjut, dr. Tan menegaskan bahwa pangan ideal adalah yang memenuhi seluruh prinsip B2SA.

“Pangan itu harusnya beragam, bergizi, seimbang (sehat), aman. Yaitu makanan dan minuman yang kalau dimakan terus-menerus tidak menyebabkan obesitas dan penyakit tidak menular,” ujarnya.

Dalam praktik sehari-hari, konsep ini sebenarnya tidak rumit. Contoh paling sederhana adalah makanan berbasis 'real food', yaitu bahan pangan yang masih menyerupai bentuk aslinya.

Masakan rumahan menjadi representasi terbaik karena umumnya tidak mengandung tambahan berlebihan seperti pemanis buatan, garam tinggi, minyak berlebih, maupun bahan kimia lain.

Sebaliknya, dr. Tan mengingatkan tentang meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF), yaitu produk pangan kemasan yang telah melalui banyak tahapan pengolahan dan biasanya mengandung tambahan gula, garam, lemak, serta bahan pengawet.

"Konsumsi berlebihan jenis makanan ini berisiko mengganggu kesehatan jika dijadikan kebiasaan," tegasnya.

Karena itu, ia menilai penting adanya transparansi informasi pada produk pangan kemasan. Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah pemberian label di bagian depan kemasan yang menunjukkan kandungan tinggi gula, garam, atau lemak.

"Tujuannya agar masyarakat lebih sadar dan mampu membuat pilihan yang lebih sehat," pungkasnya.

Baca Juga: Usai Lebaran Jangan Abaikan Kesehatan, Ini Pesan Dokter Ahli