Hidung meler, bersin berkali-kali, hingga mata berair kerap dianggap sebagai tanda pilek. Tak heran jika banyak orang langsung mengonsumsi obat flu untuk meredakan gejala tersebut. Namun, tahukah Anda bahwa keluhan serupa juga bisa menjadi tanda alergi?
Meski sama-sama menyerang hidung dan saluran pernapasan, pilek dan alergi sebenarnya memiliki penyebab serta karakteristik yang berbeda. Pilek disebabkan oleh infeksi virus, sedangkan alergi merupakan reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya.
Mengenali perbedaan keduanya penting agar tidak keliru memilih pengobatan. Sebab, gejala yang terus berulang belum tentu menandakan seseorang sedang terserang flu atau pilek.
Dikutip dari Times of India, Kamis (5/11/2026), sejumlah dokter menjelaskan 5 tanda yang dapat membantu membedakan pilek dan alergi, sekaligus kapan seseorang perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
1. Perhatikan durasi dan penyebab gejala
Perbedaan paling mendasar antara pilek dan alergi terletak pada pemicunya. Pilek atau common cold merupakan infeksi virus pada saluran pernapasan bagian atas. Lebih dari 200 jenis virus diketahui dapat menyebabkan kondisi ini.
Umumnya, gejala pilek memburuk dalam dua hingga tiga hari pertama, kemudian berangsur membaik. Pilek biasanya berlangsung sekitar 7–10 hari.
"Pilek pada umumnya berlangsung antara 7–10 hari," jelas Dr. Bharesh Dedhia, Konsultan Perawatan Intensif di P.D. Hinduja Hospital and Medical Research Centre, Khar, Mumbai.
Sementara itu, alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu, seperti tungau debu, serbuk sari, jamur, dan ketombe hewan peliharaan.
Menurut Dr. D. Dakshina Murthy, dokter spesialis THT dan bedah kepala-leher sekaligus profesor dan kepala departemen di GMC, VZM, gejala rinitis alergi dapat berlangsung selama seseorang masih terpapar alergen pemicunya. Gejalanya bisa muncul secara musiman maupun sepanjang tahun.
2. Bersin berulang dan hidung gatal mengarah pada alergi
Bersin merupakan gejala yang bisa muncul pada pilek maupun alergi. Namun, pola kemunculannya dapat menjadi petunjuk untuk membedakan kedua kondisi tersebut.
Pada alergi, seseorang biasanya mengalami serangan bersin berulang, terutama setelah terpapar debu, serbuk sari, atau bulu hewan peliharaan. Keluhan ini juga sering disertai rasa gatal pada hidung, tenggorokan, maupun mata.
"Salah satu gejala alergi yang paling mudah dikenali adalah bersin yang terjadi terus-menerus," ungkap Dr. Dedhia.
Sebaliknya, pilek lebih sering disertai keluhan lain, seperti sakit tenggorokan, batuk, dan tubuh terasa lelah.
Baca Juga: Mengapa Batuk dan Pilek Bisa Berlangsung hingga Berminggu-minggu?
3. Perhatikan warna dan konsistensi cairan hidung
Jenis cairan yang keluar dari hidung juga dapat memberikan petunjuk, meskipun tidak bisa menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis.
Pada alergi, cairan hidung umumnya encer dan bening. Kondisi ini bisa berlangsung selama berhari-hari, terutama jika disertai bersin berulang dan rasa gatal.
Dr. Murthy menjelaskan bahwa produksi cairan hidung akibat alergi dapat terus terjadi selama seseorang masih terpapar alergen.
Sementara itu, pada pilek, kondisi hidung meler dan tersumbat dapat berubah seiring perkembangan infeksi. Konsistensi lendir juga bisa mengalami perubahan.
Karena itu, cairan hidung yang bening tidak selalu berarti seseorang mengalami alergi. Gejala lain dan pola kemunculannya tetap perlu diperhatikan.
4. Demam dan nyeri tubuh lebih sering menandakan infeksi
Salah satu pembeda penting lainnya adalah munculnya demam dan nyeri tubuh.
Alergi umumnya tidak menyebabkan demam maupun nyeri otot. Sebaliknya, kedua keluhan tersebut lebih sering berkaitan dengan infeksi virus, termasuk pilek.
Namun, jika bersin berulang disertai mata merah, berair, dan terasa gatal, kondisi tersebut bisa mengarah pada konjungtivitis alergi.
Waktu munculnya gejala juga perlu diperhatikan. Apabila keluhan berulang setiap kali membersihkan rumah, berada di tempat berdebu, berdekatan dengan hewan peliharaan, atau pada musim tertentu, kemungkinan alergi lingkungan patut dipertimbangkan.
5. Kenali kapan harus memeriksakan diri ke dokter
Gejala pilek atau alergi yang terus berulang sebaiknya tidak dianggap sebagai gangguan ringan. Terlebih jika bersin, hidung tersumbat, dan mata berair sudah mengganggu tidur maupun aktivitas sehari-hari.
Dr. Dedhia mengingatkan bahwa alergi tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala karena keluhannya sering kali menyerupai infeksi virus atau kondisi kesehatan lainnya.
Dr. Murthy juga menyarankan pemeriksaan medis apabila gejala terus berlanjut, terutama jika tidak menunjukkan perbaikan setelah dua minggu.
Kesulitan bernapas, dehidrasi, serta demam berkepanjangan menjadi tanda lain yang memerlukan perhatian medis segera.
Dokter dapat melakukan evaluasi lebih lanjut atau menyarankan tes alergi sesuai dengan gejala dan pola kemunculannya. Dengan begitu, penyebab keluhan dapat diketahui dan penanganan diberikan secara tepat.
Hal lain yang tidak kalah penting, antibiotik tidak boleh dikonsumsi sembarangan untuk mengatasi pilek. Pasalnya, pilek disebabkan oleh virus sehingga tidak dapat disembuhkan menggunakan antibiotik.
Baca Juga: Lupus atau Alergi? Dokter Ahli Jelaskan Perbedaan Gejala dan Pemeriksaannya