Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya menjadi juru damai konflik Iran dan Israel serta Amerika Serikat. Prabowo ingin datang sebagai penengah demi meredam konflik yang semakin meluas tersebut.
Pernyataan Prabowo mendapat tanggapan beragam, banyak pihak bahkan menanggapi sinis hal tersebut, pernyataan Prabowo dianggap mustahil untuk direalisasikan lantaran posisi Indonesia di level global dinilai tak punya nilai tawar. Meski demikian pernyataan Prabowo direspons positif Pemerintah Iran lewat Kedutaan Besar mereka di Jakarta.
Baca Juga: Prabowo Siap Mediasi Konflik Iran, Jusuf Kalla: Mereka Sulit Didamaikan
Kendati nilai tawar Indonesia rendah di level global, namun Prabowo sendiri dinilai punya modal cukup sebagai penengah yang dapat memediasi negara-negara yang terlibat konflik.
Direktur Geopolitik Great Institute, Teguh Santosa mengatakan, selama masa pemerintahannya, Prabowo gencar membangun relasi dengan negara luar lewat berbagai kerja sama termasuk Amerika Serikat yang menjadi salah satu aktor konflik Iran. Hal ini dinilai menjadi salah satu modal utama bagi Prabowo untuk mengajukan diri sebagai mediator konflik Iran.
"Saya kira sangat tepat Presiden Prabowo menawarkan diri untuk menjadi mediator karena kita sama-sama lihat belakangan ini performa Presiden di panggung internasional dan interaksinya dengan pemimpin-pemimpin dunia kunci sedang bagus," kata Teguh saat dikonfirmasi Rabu (4/3/2026).
Prabowo memang sedang membangun relasi dengan sejumlah negara kuat, belum lama ini Kepala Negara melakukan kunjungan ke sejumlah negara usai menghadiri pertemuan Board of Peace dimana ia bertemu Presiden AS Donald Trump, mengunjungi Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah, Raja Abdullah II ibn Al Hussein dan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Mohammed bin Zayed Al Nahyan atau MBZ.
Dalam pertemuannya dengan para pemimpin negara, Teguh meyakini bahwa Presiden Prabowo juga berkomunikasi tentang upaya menciptakan perdamaian yang tidak hanya di Gaza, tapi juga di berbagai tempat di muka bumi, khususnya kawasan Timur Tengah.
"Jadi saya kira modal politik di panggung global yang dimiliki oleh Presiden Prabowo ini cukup untuk bisa mengajak semua pihak menemukan titik tengah," ujarnya.
Konflik Iran sebelum benar-benar pecah pada akhir pekan lalu sebetulnya sudah dimediasi oleh Oman di Jenewa, Swiss. Dimana mediasi itu dikatakan hampir berhasil, namun Israel-AS secara tiba-tiba menyerang Iran.
"Jadi saya pikir barangkali diperlukan pihak yang memang baru, pemain baru, untuk menjadi mediator yang relatif bisa diterima oleh pihak-pihak yang bertikai," ungkapnya.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan keterangan resmi pasca meletusnya serangan militer ke Iran yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS).
Pemerintah Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi.
"Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai," tulis Kemlu melalui keterangannya, Sabtu (28/2/2026).
Presiden Prabowo Subianto disebut bersedia untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kondisi keamanan yang kondusif. Bahkan, Presiden Prabowo juga siap jika harus bertolak ke Teheran, Iran, guna memediasi secara langsung.
"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," tulisnya.