Karena itu, riwayat kanker pada orang tua perlu dinilai secara menyeluruh, bukan menjadi alasan untuk langsung menyimpulkan bahwa anak memiliki risiko tinggi. Hal ini juga berlaku pada kanker ginjal. Orang tua yang pernah mengalami kanker ginjal tidak otomatis membuat anaknya mengalami penyakit serupa.
“Penilaian risiko perlu mempertimbangkan usia saat diagnosis, pola kanker dalam keluarga, serta kemungkinan adanya kelainan genetik tertentu,” tambah dr. Gilang.
Meski demikian, lanjut dr. Gilang, terdapat sejumlah kondisi yang patut menjadi perhatian dan dapat menjadi alasan untuk mempertimbangkan konseling atau pemeriksaan genetik.
Di antaranya adalah kanker yang muncul pada usia relatif muda, seseorang mengalami lebih dari satu jenis kanker primer, kanker yang tergolong langka, serta adanya tiga atau lebih anggota keluarga sedarah yang mengalami jenis kanker sama atau kanker yang berkaitan.
dr. Gilang juga menjelaskan, riwayat kanker pada anggota keluarga inti, terutama ketika diagnosis terjadi sebelum usia 50 tahun, juga dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan penilaian risiko genetik. Terlebih jika keluarga diketahui memiliki mutasi gen bawaan tertentu yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker.
Namun, pemeriksaan genetik tidak selalu perlu dilakukan langsung kepada anggota keluarga yang sehat. Menurut dr. Gilang, pemeriksaan sebaiknya diprioritaskan kepada anggota keluarga yang pernah atau sedang menderita kanker.
Jika pemeriksaan pada orang tersebut menemukan mutasi gen bawaan yang relevan, lanjut dia, anggota keluarga lainnya dapat menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah mereka turut mewarisi mutasi tersebut.
“Prioritas pertama pemeriksaan dilakukan pada orang yang pernah atau sedang menderita kanker. Anggota keluarga yang sehat baru diperiksa setelah tes pada anggota keluarga yang sakit menunjukkan adanya mutasi gen,” tandasnya.
Baca Juga: Rambut Beruban Tanda Tubuh Melawan Kanker? Pakar IPB Jelaskan Faktanya