Kenali Pola Modus Penipuan yang Sering Terjadi
Dikatakan Nazrya, secara umum, berbagai modus penipuan yang marak terjadi biasanya memiliki pola tertentu yang dapat dikenali, seperti:
1. Manipulasi Psikologis (Social Engineering)
Dalam modus ini, pelaku memanfaatkan rasa percaya atau kepanikan korban dengan berpura-pura menjadi pihak tepercaya. Misalnya, menyamar sebagai kurir paket Lebaran, petugas bank, atau layanan pelanggan resmi.
Korban kemudian diminta memberikan data pribadi, termasuk kode OTP atau password, dengan alasan verifikasi keamanan atau pembaruan sistem.
Padahal, informasi tersebut dapat digunakan untuk mengambil alih akun korban. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak pernah membagikan data rahasia kepada siapa pun.
2. Umpan Keuntungan Instan (Baiting & FOMO)
Pelaku juga kerap memancing korban dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat. Contohnya promo atau diskon yang terdengar terlalu menggiurkan, seperti Diskon 90% hanya 5 menit atau Voucher terbatas untuk 50 orang pertama.
Selain itu, ada pula tawaran pekerjaan online yang menjanjikan komisi tambahan menjelang Lebaran, tetapi berujung pada permintaan deposit atau transfer dana dari korban.
Penawaran yang terlalu mendesak atau tidak masuk akal sering kali menjadi tanda awal adanya penipuan.
3. Pencurian Identitas Digital (Phishing)
Modus phishing dilakukan dengan mengirim tautan yang mengarah ke halaman login palsu yang dibuat menyerupai situs resmi. Perbedaannya sering kali sangat tipis, misalnya alamat domain yang hampir sama dengan situs asli.
Dalam beberapa kasus, pelaku juga menggunakan taktik company impersonation, yaitu mengatasnamakan pimpinan atau eksekutif perusahaan untuk meyakinkan korban.
Tujuannya adalah mencuri username, password, hingga detail kartu kredit ketika korban mencoba masuk ke akun mereka.
Untuk menghindari risiko ini, masyarakat disarankan hanya mengakses informasi dan melakukan transaksi melalui kanal resmi, serta selalu memeriksa alamat situs sebelum memasukkan data pribadi.
Nah Growthmates, berbagai modus penipuan tersebut umumnya memanfaatkan kondisi psikologis korban, seperti rasa terburu-buru, takut kehilangan promo, atau kekhawatiran paket tidak sampai tepat waktu.
Dalam situasi seperti itu, korban sering kali langsung bereaksi tanpa sempat memverifikasi informasi yang diterima. Karena itu, kewaspadaan digital tidak hanya bergantung pada kemampuan mengenali modus penipuan, tetapi juga pada kebiasaan sederhana untuk memberi JEDA sebelum bertindak.
Adapun, prinsip JEDA terdiri dari empat langkah sederhana, yakni:
- J – Jangan reaktif
- E – Evaluasi informasi
- D – Double-check
- A – Ambil keputusan dengan tenang
Melalui langkah tersebut, masyarakat diajak memberi ruang bagi logika untuk bekerja sebelum mengambil keputusan, baik dalam aktivitas digital maupun kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Data Blibli: Permintaan Busana Muslim Meningkat Tajam saat Ramadan