Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BrMP) Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, menegaskan bahwa komoditas kakao Indonesia memiliki potensi besar dalam industri kakao global. Indonesia saat ini menempati posisi sebagai salah satu produsen utama kakao dunia, berada di peringkat ketiga atau keempat secara global.
“Kakao sebetulnya di Indonesia sebagai produsen utama dunia. Jadi kita produsen terbesar nomor 3 dan nomor 4 lah kira-kira di dunia,” ujarnya kepada Olenka beberapa waktu lalu.
Ia menyampaikan bahwa kualitas kakao Indonesia sudah diakui secara luas di pasar internasional karena keunggulan dari segi rasa dan aroma. Kualitas kakao di Indonesia terkenal sangat baik. Dari aspek rasa, aroma, dan kualitas, kakao Indonesia memang diakui sangat unggul, sehingga mendapatkan harga khusus.
Namun, pria yang karib disapa Boga ini menyoroti pentingnya menjaga konsistensi dan stabilitas kualitas kakao nasional agar tetap kompetitif di pasar global. Ia juga mengungkapkan bahwa nilai ekspor kakao Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Baca Juga: Kepala BSIP TRI Kementan: Hilirisasi dan Produktivitas, Kunci Kakao Indonesia Mendunia
“Periode tahun lalu, ekspor kakao kita sampai Rp3 triliun. Nilai ekspor ini sangat luar biasa untuk komoditas perkebunan dan masih bisa terus ditingkatkan, mengingat permintaan dunia yang makin meningkat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menilik terkait tantangan utama yang harus dihadapi oleh industri kakao dalam negeri adalah pengolahan pascapanen di tingkat petani. Banyak petani masih mengeringkan biji kakao secara langsung tanpa melalui proses fermentasi.
“Petani biasanya mengumpulkan buah kakao, kemudian langsung dikeringkan tanpa proses fermentasi. Padahal, kakao yang difermentasi tentu memiliki nilai jual dan kualitas yang lebih tinggi,” papar Boga.
Dengan meningkatkan praktik fermentasi, nilai ekspor kakao Indonesia bisa naik hingga 20-30 persen. Dengan volume yang sama tetapi kualitas lebih tinggi, harga kakao yang Indonesia terima dari pasar internasional juga lebih tinggi.
Baca Juga: Emban Tugas Baru, BPDPKS Kini Kelola Kelapa dan Kakao
Untuk itu, Boga mendorong petani kakao untuk tidak hanya fokus pada peningkatan produksi tetapi juga pada hilirisasi dan pengolahan pascapanen yang lebih baik. Dengan demikian, petani bisa mendapatkan nilai tambah dari hasil panen mereka, sementara Indonesia dapat semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri kakao global.
“Sebagai produsen, kita harus menjaga kualitas, menjaga produksi, dan memberikan jaminan kepada pasar terkait keamanan pangan dan stabilitas produksi. Itu yang menjadi tantangan utama kita saat ini,” tutupnya.