Permainan Tradisional dan Lagu Anak Mulai Terlupakan

Salah satu keprihatinan Dr. Tuti adalah mulai hilangnya berbagai permainan tradisional Betawi yang sesungguhnya sarat dengan nilai pendidikan karakter dan kreativitas.

Ia mencontohkan, permainan anak Betawi yang diiringi lagu-lagu tradisional. Menurutnya, banyak guru hanya mengenal nama permainan tanpa memahami lagu maupun makna yang terkandung di dalamnya.

"Kalau gurunya tidak memahami lagu dan maknanya, akhirnya yang diajarkan hanya nama permainannya saja. Padahal di dalam lagu-lagu permainan Betawi terdapat nilai-nilai pendidikan, bahasa, pantun, kreativitas, dan interaksi sosial," jelasnya.

Sebagai praktisi budaya, Dr. Tuti bahkan menjadikan permainan dan lagu anak Betawi sebagai bagian dari kajian akademiknya. Ia menilai lagu-lagu tradisional dapat menjadi media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus efektif dalam menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anak.

Menurutnya, melalui permainan tradisional anak-anak belajar berbahasa, mengenal rima, memahami pantun, mengenal lingkungan sekitar, hingga belajar berinteraksi dengan teman sebaya.

Lebih lanjut, Dr. Tuti menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Diperlukan kerja sama antara guru, orang tua, masyarakat, serta pemerintah agar budaya Betawi tetap hidup di tengah masyarakat.

"Apa yang diajarkan guru di sekolah harus diperkuat di rumah oleh orang tua. Jadi pelestarian budaya itu harus melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat secara bersama-sama," tuturnya.

Ia juga mendorong adanya pelatihan yang lebih terstruktur bagi para guru dengan melibatkan praktisi budaya yang memahami sekaligus memiliki kompetensi pedagogik dalam mengajar anak-anak.

Menurutnya, seorang pengajar budaya tidak hanya harus menguasai materi budaya, tetapi juga memahami cara menyampaikannya sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Dan, di tengah perkembangan teknologi, Dr. Tuti menilai budaya Betawi perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih modern agar tetap menarik bagi generasi muda. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi digital dan aplikasi berbasis budaya.

"Kalau sekarang zamannya gadget, maka budaya Betawi juga harus hadir di sana. Pemerintah bisa membuat aplikasi-aplikasi yang mengenalkan budaya Betawi kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan," ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan pentingnya interaksi sosial yang selama ini menjadi bagian dari budaya tradisional.

"Bagaimanapun juga, interaksi sosial jauh lebih baik daripada anak hanya bermain gadget. Justru melalui interaksi sosial itulah anak-anak belajar dan berkembang menjadi lebih cerdas," tegasnya.

Tak lupa, Dr. Tuti juga mengapresiasi Hotel Borobudur Jakarta yang menghadirkan program Discover Betawi Art and Culture sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mencintai budaya Betawi.

Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, sangat penting untuk memperluas ruang pelestarian budaya sekaligus mengenalkan kekayaan seni Betawi kepada generasi muda.

Baca Juga: Discover Betawi Art & Culture 2026, Hotel Borobudur Jakarta Hadirkan Aktivitas Budaya dan Promo Menarik