Di era media sosial, tekanan untuk terlihat sukses sering kali lebih besar daripada keinginan untuk benar-benar membangun kekayaan. Banyak orang yang baru mulai bekerja langsung tergoda membeli barang-barang mahal demi citra, padahal kondisi keuangannya belum cukup kuat.
Menurut Perencana Keuangan Profesional, Pandeka Perkasa, S.Ikom, MBA, CFP®, masalah terbesar yang sering menghambat seseorang membangun kekayaan justru bukan besarnya penghasilan, melainkan kebiasaan ingin pamer.
"Penyakit utamanya itu adalah kebelet pamer. Bawaannya baru gaji 3 juta, 4 juta. Bawaannya pengen beli iPhone. Lu pengen beli ini, pengen dilihat orang keren,” tegas Pendeka, dikutip dari di YouTube @roryasyari - @room.4improvement.
Padahal, kata pria yang karib disapa Deka itu, persepsi tentang kemewahan sering kali tidak sesuai dengan kenyataan.
Deka pun lantas mengutip salah satu konsep dalam buku The Psychology of Money karya Morgan Housel.
"Ketika lo ngelihat ada orang pakai Porsche, atau pakai McLaren, atau pakai iPhone 17, sebenarnya lo lagi nggak ngelihat dia itu keren, tapi lo lagi ngelihat diri lo lagi di dalam mobil itu,” paparnya.
Artinya, kata dia, kekaguman seseorang terhadap barang mewah sering kali bukan karena pemiliknya, melainkan karena membayangkan dirinya sendiri memiliki barang tersebut.
Sayangnya, lanjut dia, banyak orang kemudian memaksakan diri membeli aset konsumtif demi mendapatkan pengakuan sosial.
Kemudian, Deka pun membahas sebuah perhitungan yang menarik, yakni seorang anak berpotensi memiliki dana lebih dari Rp1 miliar saat berusia 18 tahun jika investasi dilakukan sejak dini secara konsisten.
Menurutnya, hal tersebut bukanlah hal yang mustahil.
"Kalau bisa invest 18 tahun, sekitar 1,5 jutaan sebulan, dengan return rata-rata 12 persen setahun. Jadi kita ingat ya, kalau kita bicara mengenai paket saham S&P 500, rata-rata 10 tahun terakhir itu sekitar 15 persen. Nah itu modal lo sekitar 300 jutaan, lo bisa nyampe 1 miliar,” terangnya.
Perhitungan tersebut, kata dia, menunjukkan kekuatan bunga majemuk (compound interest) dan konsistensi investasi jangka panjang.
Menurutnya, semakin dini seseorang memulai investasi, semakin besar peluang dana berkembang secara signifikan.
Meski sering berbicara soal investasi, Deka justru menilai tujuan utama orang tua bukanlah mengumpulkan portofolio terbesar untuk anak, melainkan menanamkan pemahaman keuangan sejak dini.
"Nomor satu sebenarnya adalah financial literacy dari kecil ke anak,” ujarnya.
Ia pun lantas menekankan pentingnya keterlibatan kedua orang tua dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.
"Lo ini juga harus ngelakuin. Lo berdua sama istri lo duduk bareng,” tukasnya.
Setelah fondasi literasi keuangan terbentuk, kata dia, barulah orang tua mulai merencanakan kebutuhan finansial masa depan anak secara lebih spesifik.
"Habis itu yang kedua, yaitu lo identifikasi, ini kira-kira nanti pas gede ini anak butuh berapa kuliah,” bebernya.
Dengan kata lain, lanjut dia, investasi sebaiknya memiliki tujuan yang jelas, seperti dana pendidikan, bukan sekadar mengejar angka keuntungan.
Baca Juga: 5 Hal soal Keuangan yang Harus Dibahas Sebelum Menikah
Dan, di tengah maraknya promosi investasi yang menjanjikan keuntungan besar, Deka pun mengingatkan bahwa investasi bukanlah jalan pintas untuk menjadi kaya dalam waktu singkat.
Bahkan, ia menilai banyak orang memiliki ekspektasi yang keliru terhadap pasar saham.
"Gue selalu merasa investasi terbaik itu adalah investasi ke diri sendiri, bukan investasi ke saham,” tegasnya.
Menurutnya, meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas menghasilkan pendapatan akan memberikan dampak yang jauh lebih besar dibanding sekadar mengandalkan modal kecil di pasar modal.
"Setelah lo kumpul 5 juta, lo jangan pernah berpikir bahwa lo bisa kaya dari saham. Itu yang mau gue patahkan dulu,” ungkapnya.
Dikatakan Deka, investasi tetap penting, tetapi harus dipahami sebagai alat untuk menumbuhkan kekayaan secara bertahap, bukan mesin pencetak kekayaan instan.
Dan, bagi investor pemula yang ingin berinvestasi secara sederhana dan terdiversifikasi, Deka menilai ETF (Exchange Traded Fund) dapat menjadi salah satu pilihan yang menarik.
Dengan ETF, investor secara tidak langsung memiliki bagian dari banyak perusahaan besar sekaligus.
"Lo own every single piece of the whole entire market dan menurut gue paling gampang adalah pakai ETF,” terangnya.
Ia pun menggambarkan bahwa melalui ETF, seseorang bisa memiliki eksposur terhadap berbagai perusahaan global hanya dengan modal yang relatif kecil.
"Kalau lo punya saham Samsung, lo punya saham Toyota, lo punya saham Honda, lo punya saham Xiaomi, dan seterusnya sampai Google, Netflix, lo beli semuanya dengan modal 20 ribu,” bebernya.
Konsep ini, lanjut dia, memungkinkan investor mendapatkan diversifikasi yang luas tanpa harus membeli saham satu per satu.
Terakhir, Deka pun mengingatkan bahwa tujuan hidup tidak semata-mata diukur dari besarnya aset investasi yang dimiliki.
"Karena pas kita meninggal, di batu nisan kita nggak ada tulisan saham lo berapa, ETF lo berapa, mobil lo merknya apa, nggak ada semua itu,” tandasnya.
Nah Growthmates, pesan Deka tersebut menjadi pengingat bahwa uang hanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakan uang untuk membangun kehidupan yang lebih baik, memberikan manfaat bagi keluarga, serta menciptakan dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya.
Daripada sibuk terlihat kaya, membangun literasi keuangan, meningkatkan kualitas diri, dan berinvestasi secara konsisten justru menjadi fondasi yang lebih kuat untuk mencapai kebebasan finansial jangka panjang.
Semoga informasinya bermanfaat, ya!
Baca Juga: Strategi Perencanaan Keuangan THR ala Aliyah Natasya