Anggapan bahwa perempuan secara alami lebih pandai melakukan multitasking sudah lama melekat di masyarakat. Tak sedikit perempuan yang merasa harus mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan sekaligus, mulai dari urusan rumah tangga, mengasuh anak, hingga tuntutan pekerjaan di kantor.
Namun, Psikolog Klinis sekaligus Founder & Impact Oriented Business Leader, Analisa Widyaningrum, menilai anggapan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh stereotip sosial daripada perbedaan kemampuan otak antara laki-laki dan perempuan.
Menurut Analisa, perempuan yang berkarier sering kali dibayangi ekspektasi untuk tetap menjadi sosok yang sempurna di rumah. Sementara itu, laki-laki cenderung tidak menghadapi tuntutan serupa ketika berhasil dalam kariernya.
"Istilah multitasking ini tuh awalnya sebenarnya berawal dari stereotype. Karena kalau perempuan berkarier, seolah ada pertanyaan di baliknya, 'keluarganya gimana nih?'. Jadi akhirnya dia menaruh ekspektasi itu di dalam perjalanan karier dia. Dia pengen sempurna di rumah, sempurna di kantor," tutur Analisa, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka dari Instagram @parentalk.id, Minggu (19/7/2026).
Analisa menambahkan, ketika seorang laki-laki sukses dalam pekerjaannya, masyarakat jarang mempertanyakan bagaimana perannya sebagai ayah di rumah. Kondisi tersebut membuat laki-laki secara tidak sadar tidak dibebani ekspektasi yang sama besarnya dalam urusan domestik.
"Kalau laki-laki ketika kariernya bagus, dia tidak dipertanyakan. Nggak ada yang nanya, 'dia bapaknya gimana tuh di rumah?'. Sehingga laki-laki ini secara tidak sadar tidak menaruh ekspektasi yang cukup besar di dalam perannya di rumah. Padahal makanya figur fatherless ini jadi sebuah hal yang dipertanyakan," jelasnya.