Apple bersiap memasuki era baru. Setelah memimpin selama 15 tahun, Tim Cook dikabarkan akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Chief Executive Officer (CEO) pada September mendatang dan menyerahkan kepemimpinan kepada Kepala Divisi Perangkat Keras Apple, John Ternus.
Pergantian ini menjadi momentum untuk menengok kembali perjalanan dua pemimpin dengan gaya yang sangat berbeda, yakni Steve Jobs dan Tim Cook, yang sama-sama berperan besar membawa Apple ke puncak industri teknologi.
Saat Cook mengambil alih kepemimpinan pada 2011, valuasi Apple masih berada di kisaran US$350 miliar. Kini, perusahaan tersebut telah tumbuh menjadi raksasa teknologi dengan nilai pasar melampaui US$4 triliun.
Lantas, bagaimana dua sosok dengan pendekatan kepemimpinan yang bertolak belakang mampu menciptakan kesuksesan yang sama?
Dikutip dari Times of India, Rabu (22/7/2026), berikut perbedaan gaya kepemimpinan Steve Jobs dan Tim Cook yang membentuk Apple hingga menjadi perusahaan paling bernilai di dunia.
Steve Jobs Memimpin dengan Visi dan Intuisi
Steve Jobs dikenal sebagai pemimpin visioner yang berani mengambil keputusan berdasarkan insting.
Ia percaya bahwa inovasi sejati bukan berasal dari permintaan pasar, melainkan dari kemampuan menciptakan sesuatu yang bahkan belum disadari dibutuhkan oleh konsumen.
Filosofinya yang terkenal, bahwa "orang tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda memberikannya kepada mereka," menjadi fondasi lahirnya berbagai produk revolusioner Apple.
Pendekatan tersebut membuat Jobs dikenal sebagai sosok yang perfeksionis dan penuh tuntutan. Ia tidak segan memberikan tekanan tinggi kepada timnya demi menghasilkan produk terbaik.
Dari gaya kepemimpinan itulah lahir iMac, iPod, hingga iPhone pertama yang kemudian mengubah industri teknologi dunia.
Tim Cook Mengutamakan Stabilitas dan Eksekusi
Berbeda dengan Jobs, Tim Cook tidak pernah berusaha menjadi seorang visioner dengan cara yang sama. Kekuatannya justru terletak pada kemampuan operasional dan eksekusi bisnis.
Sebelum menjadi CEO, Cook dikenal sebagai sosok yang membangun sistem rantai pasok Apple sehingga perusahaan mampu memproduksi dan mendistribusikan perangkat dalam skala global secara efisien.
Gaya kepemimpinannya cenderung tenang, terukur, dan penuh pertimbangan. Ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, sementara keputusan-keputusannya sering kali baru menunjukkan dampak besar dalam jangka panjang.
Di bawah kepemimpinannya, Apple memperluas bisnis ke berbagai kategori baru, seperti perangkat wearable dan layanan digital, sekaligus mempertahankan stabilitas perusahaan di tengah pandemi COVID-19, gangguan rantai pasok global, hingga ketegangan perdagangan internasional.
Baca Juga: Steve Jobs Ungkap Rahasia Hidup yang Sering Diabaikan Banyak Orang