Di tengah derasnya arus digitalisasi dan semakin terbatasnya ruang bermain anak di perkotaan, pelestarian budaya Betawi menghadapi tantangan yang tidak ringan. Karena itu, diperlukan berbagai upaya kreatif agar budaya lokal tetap relevan dan mampu menarik minat generasi muda.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Tuti Tarwiyah Adi Sam, M.Si., Dosen Pendidikan Seni Musik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus Praktisi Seni Betawi, saat sesi talkshow Discover Betawi Art & Culture, di Hotel Borobudur Jakarta, belum lama ini.

Menurut Dr. Tuti, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memperkenalkan budaya Betawi kepada anak-anak sejak usia dini di tengah dominasi penggunaan gadget dan minimnya ruang interaksi sosial.

"Sekarang tantangannya banyak sekali, terutama dengan gadget. Ditambah lagi kondisi Jakarta yang ruang bermain anak semakin terbatas. Kalau budaya Betawi tidak diperkenalkan sejak dini, saya khawatir akan semakin jauh dari kehidupan generasi muda," ungkap Dr. Tuti.

Sebagai akademisi dan pelaku budaya, Dr. Tuti mengaku memiliki perhatian besar terhadap upaya mengenalkan budaya Betawi kepada calon guru yang nantinya akan mengajar di sekolah-sekolah Jakarta.

Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal kepada peserta didik.

"Saya sangat concern bagaimana memperkenalkan budaya Betawi kepada para calon guru yang nantinya akan menjadi guru di Jakarta. Jangan sampai mereka mengajar di Jakarta tetapi tidak memahami budaya Betawi," katanya.

Dr. Tuti menjelaskan bahwa di Universitas Negeri Jakarta, perhatian terhadap pelestarian budaya Betawi diwujudkan melalui berbagai mata kuliah yang secara khusus membahas budaya lokal tersebut.

Di Program Studi Pendidikan Seni Musik, misalnya, kini terdapat mata kuliah Budaya Betawi dan Musik Betawi. Sementara di program studi lain juga tersedia pembelajaran terkait bahasa, tari, hingga pencak silat Betawi.

"Alhamdulillah, yang dulu hanya menjadi mata kuliah pilihan sekarang berkembang menjadi mata kuliah Budaya Betawi dan Musik Betawi. Di program studi lain juga ada kajian bahasa dan budaya Betawi, tari Betawi, hingga silat Betawi. Ini menjadi bagian dari perhatian kami terhadap apa yang seharusnya dimiliki calon guru di Jakarta," jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah belum meratanya pemahaman guru terhadap budaya Betawi, terutama karena banyak tenaga pendidik di Jakarta berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, kondisi tersebut bukanlah masalah selama tersedia pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengenalkan budaya Betawi kepada peserta didik.

"Bukan berarti guru-guru tidak mau mengenalkan budaya Betawi. Namun banyak yang belum mendapatkan pelatihan yang memadai. Karena itu diperlukan program yang dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan," ujarnya.

Baca Juga: Ada Bazar UMKM hingga Pawai Ondel-Ondel, Ini Keseruan Discover Betawi Art & Culture 2026

Permainan Tradisional dan Lagu Anak Mulai Terlupakan

Salah satu keprihatinan Dr. Tuti adalah mulai hilangnya berbagai permainan tradisional Betawi yang sesungguhnya sarat dengan nilai pendidikan karakter dan kreativitas.

Ia mencontohkan, permainan anak Betawi yang diiringi lagu-lagu tradisional. Menurutnya, banyak guru hanya mengenal nama permainan tanpa memahami lagu maupun makna yang terkandung di dalamnya.

"Kalau gurunya tidak memahami lagu dan maknanya, akhirnya yang diajarkan hanya nama permainannya saja. Padahal di dalam lagu-lagu permainan Betawi terdapat nilai-nilai pendidikan, bahasa, pantun, kreativitas, dan interaksi sosial," jelasnya.

Sebagai praktisi budaya, Dr. Tuti bahkan menjadikan permainan dan lagu anak Betawi sebagai bagian dari kajian akademiknya. Ia menilai lagu-lagu tradisional dapat menjadi media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus efektif dalam menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anak.

Menurutnya, melalui permainan tradisional anak-anak belajar berbahasa, mengenal rima, memahami pantun, mengenal lingkungan sekitar, hingga belajar berinteraksi dengan teman sebaya.

Lebih lanjut, Dr. Tuti menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Diperlukan kerja sama antara guru, orang tua, masyarakat, serta pemerintah agar budaya Betawi tetap hidup di tengah masyarakat.

"Apa yang diajarkan guru di sekolah harus diperkuat di rumah oleh orang tua. Jadi pelestarian budaya itu harus melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat secara bersama-sama," tuturnya.

Ia juga mendorong adanya pelatihan yang lebih terstruktur bagi para guru dengan melibatkan praktisi budaya yang memahami sekaligus memiliki kompetensi pedagogik dalam mengajar anak-anak.

Menurutnya, seorang pengajar budaya tidak hanya harus menguasai materi budaya, tetapi juga memahami cara menyampaikannya sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Dan, di tengah perkembangan teknologi, Dr. Tuti menilai budaya Betawi perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih modern agar tetap menarik bagi generasi muda. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi digital dan aplikasi berbasis budaya.

"Kalau sekarang zamannya gadget, maka budaya Betawi juga harus hadir di sana. Pemerintah bisa membuat aplikasi-aplikasi yang mengenalkan budaya Betawi kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan," ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan pentingnya interaksi sosial yang selama ini menjadi bagian dari budaya tradisional.

"Bagaimanapun juga, interaksi sosial jauh lebih baik daripada anak hanya bermain gadget. Justru melalui interaksi sosial itulah anak-anak belajar dan berkembang menjadi lebih cerdas," tegasnya.

Tak lupa, Dr. Tuti juga mengapresiasi Hotel Borobudur Jakarta yang menghadirkan program Discover Betawi Art and Culture sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mencintai budaya Betawi.

Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, sangat penting untuk memperluas ruang pelestarian budaya sekaligus mengenalkan kekayaan seni Betawi kepada generasi muda.

Baca Juga: Discover Betawi Art & Culture 2026, Hotel Borobudur Jakarta Hadirkan Aktivitas Budaya dan Promo Menarik