OCBC memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan dengan menggandeng 10 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengolah limbah tekstil menjadi produk circular fashion yang memiliki nilai ekonomi. Inisiatif ini dijalankan melalui Upcydea Festival 2026 sebagai upaya memperluas penerapan ekonomi sirkular sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi UMKM.
Program tersebut merupakan pengembangan dari inisiatif sustainability yang telah dijalankan OCBC sejak 2023. Jika sebelumnya perusahaan mengolah seragam karyawan yang sudah tidak digunakan menjadi berbagai produk baru melalui konsep upcycling, kini program tersebut diperluas dengan melibatkan UMKM agar dampak ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan semakin luas.
Baca Juga: Tumbuh Positif, OCBC Fokus Kembangkan Bisnis Wealth Management
Brand & Communication Head OCBC, Aleta Hanafi, mengatakan keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang baru melalui inovasi.
"Ketika sustainability diterapkan, akan muncul banyak peluang baru yang memicu inovasi. Karena itu, pemberdayaan UMKM bukan hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga kreativitas dalam menciptakan produk yang memiliki nilai tambah," ujarnya dalam acara Press Conference Upcydea Festival 2026 pada Rabu (05/08/2026).
Sebanyak 50 UMKM mendaftarkan diri untuk mengikuti program tersebut. Setelah melalui proses kurasi, OCBC memilih 10 peserta untuk mendapatkan pendampingan intensif dari para mentor.
Baca Juga: OCBC NISP Tetapkan Dividen Tunai Rp1,03 Triliun, Tegaskan Langkah Strategis 2026
Para peserta kemudian ditantang mengembangkan produk menggunakan material hasil daur ulang berupa seragam bekas dan kain hasil regenerasi.
Women Entrepreneurship Advocate sekaligus mentor program, Petty Fatimah, mengatakan pendampingan tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga membangun pemahaman mengenai konsep circular fashion.
Menurutnya, pelaku UMKM perlu melihat limbah tekstil sebagai sumber daya yang masih memiliki potensi ekonomi, bukan sekadar barang yang harus dibuang.
Baca Juga: Gandeng OCBC Sekuritas, Makmur Bidik Investor Saham Ritel Indonesia
"Produk yang dibuat bukan hanya harus menarik, tetapi juga memiliki cerita. Konsumen saat ini ingin mengetahui asal-usul sebuah produk, bagaimana produk itu dibuat, serta dampak positif yang dihasilkan," katanya.
Ia menambahkan, masih banyak pelaku usaha yang telah menerapkan praktik berkelanjutan, tetapi belum memahami konsep circular fashion secara utuh. Karena itu, program pendampingan dinilai penting agar aspek keberlanjutan dapat terintegrasi dalam proses bisnis.
Desainer Billy Tjong yang turut menjadi bagian dari program tersebut menilai keberlanjutan kini bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan yang harus diterapkan industri fashion.
Menurutnya, inovasi dapat dimulai dari pemanfaatan material yang selama ini dianggap tidak lagi bernilai menjadi produk baru dengan fungsi dan nilai estetika yang lebih tinggi.
Baca Juga: Mengenang Karmaka Surjaudaja, Sosok di Balik Besarnya Bank OCBC NISP
Melalui proses pendampingan tersebut, para UMKM berhasil menghasilkan beragam produk, mulai dari aksesori fesyen hingga perlengkapan sehari-hari berbahan daur ulang. Produk-produk tersebut akan dipasarkan dengan harga yang terjangkau sebagai upaya memperkenalkan konsep circular fashion kepada masyarakat.
Bagi OCBC, program ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi sirkular yang melibatkan dunia usaha, industri kreatif, dan masyarakat.
Selain mengurangi limbah tekstil, inisiatif ini juga diharapkan mampu memperkuat daya saing UMKM melalui inovasi produk yang berkelanjutan.