Indonesia Health Development Center (IHDC) memaparkan temuan studi berbasis pengabdian masyarakat terkait beban kognitif pada siswa sekolah dasar perkotaan di Jakarta. Studi terhadap 1.007 siswa di empat SD negeri menemukan 68,5 persen responden masuk kategori fungsi kognitif sehari-hari kurang baik, sementara 49,3 persen memiliki skor harapan masa depan rendah.
Analisis studi menunjukkan kelompok dengan ansietas yang tinggi berkaitan dengan odds fungsi kognitif kurang baik sekitar 3,3 kali, sedangkan risiko depresi yang tinggi berkaitan dengan odds sekitar 2,5 kali. Menurut Direktur Eksekutif IHDC dan Ketua Tim Peneliti, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, temuan tersebut perlu mendorong kerja bersama sektor kesehatan dan pendidikan agar hambatan belajar dapat dikenali serta ditangani sejak dini.
Baca Juga: Gangguan Mata Bebani Kemampuan Berpikir Anak, Temuan IHDC Dorong Penanganan sejak Dini
Angka tersebut menunjukkan hubungan statistik, bukan bukti sebab-akibat. Hasil skrining kesehatan jiwa juga memerlukan penilaian lanjutan oleh tenaga profesional dan tidak dapat diperlakukan sebagai diagnosis klinis.
“Yang kita temukan adalah hubungan yang perlu ditindaklanjuti. Studi ini tidak membuktikan bahwa kecemasan menjadi penyebab tunggal kesulitan kognitif. Namun, temuan tersebut memberi arah yang jelas untuk pemeriksaan dan pendampingan anak,” jelas Dr. Ray di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Pada aspek kesehatan jiwa, sekolah perlu memiliki jalur pendampingan dan rujukan, disertai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman serta memperkuat empati dan kesetiakawanan antarsiswa. Dr. Ray menambahkan bahwa keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan memiliki peran bersama dalam mendukung kemampuan belajar anak.
“Setiap angka dalam studi ini mewakili anak yang berhak memperoleh kesempatan belajar sebaik mungkin. Membantu anak mendapatkan pertolongan ketika cemas merupakan langkah konkret untuk mendukung kemampuan belajar serta keyakinannya menghadapi masa depan,” tutupnya.
Sementara itu, Prof. Nila F. Moeloek selaku Pendiri dan Ketua Dewan Pembina IHDC menegaskan, "Pemeriksaan perlu berujung pada pertolongan. Anak yang mengalami masalah psikologis harus memiliki akses pendampingan. Keberhasilan program perlu terlihat dari kebutuhan anak yang benar-benar tertangani."
Temuan ini berlaku pada peserta di empat SDN yang diteliti dan belum dapat digeneralisasi sebagai prevalensi seluruh siswa Jakarta maupun Indonesia. IHDC menempatkannya sebagai dasar untuk memperkuat layanan kesehatan sekolah dan mendorong penelitian lanjutan.