Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014, Dahlan Iskan, menilai pendekatan komunikasi publik terhadap BUMN perlu mendapat perhatian serius agar proses transformasi perusahaan pelat merah dapat berjalan lebih efektif.

Karenanya, ia pun berharap Presiden RI, Prabowo Subianto, dapat menyesuaikan narasi komunikasi publik terkait BUMN sehingga persepsi masyarakat ikut berubah ke arah yang lebih positif.

Menurut Dahlan, komunikasi pemimpin negara memiliki pengaruh besar dalam membentuk sentimen publik terhadap kinerja BUMN.

Dahlan menilai, jika kritik terhadap BUMN terus disampaikan secara keras di ruang publik, maka masyarakat akan semakin yakin bahwa perusahaan-perusahaan tersebut memang berada dalam kondisi buruk.

“Mungkin juga karena Presiden masih sering juga memaki-maki BUMN di depan podium. Sehingga orang juga terpengaruh bahwa BUMN ya memang Presiden saja ngomong BUMN itu parah banget. Berarti kita semua juga percaya BUMN itu parah banget,” tutur Dahlan, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Jumat (13/2/2026).

Meski demikian, Dahlan mengakui bahwa kinerja BUMN memang masih perlu ditingkatkan agar mampu memberikan kontribusi optimal bagi negara. Ia pun menegaskan bahwa transformasi harus terus dilakukan agar BUMN mampu bersaing di tingkat global.

Namun, menurutnya, transformasi tidak hanya soal perbaikan internal perusahaan, melainkan juga perubahan citra dan persepsi publik. Dahlan bahkan mengusulkan agar narasi komunikasi pemerintah turut menonjolkan sisi positif BUMN agar semangat perubahan bisa tumbuh lebih kuat.

“Tapi itu bagaimana cara mengubahnya? Sehingga mungkin kita perlu minta tolong Bapak Presiden juga untuk sekali-sekali ngomong baik atau 50% ngomong baik tentang BUMN, sehingga terjadi transformasi,” katanya.

Baca Juga: Kisah Dahlan Iskan Didemo Pegawai saat Awal Menjabat Dirut PLN

Dalam pandangannya, pembentukan Danantara sebagai entitas baru diharapkan mampu menjadi momentum perubahan branding perusahaan negara.

Ia membayangkan istilah BUMN secara bertahap tidak lagi menjadi label utama di benak publik, melainkan digantikan oleh identitas baru.

“Jadi saya berharap dengan pembentukan danantara itu istilah BUMN itu hilang sama sekali. Tapi Anda kan masih terus menyebut. Berarti istilah BUMN ini masih hidup di benak Anda. Bayangan saya begitu dibentuk danantara, yang terjadi adalah danantara grup. Jadi nggak ada lagi istilah BUMN,” ungkapnya.

Menurut Dahlan, jika transformasi branding ini berjalan baik, publik nantinya akan lebih mengenal perusahaan-perusahaan tersebut sebagai bagian dari Danantara Group, bukan lagi sekadar BUMN.

Dengan demikian, jika masih ada persoalan kinerja, evaluasi akan langsung melekat pada entitas baru tersebut.

“Oh ini BUMN buruk sekali, nggak ada BUMN sekarang. Yang ada apa? Danantara group. Jadi nggak ada lagi. Nah nanti kalau ternyata terus buruk ya Danantara-nya yang buruk,” paparnya.

Dahlan menilai, perubahan identitas tersebut juga mulai terlihat di berbagai materi komunikasi perusahaan, di mana kata BUMN mulai jarang digunakan dan digantikan dengan identitas Danantara.

“Sehingga saya kira transformasi branding ini bagaimana orang tidak lagi ngomong BUMN. Tapi ngomong danantara grup atau member of danantara. Ini saya lihat sudah mulai dilakukan kalau ada banner-banner perusahaan yang dulu BUMN. Tidak ada lagi kata BUMN, tapi yang ada Danantara,” pungkasnya.

Baca Juga: Pujian Buat Danantara dan Kekecewaan Dahlan Iskan pada UU BUMN