Perubahan kelembagaan koperasi di Indonesia sendiri bukan merupakan hal baru. Evolusinya telah berlangsung panjang, mulai dari lembaga kredit pada akhir abad ke-19, pemikiran Mohammad Hatta, perkembangan Koperasi Unit Desa (KUD), berbagai perubahan regulasi, hingga munculnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Dr. Suharno menilai, setiap perubahan kelembagaan pada dasarnya hadir untuk menjawab persoalan pada masanya. Namun, setiap model juga dapat menghadirkan tantangan baru. KUD, misalnya, pernah berperan dalam memperluas skala dan akses ekonomi masyarakat, tetapi kemudian menghadapi persoalan ketergantungan terhadap program pemerintah.
“Sementara KDMP menjadi upaya mengatasi fragmentasi dan persoalan koordinasi ekonomi desa, sekaligus menghadirkan pertanyaan mengenai kepemilikan anggota, otonomi, keberlanjutan, dan ketergantungan terhadap negara,” imbuhnya.
Karena itu, pembaruan kelembagaan koperasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapabilitas organisasi. Koperasi membutuhkan kepemimpinan dan talenta yang kuat, kemampuan untuk terus belajar, keterlibatan anggota, tata kelola yang akuntabel, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dan anggota.
Menurut Dr. Suharno, tantangan koperasi ke depan bukan sekadar bagaimana melakukan satu kali reformasi, melainkan bagaimana membangun kemampuan untuk terus beradaptasi menghadapi perubahan.
“Koperasi yang sukses bukan koperasi yang sekali melakukan reformasi lalu selesai, melainkan mereka yang mempunyai kemampuan untuk terus beradaptasi menjawab tantangan yang datang,” pungkas Dr. Suharno.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Strategic Discussion Series 3 yang digelar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University dengan tema “Evolusi Kelembagaan Koperasi: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Pengalaman Global?”. Diskusi tersebut berlangsung secara hybrid di Ruang Equilibrium FEM IPB University pada Rabu (2/9/2026).
Dekan FEM IPB University, Prof. Irfan Syauqi Beik, menilai, forum tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong diskusi lintas disiplin mengenai berbagai persoalan ekonomi dan kelembagaan koperasi.
“Kajian ini mudah-mudahan menjadi ikhtiar FEM untuk selalu mengadakan diskusi lintas disiplin dan tidak hanya akademisi IPB yang mendapat manfaatnya, namun khalayak umum,” tutur Prof. Irfan dalam sambutannya.
Melalui kajian mengenai evolusi kelembagaan, koperasi diharapkan tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk lama, tetapi mampu memperkuat tata kelola, efisiensi, profesionalisme, dan daya saing
. Pada saat yang sama, modernisasi tersebut tetap perlu menjaga prinsip kepemilikan anggota, pengendalian demokratis, manfaat bersama, dan keberpihakan terhadap kepentingan anggota sebagai jati diri koperasi.
Baca Juga: Ketum AMKI Dorong Koperasi Jadi Penggerak Perekonomian Nasional