Ia menjelaskan bahwa dua orang yang memiliki pengalaman traumatis serupa bisa menunjukkan perilaku keuangan yang bertolak belakang ketika dewasa.
Misalnya, sama-sama tumbuh di lingkungan yang terus-menerus mengatakan bahwa mencari uang itu sulit dan tidak boleh boros. Meski berasal dari pengalaman yang sama, hasil akhirnya bisa berbeda.
"Ada orang-orang tertentu yang mungkin akan jadi sangat menghemat uang, tetapi ada juga yang setiap kali memiliki uang justru langsung menghamburkannya," jelas Audrey.
Menurutnya, perbedaan tersebut terjadi karena setiap individu memiliki cara masing-masing dalam memproses trauma. Oleh sebab itu, tidak ada satu solusi yang bisa diterapkan kepada semua orang.
"Padahal datang dari perilaku traumatis yang sama, event traumatis yang sama, tapi responsnya bisa sangat berbeda. Ketika respons traumanya berbeda, penanganannya juga jadi akan beda. Jadi ketika aku memberikan saran untuk satu orang, sangat besar kemungkinannya itu tidak akan efektif untuk orang lain," ungkapnya.
Karena itulah, Audrey menekankan pentingnya mendapatkan pendampingan profesional yang memahami trauma, terutama yang memiliki kompetensi dalam menangani financial trauma.
Dengan begitu, kata dia, proses pemulihan dapat disesuaikan dengan akar masalah, kondisi psikologis, dan kebutuhan masing-masing individu sehingga hubungan dengan uang dapat dibangun kembali secara lebih sehat.
“Jadi bekerjasamalah dengan psikolog yang punya bidang keahlian di bidang trauma,” pungkasnya.
Baca Juga: Cara Menghadapi Rekan Kerja dengan NPD Menurut Psikolog