Seiring waktu, keterbukaan tersebut justru menjadi kekuatan. Dengan berbagi cerita, Wina tidak hanya membangun penerimaan dalam keluarga, tetapi juga membantu membuka perspektif masyarakat terhadap anak neurodivergent.
Wina juga menyoroti pentingnya peran lingkungan dalam mendukung tumbuh kembang anak. Menurutnya, anak neurodivergent sering kali bukan menolak orang tua, melainkan merasa tidak nyaman dengan situasi di sekitarnya.
Hal-hal yang tampak sederhana, seperti suara yang terlalu keras atau interaksi yang terlalu dominan, bisa membuat mereka merasa terintimidasi.
“Lingkungan yang suportif itu sangat penting. Ketika anak merasa diterima dan tidak dibedakan, perkembangan itu akan terus berjalan. Tapi kalau tidak, mereka seperti berhenti,” kata Wina.
Sebagai ibu dari empat anak, ia mengakui bahwa memiliki anak neurodivergent telah mengubah seluruh perjalanan hidupnya.
Ia belajar bahwa yang dibutuhkan bukan hanya terapi atau pendidikan formal, tetapi juga ruang aman di mana anak dapat tumbuh tanpa tekanan.
“Memiliki anak neurodivergent mengubah seluruh perjalanan sebagai orang tua. Yang dibutuhkan keluarga bukan hanya terapi atau sekolah, tetapi ruang aman di mana anak dipahami dan diterima. Tempat seperti Atelier memberi harapan bagi orang tua,” ujarnya.
Dalam praktik sehari-hari, membangun kemandirian anak juga membutuhkan konsistensi dan kesabaran ekstra.
Wina mencontohkan pengalaman toilet training anaknya yang memakan waktu bertahun-tahun dan hingga kini masih terus berproses.
“Yang paling membantu ya, lingkungannya support. Karena untuk satu kebiasaan saja butuh waktu lama. Seperti toilet training Sigra, itu bisa bertahun-tahun. Bahkan sekarang usianya sudah 10 tahun, masih belum 100% berhasil. Jadi memang lingkungan harus sangat telaten, terus mengingatkan, supaya anak terbiasa dan lama-lama mandiri. Intinya, harus sangat telaten kalau punya anak,” pungkasnya.
Baca Juga: Atelier of Minds: Mendorong Pendidikan Inklusif dan Membantu Anak Neurodivergent Menemukan Bakatnya