Indonesia telah lama menjadi pemasok utama patchouli atau nilam dunia. Komoditas yang menjadi bahan penting dalam industri parfum global tersebut menyumbang sekitar 80 persen kebutuhan pasar internasional. Namun, di balik besarnya kontribusi tersebut, peran para petani yang berada di hulu rantai pasok sering kali belum banyak mendapat perhatian.
Hal itulah yang mendorong ParagonCorp membawa kisah para petani nilam Sulawesi ke ajang Partnership for Forests Conference (P4F) yang digelar di Barbican Conservatory, London, Inggris, pada 29 Mei 2026.
Dalam forum yang mempertemukan pelaku usaha, investor, dan organisasi keberlanjutan dari berbagai negara tersebut, ParagonCorp hadir sebagai satu-satunya perusahaan kecantikan asal Indonesia yang berpartisipasi tahun ini.
Baca Juga: Petinggi ParagonCorp Ungkap Budaya Kekeluargaan di Kantor dengan 14 Ribu Karyawan
Deputy CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, mengatakan Indonesia memegang peranan penting dalam rantai pasok nilam dunia. Namun, menurutnya, kontribusi para petani yang menghasilkan komoditas tersebut kerap luput dari perhatian.
"Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam rantai pasok patchouli dunia. Namun, yang sering terlupakan adalah para petani yang berada di balik komoditas tersebut. Melalui forum ini, kami ingin membawa cerita mereka ke percakapan yang lebih luas," ujar Sari dalam keterangannya pada Sabtu (06/06/2026).
Baca Juga: Harman Subakat Bicara Soal Budaya Kerja dan Sistem Anti-Fraud di Paragon
Dalam kesempatan tersebut, ParagonCorp memperkenalkan rantai pasok nilam dari Sulawesi yang melibatkan lebih dari 700 petani aktif dalam jaringan yang telah mengantongi sertifikasi For Life dari Ecocert. Program tersebut mencakup pelatihan pertanian, dukungan kesehatan dan keselamatan kerja, serta penerapan praktik budidaya yang berorientasi pada keberlanjutan.
Nilam merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi karena banyak digunakan sebagai bahan baku parfum. Namun keberlanjutan pasokannya sangat bergantung pada kualitas lahan, praktik budidaya yang baik, serta kesejahteraan para petani yang mengelolanya.
Karena itu, sistem budidaya yang diterapkan dalam rantai pasok yang didukung ParagonCorp mengadopsi pendekatan pertanian regeneratif. Setelah empat kali panen dalam kurun waktu sekitar 15 bulan, lahan diistirahatkan melalui rotasi tanaman guna membantu memulihkan kesuburan tanah.
Selain itu, limbah hasil penyulingan nilam dimanfaatkan kembali menjadi kompos dan dikembalikan ke lahan pertanian sebagai bagian dari upaya menjaga siklus alami tanah.
Sari menjelaskan bahwa produksi minyak nilam membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar. Untuk menghasilkan satu kilogram minyak nilam, dibutuhkan sekitar 250 kilogram daun nilam segar.
"Dibutuhkan sekitar 250 kilogram daun patchouli segar untuk menghasilkan 1 kilogram minyak. Angka tersebut menunjukkan betapa besar kerja keras para petani dalam menghasilkan bahan yang kemudian digunakan dalam berbagai produk parfum di pasar global," katanya.
Partisipasi ParagonCorp dalam konferensi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun rantai pasok yang lebih transparan dan bertanggung jawab. Perusahaan menilai keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan sepanjang proses produksi.
Sebagai perusahaan kecantikan berbasis inovasi, ParagonCorp menyatakan akan terus mendorong pengembangan produk yang memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan secara bersamaan.
"Kami menyadari perjalanan ini masih panjang. Namun kami percaya bahwa perubahan dimulai dari langkah-langkah yang dilakukan secara konsisten. Bagi kami, kemajuan lebih penting daripada kesempurnaan," tutup Sari.