Growthmates, pernahkah Anda merasa cemas berlebihan saat membicarakan uang, takut melihat saldo rekening, sulit menikmati hasil kerja sendiri, atau selalu merasa tidak pernah punya cukup meski kondisi finansial sudah membaik? Bisa jadi, hal tersebut bukan sekadar kebiasaan mengatur keuangan, melainkan berkaitan dengan money trauma.
Money trauma sering kali berakar dari pengalaman masa kecil yang meninggalkan luka emosional terkait uang. Mulai dari pernah mengalami kesulitan ekonomi, menahan lapar, hingga tumbuh dengan keyakinan bahwa mencari uang adalah sesuatu yang sangat sulit, pengalaman-pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang dan mengelola keuangan hingga dewasa.
Psikolog Klinis sekaligus Trauma Therapist, Audrey Susanto, M.Psi., M.Sc., Psi., SEP, menjelaskan bahwa langkah paling tepat untuk memulihkan money trauma bukan sekadar mengikuti tips finansial yang beredar di media sosial.
Menurutnya, setiap orang memiliki akar trauma, dampak, serta respons yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang juga berbeda.
"Cara paling efektif, efisien, dan ekonomis adalah bekerja bersama dengan psikolog yang punya bidang keahlian di bidang trauma, khususnya kalau bisa mencari yang di financial trauma. Itu cara paling efektif, efisien, dan ekonomis," tutur Audrey, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @qm_financial, Senin (20/7/2026).
Audrey mencontohkan, seseorang yang semasa kecil pernah mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, seperti menahan lapar karena kondisi ekonomi keluarga, dapat membawa luka emosional yang memengaruhi kebiasaan finansial di masa depan. Namun, bentuk respons yang muncul tidak selalu sama.
Baca Juga: Benarkah Perempuan Lebih Jago Multitasking? Psikolog Ungkap Fakta di Baliknya
Ia menjelaskan bahwa dua orang yang memiliki pengalaman traumatis serupa bisa menunjukkan perilaku keuangan yang bertolak belakang ketika dewasa.
Misalnya, sama-sama tumbuh di lingkungan yang terus-menerus mengatakan bahwa mencari uang itu sulit dan tidak boleh boros. Meski berasal dari pengalaman yang sama, hasil akhirnya bisa berbeda.
"Ada orang-orang tertentu yang mungkin akan jadi sangat menghemat uang, tetapi ada juga yang setiap kali memiliki uang justru langsung menghamburkannya," jelas Audrey.
Menurutnya, perbedaan tersebut terjadi karena setiap individu memiliki cara masing-masing dalam memproses trauma. Oleh sebab itu, tidak ada satu solusi yang bisa diterapkan kepada semua orang.
"Padahal datang dari perilaku traumatis yang sama, event traumatis yang sama, tapi responsnya bisa sangat berbeda. Ketika respons traumanya berbeda, penanganannya juga jadi akan beda. Jadi ketika aku memberikan saran untuk satu orang, sangat besar kemungkinannya itu tidak akan efektif untuk orang lain," ungkapnya.
Karena itulah, Audrey menekankan pentingnya mendapatkan pendampingan profesional yang memahami trauma, terutama yang memiliki kompetensi dalam menangani financial trauma.
Dengan begitu, kata dia, proses pemulihan dapat disesuaikan dengan akar masalah, kondisi psikologis, dan kebutuhan masing-masing individu sehingga hubungan dengan uang dapat dibangun kembali secara lebih sehat.
“Jadi bekerjasamalah dengan psikolog yang punya bidang keahlian di bidang trauma,” pungkasnya.
Baca Juga: Cara Menghadapi Rekan Kerja dengan NPD Menurut Psikolog