KH Samanhudi merupakan tokoh yang berperan penting membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya persatuan dan kemandirian ekonomi di masa penjajahan.
Ia mengkoordinasikan masyarakat melalui pendekatan ekonomi berbasis perdagangan, khususnya di kalangan pedagang batik di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Buah pikirannya yang kelak melahirkan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang resmi ia dirikan pada 1905.
Baca Juga: Sekar Setaman, Harmoni Keindahan Batik Danar Hadi
“Beliau mengorganisasikan kekuatan rakyat melalui wadah ekonomi, yakni Sarekat Dagang Islam, sebagai langkah awal dalam menghadapi dominasi kolonial,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon dilansir Sabtu (28/3/2026).
Sarekat Dagang Islam kemudian bertransformasi menjadi Sarekat Islam pada 1912 di bawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto.
Perubahan ini menandai perkembangan penting dalam arah perjuangan bangsa. Organisasi tersebut tidak lagi berfokus pada ekonomi, tetapi juga masuk ke ranah politik sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.
“Perubahan ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya berfokus pada ekonomi, tetapi juga berkembang menjadi gerakan yang memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan,” tambahnya.
KH Samanhudi lahir pada 1868 di Surakarta. Ia dikenal sebagai saudagar batik yang sukses sekaligus pelopor gerakan ekonomi pribumi.
Sarekat Dagang Islam didirikan pada 1905 untuk melindungi kepentingan pedagang pribumi dari dominasi pedagang asing. Organisasi ini kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam, salah satu organisasi massa terbesar pada masa pergerakan nasional.
Atas jasanya, KH Samanhudi dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 1961. Ia wafat pada 1956 dan dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Fadli berharap kegiatan ziarah ke Makam KH Samanhudi yang dilakukannya baru-baru ini dapat memperkuat kesadaran sejarah sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap perjuangan para pendahulu bangsa.
Baca Juga: 3 Langkah Strategi Heritage Tech Batik Keris di Era Fesyen Digital
Komitmen untuk mengangkat nilai-nilai sejarah terus diperkuat sebagai bagian dari pembangunan karakter dan kebudayaan nasional.