Memahami anak, terlebih anak dengan kebutuhan khusus, bukanlah proses yang instan. Bagi Wina Natalia, figur publik sekaligus ibu dari anak neurodivergent, perjalanan ini menjadi proses panjang yang penuh pembelajaran, kesabaran, sekaligus perubahan cara pandang sebagai orang tua.
Awalnya, Wina mengira putranya hanya mengalami keterlambatan bicara. Namun, seiring waktu, berbagai tantangan mulai muncul, termasuk tantrum yang cukup intens.
Hingga akhirnya, pada usia tiga tahun, sang anak, Sigra Umar Narada, didiagnosis berada dalam spektrum autisme. Momen tersebut menjadi titik awal bagi Wina dan keluarga untuk benar-benar memahami kebutuhan anak secara lebih utuh.
“Memang butuh waktu. Tidak bisa langsung. Sekitar dua tahun sampai akhirnya saya dan keluarga benar-benar memahami anak. Seperti yang Jeremy bilang, dia itu hanya berbeda,” ungkap Wina, saat acara Diskusi Media 'Memahami Neurodiversity dan Peran Orang Tua dalam Mendukung Anak’, yang digelar Atelier of Minds, di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Pengalaman ini menyadarkannya bahwa perubahan terbesar justru bukan terjadi pada anak, melainkan pada orang tua.
Wina mulai menggeser perspektif, dari yang sebelumnya kerap membandingkan dengan anak lain, menjadi lebih fokus pada kebutuhan unik sang anak. Pendekatan yang personal dan empatik pun menjadi kunci dalam membangun hubungan yang lebih sehat.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari luar, terutama di masa-masa awal ketika pemahaman masyarakat tentang neurodiversitas masih terbatas.
Wina mengakui bahwa tekanan sosial menjadi beban emosional yang tidak ringan.
“Tantangan terbesar itu di awal-awal, bukan ke anak sebenarnya, tapi ke pandangan orang terhadap kondisi anak kita,” ujarnya.
Sebagai figur publik, sorotan yang ia terima terasa berlipat. Ia bahkan sempat menghadapi stigma ketika memutuskan untuk terbuka mengenai kondisi anaknya.
“Waktu kita cerita bahwa kita punya anak berkebutuhan khusus, masih ada yang bilang, ‘kok diceritain sih, kok nggak malu sih?’ Seolah-olah itu aib,” tuturnya.
Situasi seperti ini kerap terjadi di ruang publik, terutama saat anak menunjukkan respons yang belum dipahami orang lain.
Tatapan hingga komentar negatif menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan emosional sebagai orang tua.
Meski begitu, Wina menegaskan bahwa kunci untuk melewati fase tersebut adalah kejujuran dan penerimaan. Ia dan keluarganya memilih untuk tidak menyangkal, melainkan belajar menerima kondisi anak secara perlahan.
“Yang berat itu bagian menerima keadaan anak. Tapi setelah kita jujur, nggak denial, dan mulai menerima, rasanya jadi lebih ringan,” jelasnya.
Baca Juga: Neurodiversity Bukan Kekurangan, Psikolog Ungkap Cara Memahami Anak dengan Lebih Empatik