Dalam beberapa tahun terakhir, istilah hustle culture semakin populer di kalangan profesional muda, wirausaha, hingga pekerja kreatif. Budaya ini mempromosikan kerja keras tanpa henti sebagai kunci utama menuju kesuksesan. Kesibukan dipandang sebagai simbol pencapaian, sementara waktu istirahat kerap dianggap sebagai kemunduran.

Namun, di balik narasi ambisi dan produktivitas tinggi, muncul pertanyaan mendasar, yakni apakah bekerja tanpa jeda benar-benar membawa kesejahteraan, atau justru menyisakan persoalan baru?

Apa Itu Hustle Culture?

Secara sederhana, hustle culture adalah budaya yang menempatkan kerja keras ekstrem sebagai identitas dan tolok ukur nilai diri. Seseorang dianggap sukses ketika ia terlihat sibuk, memiliki banyak proyek, dan terus meningkatkan capaian.

Baca Juga: Memahami Istilah Work-Life Balance: Strategi Menyeimbangkan Karier dan Kehidupan Pribadi

Konsep ini berkembang seiring kemajuan teknologi digital yang memungkinkan orang bekerja kapan saja dan di mana saja. Batas antara ruang personal dan profesional menjadi semakin tipis. Notifikasi email di malam hari, rapat daring lintas waktu, hingga budaya always on memperkuat pola kerja tanpa henti.

Alih-alih “bekerja cerdas”, banyak individu terdorong untuk membuktikan dedikasi melalui jam kerja panjang. Produktivitas kemudian direduksi menjadi kuantitas waktu, bukan kualitas hasil.

Akar Psikologis: Teori Perbandingan Sosial

Fenomena ini tidak lepas dari dinamika psikologis. Menurut teori perbandingan sosial yang dikemukakan oleh Leon Festinger, individu secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan dan pencapaiannya.

Di era media sosial, proses perbandingan ini berlangsung lebih intens. Linimasa dipenuhi unggahan tentang promosi jabatan, pencapaian bisnis, sertifikat pelatihan, hingga gaya hidup produktif. Tanpa disadari, muncul tekanan konstan untuk selalu “lebih sukses” dan tidak tertinggal.

Perbandingan yang terus-menerus dapat memicu kecemasan performatif atau dorongan untuk selalu terlihat produktif demi validasi sosial.

Baca Juga: 7 Rutinitas Pagi untuk Profesional Bekerja agar Lebih Produktif

Glorifikasi Kerja Tanpa Henti

Budaya ini juga diperkuat oleh narasi motivasional yang mengagungkan kerja 18 jam sehari, tidur minim, dan mengorbankan kehidupan pribadi demi karier. Istilah seperti rise and grind atau no days off menjadi slogan yang populer.

Dikutip dari laman Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, individu yang terjebak dalam pola hustle culture cenderung merasa harus terus bekerja keras dan hanya menyisakan sedikit waktu untuk istirahat. Lembur melampaui batas wajar dianggap sebagai konsekuensi logis menuju kesuksesan.

Padahal, secara fisiologis dan psikologis, tubuh manusia memiliki batas kapasitas energi dan fokus. Ketika batas tersebut diabaikan, dampaknya tidak hanya pada performa kerja, tetapi juga kesehatan jangka panjang.

Dampak Positif

Tidak dapat dimungkiri, dalam kadar tertentu, semangat kerja keras dapat menumbuhkan sejumlah nilai positif. Budaya ini kerap dikaitkan dengan:

Baca Juga: 5 Usaha Sampingan Online yang Bisa Dimulai Sambil Tetap Bekerja Penuh Waktu

  • Disiplin dan konsistensi
  • Target yang jelas
  • Ketahanan mental
  • Rasa tanggung jawab tinggi
  • Orientasi pada pencapaian

Dalam konteks kewirausahaan, etos kerja yang kuat memang menjadi salah satu faktor penting dalam membangun usaha dari nol.

Namun, masalah muncul ketika kerja keras berubah menjadi obsesi dan mengorbankan keseimbangan hidup.

Risiko Serius bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Tekanan kerja berkepanjangan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti:

  • Kelelahan kronis (burnout)
  • Gangguan tidur
  • Stres berkepanjangan
  • Penurunan sistem imun
  • Masalah kardiovaskular

Secara mental, individu dapat mengalami kecemasan, perasaan tidak pernah cukup (never enough syndrome), hingga kehilangan makna dalam pekerjaan yang dijalani.

Baca Juga: 3 Kebiasaan Setelah Bekerja yang Bisa Mengubah Tubuh dan Pikiran dalam 30 Hari

Ironisnya, ketika produktivitas dipaksakan terus-menerus, kualitas kerja justru menurun. Otak yang lelah sulit berpikir kreatif dan strategis.

Peran Media Sosial dan Budaya Korporasi

Media sosial berperan besar dalam memperkuat hustle culture. Algoritma cenderung menampilkan narasi kesuksesan, sementara proses kegagalan atau kelelahan jarang dipublikasikan.

Di sisi lain, sebagian budaya korporasi masih menganggap lembur sebagai indikator loyalitas. Karyawan yang pulang tepat waktu kadang dinilai kurang berdedikasi, meskipun hasil kerjanya optimal.

Perubahan paradigma diperlukan, baik di tingkat individu maupun organisasi, untuk menilai kinerja berdasarkan hasil dan dampak, bukan semata-mata durasi kerja.

Menuju Produktivitas yang Sehat

Menjaga kesehatan mental bukan berarti bekerja lebih sedikit, melainkan bekerja secara sadar dan terarah. Produktivitas yang berkelanjutan lahir dari keseimbangan, bukan dari eksploitasi diri.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menetapkan batas waktu kerja yang jelas.
  • Mengelola prioritas dan beban tugas secara realistis.
  • Memberi ruang untuk istirahat dan pemulihan energi.
  • Mengurangi perbandingan sosial yang tidak sehat.
  • Membangun budaya kerja yang menghargai keseimbangan hidup.

Pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa sibuk seseorang terlihat, tetapi tentang seberapa bermakna hidup yang dijalani. Tubuh memiliki batas, dan jiwa memiliki kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi semata-mata dengan kesibukan tanpa henti.