Pemahaman tentang anak dan cara mereka berkembang masih sering dibayangi oleh persepsi yang keliru. Dan, bagi banyak orang, psikolog sendiri kerap dianggap mampu ‘membaca pikiran’.
Namun, Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist Agape Psychology, menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat.
“Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah bahwa psikolog bisa membaca pikiran. Itu tidak benar. Saya tidak bisa melakukan itu. Saya bukan psikis,” ungkap Jeremy, saat acara Diskusi Media 'Memahami Neurodiversity dan Peran Orang Tua dalam Mendukung Anak’, yang digelar Atelier of Minds, di Jakarta, belum lama ini.
Alih-alih membaca pikiran, Jeremy mengajak publik untuk memahami manusia, terutama anak-anak melalui perspektif yang lebih luas.
Ia mengawali penjelasannya dengan analogi sederhana, sebuah pensil. Menurutnya, benda yang tampak sederhana itu sebenarnya tersusun dari berbagai komponen yang berasal dari berbagai belahan dunia, mulai dari kayu hingga karet dan logam dari wilayah berbeda.
Melalui analogi tersebut, Jeremy ingin menekankan bahwa kehidupan manusia juga dibentuk oleh banyak faktor.
“Kita semua harus bekerja bersama agar masyarakat bisa berfungsi. Bukan hanya satu orang, tetapi semua punya peran,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa perkembangan anak bukanlah sesuatu yang statis atau memiliki ‘akhir’.
“Perilaku anak adalah sebuah cerita yang terus berjalan. Ini bukan sesuatu yang final. Yang perlu kita fokuskan adalah prosesnya, bukan hasil akhirnya,” katanya.
Dalam paparannya, Jeremy juga menyoroti konsep neurodiversity, istilah yang relatif baru dalam dunia psikologi. Ia menjelaskan bahwa neurodiversity merujuk pada perbedaan cara kerja otak manusia, bukan sebuah kekurangan.
“Neurodiversity adalah tentang perbedaan. Ini bukan penutupan atau sesuatu yang harus ‘diperbaiki’,” ungkapnya.
Ia juga mengajak audiens untuk melihat konsep ‘normal’ sebagai sesuatu yang sangat relatif.
“Bagaimana jika suatu hari jumlah individu neurodivergent lebih banyak daripada neurotypical? Maka definisi ‘normal’ pun akan berubah. Ini semua soal perspektif,” jelasnya.
Untuk memperkuat sudut pandang tersebut, Jeremy menghadirkan contoh tokoh dunia yang dikenal luas namun juga merupakan bagian dari neurodivergent, seperti Michael Phelps yang memiliki ADHD, Pengusaha Richard Branson dengan ADHD dan disleksia, serta Aktris, Emma Watson yang juga mengalami disleksia.
Dari Indonesia, Jeremy juga menyebut Ananda Sukarlan sebagai contoh individu neurodivergent yang sukses di bidangnya.
“Michael Phelps mengubah ADHD-nya menjadi kekuatan dalam berenang. Mereka menemukan cara yang bekerja untuk mereka,” ujarnya.
Baca Juga: Atelier of Minds Gandeng Agape Psychology Singapura Perkuat Layanan Enrichment Inklusif
Jeremy kemudian memaparkan bahwa kebutuhan khusus pada anak bukanlah hal yang jarang.
Ia pun menyebutkan bahwa sekitar 1 dari 5 anak belajar dengan cara yang berbeda. Kondisi seperti autisme, ADHD, dan disleksia hanyalah sebagian dari spektrum kebutuhan tersebut.
Namun, tantangan tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga oleh orang tua dan lingkungan sekitar.
“Lebih dari 80% caregiver mengalami tingkat stres yang tinggi. Ini bukan perjalanan yang mudah, dan tidak ada yang benar-benar berjalan sendirian,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa solusi tidak cukup hanya dengan menambah sekolah atau tenaga pendidik. Perubahan paling mendasar justru terletak pada cara pandang masyarakat.
“Bagian terbesar dari solusi adalah perubahan mindset,” tegas Jeremy.
Salah satu poin penting yang ditekankan Jeremy adalah bagaimana cara kita merespons perilaku anak. Ia mengajak untuk mengganti pertanyaan yang menghakimi menjadi pertanyaan yang lebih empatik.
“Daripada bertanya ‘Kenapa anak ini seperti itu?’, coba ubah menjadi ‘Apa yang ingin dia sampaikan?’,” katanya.
Menurutnya, perilaku anak sering kali merupakan bentuk komunikasi, terutama ketika mereka belum mampu mengungkapkan kebutuhan secara verbal.
Jeremy juga menyoroti kecenderungan masyarakat untuk cepat menghakimi, misalnya saat melihat anak yang rewel di tempat umum.
“Mengapa kita langsung mengambil kesimpulan negatif? Bagaimana jika kita mencoba memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan anak itu?” ujarnya.
Selain perubahan pola pikir, Jeremy menekankan pentingnya menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhan anak, bukan sebaliknya.

Ia mencontohkan kondisi ketika anak mengalami tantrum. Alih-alih langsung menganggap itu sebagai perilaku buruk, penting untuk melihat apakah lingkungan terlalu menstimulasi atau tidak sesuai bagi anak tersebut.
“Ketika anak tidak ter-regulasi, biasanya ada sesuatu di lingkungannya yang tidak sesuai,” tambahnya.
Di akhir pemaparannya, Jeremy mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kekuatan yang unik. Tantangannya adalah menemukan dan mengembangkan potensi tersebut.
“Setiap anak punya kekuatan. Kita hanya perlu mencarinya dengan cukup sungguh-sungguh,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan berbasis kekuatan tidak hanya berlaku bagi anak neurodivergent, tetapi untuk semua individu. Dengan mengenali apa yang menjadi keunggulan seseorang, proses belajar dan berkembang akan menjadi lebih efektif dan bermakna.
Jeremy merangkum pendekatannya dalam empat langkah utama, yakni perubahan mindset, penyesuaian lingkungan, pengembangan berbasis kekuatan, dan fokus pada potensi.
“Ketika kita mengubah cara berpikir, kita juga mengubah hasilnya,” tutupnya.
Baca Juga: Lingkungan Aman Bagi Anak Neurodivergent Lebih dari Sekadar Anti-Perundungan