3. Perhatikan warna dan konsistensi cairan hidung
Jenis cairan yang keluar dari hidung juga dapat memberikan petunjuk, meskipun tidak bisa menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis.
Pada alergi, cairan hidung umumnya encer dan bening. Kondisi ini bisa berlangsung selama berhari-hari, terutama jika disertai bersin berulang dan rasa gatal.
Dr. Murthy menjelaskan bahwa produksi cairan hidung akibat alergi dapat terus terjadi selama seseorang masih terpapar alergen.
Sementara itu, pada pilek, kondisi hidung meler dan tersumbat dapat berubah seiring perkembangan infeksi. Konsistensi lendir juga bisa mengalami perubahan.
Karena itu, cairan hidung yang bening tidak selalu berarti seseorang mengalami alergi. Gejala lain dan pola kemunculannya tetap perlu diperhatikan.
4. Demam dan nyeri tubuh lebih sering menandakan infeksi
Salah satu pembeda penting lainnya adalah munculnya demam dan nyeri tubuh.
Alergi umumnya tidak menyebabkan demam maupun nyeri otot. Sebaliknya, kedua keluhan tersebut lebih sering berkaitan dengan infeksi virus, termasuk pilek.
Namun, jika bersin berulang disertai mata merah, berair, dan terasa gatal, kondisi tersebut bisa mengarah pada konjungtivitis alergi.
Waktu munculnya gejala juga perlu diperhatikan. Apabila keluhan berulang setiap kali membersihkan rumah, berada di tempat berdebu, berdekatan dengan hewan peliharaan, atau pada musim tertentu, kemungkinan alergi lingkungan patut dipertimbangkan.
5. Kenali kapan harus memeriksakan diri ke dokter
Gejala pilek atau alergi yang terus berulang sebaiknya tidak dianggap sebagai gangguan ringan. Terlebih jika bersin, hidung tersumbat, dan mata berair sudah mengganggu tidur maupun aktivitas sehari-hari.
Dr. Dedhia mengingatkan bahwa alergi tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala karena keluhannya sering kali menyerupai infeksi virus atau kondisi kesehatan lainnya.
Dr. Murthy juga menyarankan pemeriksaan medis apabila gejala terus berlanjut, terutama jika tidak menunjukkan perbaikan setelah dua minggu.
Kesulitan bernapas, dehidrasi, serta demam berkepanjangan menjadi tanda lain yang memerlukan perhatian medis segera.
Dokter dapat melakukan evaluasi lebih lanjut atau menyarankan tes alergi sesuai dengan gejala dan pola kemunculannya. Dengan begitu, penyebab keluhan dapat diketahui dan penanganan diberikan secara tepat.
Hal lain yang tidak kalah penting, antibiotik tidak boleh dikonsumsi sembarangan untuk mengatasi pilek. Pasalnya, pilek disebabkan oleh virus sehingga tidak dapat disembuhkan menggunakan antibiotik.
Baca Juga: Lupus atau Alergi? Dokter Ahli Jelaskan Perbedaan Gejala dan Pemeriksaannya