Growthmates, setiap keputusan membeli sesuatu ternyata bisa berdampak besar terhadap kondisi keuangan di masa depan. Bukan hanya soal seberapa besar penghasilan, tetapi juga bagaimana seseorang mengelola dan membelanjakan uangnya.
Perencana Keuangan Profesional, Pandeka Perkasa, S.Ikom, MBA, CFP®, membagikan tiga jenis pembelian yang menurutnya sebaiknya dihindari karena berpotensi menghambat pertumbuhan kekayaan dalam jangka panjang.
Menurut Pandeka, salah satu keputusan finansial yang kurang bijak adalah membeli mobil baru dengan cara mencicil. Ia menjelaskan bahwa mobil merupakan aset yang terus mengalami penyusutan nilai sejak pertama kali digunakan.
"Mobil itu barang yang nilainya terus turun. Beli mobil bekas cash aja. Uang cicilannya bisa diinvestasiin," tegas Pandeka, dikutip dari laman Instagram pribadinya @_pandekaperkasa, Selasa (3/8/2026).
Lebih lanjut, Pandeka juga mengutip buku The Millionaire Next Door yang menyebut bahwa jenis mobil yang dibeli serta cara membayarnya merupakan salah satu indikator penting dalam membangun kesuksesan finansial jangka panjang.
"Di buku The Millionaire Next Door dijelasin kalau mobil yang lo beli dan cara lo belinya adalah salah satu indikator terbesar kesuksesan finansial jangka panjang. Menariknya, kebanyakan miliarder justru beli mobil bekas tapi tetap bagus," katanya.
Selain itu, Pandeka juga mengingatkan masyarakat untuk memahami dengan baik produk asuransi sebelum membeli, terutama asuransi unit link.
Menurutnya, produk tersebut kerap dianggap sebagai instrumen investasi, padahal fungsi utamanya berbeda.
Baca Juga: Modal Usaha dari Utang? Financial Planner Ingatkan Risikonya
"Itu bukan investasi. Itu produk mahal yang biayanya tinggi. Kalau terjebak, harus investasi di situ dengan jangka waktu yang lama," jelasnya.
Ia menambahkan, biaya pengelolaan pada produk unit link umumnya cukup besar sehingga dapat mengurangi potensi hasil investasi dalam jangka panjang. Selain itu, dana juga cenderung tidak fleksibel untuk dicairkan.
"Biaya adminnya biasanya di atas 2 persen. Dalam jangka panjang, biaya itu melahap lebih dari 40 persen keuntungan. Belum lagi, dana dikunci. Mau dicairin lebih awal, kena denda penalti. Asuransi tugasnya melindungi dari risiko seperti sakit kritis, bukan tempat investasi," tutur Pandeka.
Terakhir, Pandeka menilai bahwa menghabiskan uang untuk pengalaman hidup yang bermakna jauh lebih berharga dibanding membeli barang mewah hanya demi gengsi atau pengakuan sosial.
Ia mengaku tidak pernah menyesal mengeluarkan uang untuk bepergian dan menciptakan kenangan bersama keluarga, termasuk dengan kedua orang tuanya semasa hidup.
"Gua nggak pernah nyesel habisin uang buat liburan dan beruntung bisa liburan sama almarhum orang tua gua keliling dunia. Naik haji, alhamdulillah. Tapi, gua dan lo pasti justru sering nyesel beli barang yang ternyata nggak bener-bener lo butuhin," ujarnya.
Menurut Pandeka, pengalaman berharga akan terus dikenang selama bertahun-tahun, sementara kepuasan dari membeli barang mewah sering kali hanya bersifat sementara.
"Liburan bakal lo kenang bertahun-tahun, apalagi sama orang tersayang. Barang mahal yang dulu pengen banget lo beli, kemungkinan besar sekarang lo udah lupa," pungkasnya.
Baca Juga: 3 Bekal Penting Sebelum Investasi Menurut Financial Planner