Jeremy kemudian memaparkan bahwa kebutuhan khusus pada anak bukanlah hal yang jarang.
Ia pun menyebutkan bahwa sekitar 1 dari 5 anak belajar dengan cara yang berbeda. Kondisi seperti autisme, ADHD, dan disleksia hanyalah sebagian dari spektrum kebutuhan tersebut.
Namun, tantangan tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga oleh orang tua dan lingkungan sekitar.
“Lebih dari 80% caregiver mengalami tingkat stres yang tinggi. Ini bukan perjalanan yang mudah, dan tidak ada yang benar-benar berjalan sendirian,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa solusi tidak cukup hanya dengan menambah sekolah atau tenaga pendidik. Perubahan paling mendasar justru terletak pada cara pandang masyarakat.
“Bagian terbesar dari solusi adalah perubahan mindset,” tegas Jeremy.
Salah satu poin penting yang ditekankan Jeremy adalah bagaimana cara kita merespons perilaku anak. Ia mengajak untuk mengganti pertanyaan yang menghakimi menjadi pertanyaan yang lebih empatik.
“Daripada bertanya ‘Kenapa anak ini seperti itu?’, coba ubah menjadi ‘Apa yang ingin dia sampaikan?’,” katanya.
Menurutnya, perilaku anak sering kali merupakan bentuk komunikasi, terutama ketika mereka belum mampu mengungkapkan kebutuhan secara verbal.
Jeremy juga menyoroti kecenderungan masyarakat untuk cepat menghakimi, misalnya saat melihat anak yang rewel di tempat umum.
“Mengapa kita langsung mengambil kesimpulan negatif? Bagaimana jika kita mencoba memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan anak itu?” ujarnya.
Selain perubahan pola pikir, Jeremy menekankan pentingnya menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhan anak, bukan sebaliknya.

Ia mencontohkan kondisi ketika anak mengalami tantrum. Alih-alih langsung menganggap itu sebagai perilaku buruk, penting untuk melihat apakah lingkungan terlalu menstimulasi atau tidak sesuai bagi anak tersebut.
“Ketika anak tidak ter-regulasi, biasanya ada sesuatu di lingkungannya yang tidak sesuai,” tambahnya.
Di akhir pemaparannya, Jeremy mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kekuatan yang unik. Tantangannya adalah menemukan dan mengembangkan potensi tersebut.
“Setiap anak punya kekuatan. Kita hanya perlu mencarinya dengan cukup sungguh-sungguh,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan berbasis kekuatan tidak hanya berlaku bagi anak neurodivergent, tetapi untuk semua individu. Dengan mengenali apa yang menjadi keunggulan seseorang, proses belajar dan berkembang akan menjadi lebih efektif dan bermakna.
Jeremy merangkum pendekatannya dalam empat langkah utama, yakni perubahan mindset, penyesuaian lingkungan, pengembangan berbasis kekuatan, dan fokus pada potensi.
“Ketika kita mengubah cara berpikir, kita juga mengubah hasilnya,” tutupnya.
Baca Juga: Lingkungan Aman Bagi Anak Neurodivergent Lebih dari Sekadar Anti-Perundungan