Dijadwalkan meluncur pada kuartal kedua 2025, cloud region Microsoft di Indonesia yang dinamakan Indonesia Central, akan menjadi bagian dari jaringan global Microsoft yang memiliki lebih dari 60 cloud region—jumlah terbanyak dari penyedia cloud global. Menurut laporan riset terbaru IDC, peluncuran Indonesia Central region akan: 

  • Membantu mempercepat adopsi cloud dan menciptakan nilai ekonomi sebesar $2,5 miliar. Angka ini sekitar 16,5% dari total $15,2 miliar nilai ekonomi baru yang diproyeksikan akan dihasilkan oleh Microsoft, partner, dan cloud customer Microsoft selama empat tahun ke depan (2025-2028).

  • Membantu Microsoft, partner, dan cloud customer Microsoft untuk menambahkan 106.295 pekerjaan baru dari berbagai sektor seperti manufaktur dan sumber daya, keuangan, komunikasi dan media, layanan profesional, serta pemerintahan dalam empat tahun ke depan (2025-2028). 

Memasuki Tahun Kedua AI, Microsoft dan Partner Telah Membantu Melatih Lebih Dari 700.000 Orang di Indonesia, yang Kini Dipercepat oleh elevAIte Indonesia 

Dengan semakin banyaknya individu dan organisasi yang mengadopsi AI, kebutuhan akan talenta yang siap menghadapi era ini pun terus meningkat. Dalam dua tahun terakhir era baru AI, Microsoft dan partners telah membantu melatih 704.342 masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia dengan keterampilan digital yang dibutuhkan untuk berkembang di era ekonomi berbasis AI.  

Upaya pengembangan keterampilan ini semakin dipercepat dengan peluncuran elevAIte Indonesia pada Desember 2024, sebuah kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) untuk melatih 1 juta masyarakat Indonesia dengan keterampilan AI spesifik pada 2025. 

Hanya dalam tiga bulan sejak peluncuran program tersebut, elevAIte Indonesia sudah menggandeng 18 mitra dari berbagai sektor – termasuk pemerintahan, industri, pendidikan, dan komunitas – guna memastikan pelatihan AI yang inklusif di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Gandeng Microsoft, GoTo Group Tingkatkan Produktivitas Tim Engineering dengan Solusi AI

“Ramadan menjadi momentum yang baik untuk berbagi ilmu, membuka lebih banyak peluang, dan memberdayakan komunitas – nilai-nilai yang mendasari program elevAIte Indonesia. Melalui program ini, tujuan kami adalah memastikan lebih banyak changemaker terlepas dari latar belakangnya memiliki akses terhadap keterampilan yang bisa membantu mereka berkembang di masa depan berbasis AI,” lanjut Dharma. 

Di antara mitra yang telah bergabung dalam program elevAIte Indonesia adalah Biji-biji Initiative, Dicoding, dan NUCare Global by LAZISNU, yang masing-masing berperan dalam memperluas akses keterampilan AI dan pemberdayaan digital di berbagai lapisan masyarakat. 

  • Biji-biji Initiative, sebuah perusahaan sosial yang berfokus pada teknologi dan keberlanjutan, memberdayakan masyarakat dan angkatan kerja untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam rangka mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan mereka, mencerminkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih bermakna.

  • Dicoding, platform pendidikan digital terkemuka, membantu masyarakat—termasuk programmer—untuk membangun kompetensi AI yang memungkinkan mereka berkontribusi pada perkembangan ekonomi digital Indonesia.

  • NUCare Global oleh LAZISNU, sebuah inisiatif dari LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama) PBNU, lembaga filantropi Islam di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pendidikan, kewirausahaan, dan transformasi digital, membantu perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk ibu rumah tangga dan pemilik usaha kecil, untuk mendapatkan keterampilan AI yang diperlukan, guna membuka peluang baru melalui program Perempuan Pandai AI (PandAI), yang juga merupakan bagian dari elevAIte. 

"Ramadan adalah waktu untuk berbagi ilmu dan memberdayakan komunitas. Program elevAIte yang berkolaborasi dengan Microsoft dan Kemkomdigi telah berperan penting dalam membawa keterampilan AI ke komunitas yang belum terlalu terlibat dalam transformasi digital—terutama perempuan dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga hingga pemilik usaha kecil," kata Habib Ali Hasan Al Bahar, Ketua LAZISNU PBNU.