Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra mengklaim operasi senyap terhadap Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dilakukan Joko Widodo (Jokowi) sudah berada di level yang sangat serius. Jokowi disebutnya tengah menjalankan strategi pemenggalan kepala tanpa kudeta.
“Operasi garis dalam Jokowi terhadap kekuasaan presiden ini sudah memasuki tahap empat, pemenggalan kepala tanpa kudeta,” kata Sri Radjasa Chandra dalam kanal Speak Up Abraham Samad dilansir Senin (7/9/2026).
Salah satu indikasi operasi senyap Jokowi kata Sri Radjasa terbaca dalam kerusuhan pada aksi unjuk rasa 27 Agustus 2026 lalu. Dia mengatakan kerusuhan yang berujung tewasnya Bambang Setyawan seorang pedagang cermin di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat itu tidak bisa dimaknai hanya sekadar bentrok antarwarga.
Dia menyebut kerusuhan itu melibatkan sejumlah pihak yang memang sudah dikendalikan kubu Jokowi. Sri Radjasa kemudian menyebut secara gamblang bahwa pihak yang dikendalikan itu adalah polisi, hal ini terlihat jelas dari beberapa kejadian pembakaran pos polisi dan pengrusakan fasilitas milik kepolisian. Bagi Sri Radjasa fasilitas milik aparat tak segampang itu dibakar atau dirusak massa, menurutnya ada indikasi pelibatan orang dalam.
“Ini demo 27 Agustus 2026 yang dua pihak dikendalikan. Yang ini dikendalikan, yang ngerusuh ini. Polisi dikendalikan. Kenapa bisa begitu mudahnya pos polisi dibakar?” kata Sri Radjasa.
Dalam penjelasannya, Sri Radjasa juga menyinggung sejumlah peristiwa lain yang terjadi di lapangan. Ia menyebut adanya serangan dari kelompok yang dikaitkannya dengan GRIB Jaya serta rangkaian kejadian yang menurut pandangannya berujung pada meninggalnya seseorang bernama Bambang.
Sri Radjasa kemudian mengaitkan kerusuhan tersebut dengan pertarungan kepentingan di tingkat elite. Menurut dia, gerakan massa atau people power dapat berubah menjadi instrumen politik apabila terdapat kelompok elite yang memiliki ambisi besar untuk mengubah atau merebut kekuasaan.
“Itu tadi melalui kerusuhan, people power. Elite punya syahwat untuk merebut kekuasaan sangat besar,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertarungan politik tidak hanya berlangsung secara terbuka di ruang publik. Sri Radjasa mengatakan persaingan kepentingan elite sudah berlangsung saat ini dan memperingatkan bahwa situasi tersebut berbahaya.
Baca Juga: Buntut Ngomong Prabowo Selesai Sebelum 2029, Budi Arie Disekolahin Jokowi
“Artinya pertarungan itu sudah terjadi saat ini. Ini bahaya,” pungkasnya.