Menurutnya, tambang sapphire di kawasan tersebut telah lama ditutup sehingga batu yang beredar saat ini hanya berasal dari koleksi lama yang berpindah tangan dari satu kolektor ke kolektor lainnya.

"Kalau Kashmir Sapphire yang berada di market sekarang itu adalah batu yang sudah berpindah-pindah tangan. Tambangnya sudah tutup, jadi sangat-sangat langka dan pasti harganya juga sangat tinggi," ungkap Nicholas.

Tak hanya sapphire, Nicholas juga menjelaskan bahwa ruby memiliki karakteristik yang berbeda sesuai daerah asalnya. Menurutnya, Myanmar dikenal sebagai negara yang menghasilkan ruby dengan kualitas Pigeon Blood, yakni warna merah pekat yang sangat murni tanpa semburat warna lain.

"Myanmar memiliki ruby yang sangat terkenal dengan warna Pigeon Blood. Merahnya sangat pekat dan benar-benar merah, tanpa hue warna lain," katanya.

Sementara, ruby asal Mozambik cenderung memiliki warna merah yang sedikit lebih muda dengan sentuhan merah muda (pinkish). Batu dari negara tersebut juga dikenal memiliki kejernihan (clarity) dan kilau (luster) yang sangat baik.

Menurut Nicholas, kemampuan membedakan kualitas batu mulia membutuhkan pengalaman dan latihan yang panjang. Perbedaan gradasi warna yang tampak tipis di mata awam justru menjadi faktor utama yang menentukan nilai sebuah sapphire maupun ruby.

"Kemampuan mata itu memang harus dilatih. Sekilas semuanya terlihat merah atau biru, tetapi sebenarnya setiap batu memiliki karakter warna yang berbeda dan itulah yang menentukan nilainya," pungkas Nicholas.

Baca Juga: MONDIAL Precious Fire Hadir dengan Inspirasi Meteor, Lava, dan Api, Ini Keunikannya