Bagi Siti Marnia atau yang akrab disapa Mama Nia, kebun bukan sekadar tempat menanam sayuran. Di lahan pertanian Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, ia melihat peluang untuk mendorong perempuan memiliki kegiatan produktif sekaligus ikut menopang perekonomian keluarga.
Sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT), Mama Nia mengajak perempuan di sekitarnya memanfaatkan potensi pertanian dan mengembangkan hasil lokal agar memiliki nilai ekonomi. Perjalanan tersebut berangkat dari pengalamannya sendiri sebagai petani.
Setelah sebelumnya bertani di Kendari, Mama Nia mulai menggarap lahan di Pulau Obi pada 2015. Setahun kemudian, ia mulai bermitra dengan Harita Nickel.
Melalui pendampingan budidaya serta dukungan sarana pertanian seperti pupuk, greenhouse, dan mesin bajak, kegiatan kelompok tani yang dipimpinnya perlahan berkembang.
Salah satu tantangan yang sebelumnya dihadapi adalah pemasaran hasil panen. Kini, sayuran yang dihasilkan dapat terserap oleh perusahaan, supplier, hingga pasar lokal. Kondisi tersebut turut membantu menekan biaya produksi sekaligus membuka ruang bagi lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam kegiatan pertanian.
“Harita Nickel bukan sekadar memberi bantuan, tetapi hadir mendampingi kami. Mulai dari pengadaan pupuk, greenhouse, hingga mesin bajak. Dengan adanya program CSR Harita, kami sangat terbantukan karena modal yang tadinya 100% bisa kami pangkas hingga tersisa 30%. Hasil panen sayur kami pun kini langsung diserap ke perusahaan, supplier, hingga pasar lokal demi kemajuan para petani di Pulau Obi,” ungkap Mama Nia.
Peran Mama Nia dalam mendorong pemberdayaan masyarakat kemudian mendapat apresiasi melalui penghargaan Local Hero pada ajang CSR & Pembangunan Desa Berkelanjutan (PDB) Awards 2026. Penghargaan kategori Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus tersebut diberikan atas kontribusinya dalam pemberdayaan dan pembangunan masyarakat di Pulau Obi.
Penghargaan itu menjadi bagian dari enam penghargaan yang diterima PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel dalam ajang yang diselenggarakan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) bersama Indonesia Social Sustainability Forum (ISSF) di Jakarta Selatan, Senin (28/9/2026).
Baca Juga: Jadi Perempuan Pertama Jabat Gubernur BI, Destry Damayanti Bicara Soal Integritas dan Leadership
Pemberdayaan masyarakat di Pulau Obi sendiri tidak hanya dilakukan melalui sektor pertanian. Sejumlah program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas mereka.
Program PELITA, misalnya, memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat lokal agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Sejak diluncurkan pada 2023, program tersebut telah memasuki lima batch dan menghasilkan ratusan lulusan.
Di Desa Kawasi, program KAWASI BERSERI mendorong masyarakat terlibat dalam pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan hingga pengolahan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Sementara itu, Rumah Belajar menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan literasi dan numerasi di luar kegiatan sekolah.
Upaya memperkuat ekonomi lokal juga dilakukan melalui program SENTANI yang mendampingi kelompok tani dalam meningkatkan produktivitas pertanian di Desa Buton. Di sisi lain, KWT Soligi menjadi wadah bagi perempuan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi lokal.
Berbagai program tersebut turut mendapat apresiasi dalam PDB Awards 2026. PELITA, KAWASI BERSERI, dan Rumah Belajar masing-masing meraih Gold, sementara SENTANI dan KWT Soligi meraih Silver. Penghargaan Local Hero untuk Mama Nia melengkapi enam penghargaan yang diterima Harita Nickel.
Director of Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel, Tonny Gultom, mengatakan, program PPM diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat sehingga mereka dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara mandiri.
“Program PPM kami diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat agar semakin mandiri dan mampu mengembangkan potensi di wilayahnya. Karena itu, kami berupaya membangun program bersama masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal,” tutur Tonny.
Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Ahmad Riza Patria, juga mengatakan bahwa dunia usaha merupakan mitra strategis dalam pembangunan desa. Menurutnya, kontribusi dunia usaha dapat mendorong lahirnya inovasi, komitmen, dan praktik terbaik dalam pengembangan desa yang berkelanjutan.
“Penghargaan ini tidak hanya menjadi simbol pengakuan tetapi juga menjadi instrumen untuk mendorong lahirnya inovasi, komitmen serta praktik terbaik dalam pengembangan desa yang berkelanjutan,” katanya.
Bagi Mama Nia, perjalanan dari kebun hingga pasar menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari potensi yang sudah ada.
Ketika hasil pertanian memiliki akses pasar dan perempuan mendapat ruang untuk terlibat secara produktif, kebun tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga membuka peluang bagi tumbuhnya kemandirian ekonomi masyarakat Pulau Obi.
Baca Juga: Kerajaan Bisnis Harita Group: dari Pertambangan hingga Sekuritas