Oleh Dr. dr. Lianda Siregar, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K), FACG, FINASIM
Hepatitis merupakan kondisi peradangan pada organ hati (liver). Sebelumnya, hepatitis diketahui hanya disebabkan oleh infeksi virus hepatitis (A, B, C, D, dan E). Namun, ternyata peradangan hati ini juga dapat disebabkan oleh faktor non-infeksi, seperti penumpukan lemak berlebih di organ hati dan kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Asosiasi Hati Dunia memperbarui istilah perlemakan hati menjadi Metabolic Dysfunction-Associated Fatty Liver Disease (MAFLD) atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).
Istilah ini merujuk pada kondisi penumpukan lemak di organ hati yang berkaitan dengan gangguan disfungsi metabolik tubuh, seperti obesitas, diabetes melitus, kadar kolesterol tinggi, dan hipertensi.
Baca Juga: Penyakit Jantung Bawaan Baru Ketahuan Saat Dewasa, Apa Bedanya dengan yang Terdeteksi Sejak Lahir?
Penumpukan lemak yang dibiarkan tanpa penanganan memicu timbulnya peradangan pada organ hati (steatohepatitis). Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan kerusakan jangka panjang yang sama bahayanya dengan virus hepatitis B dan C, seperti jaringan parut pada organ hati (fibrosis), sirosis, hingga kanker hati
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, hepatitis dapat dibedakan menjadi dua kondisi, antara lain: Hepatitis akut (A, B, C, D, dan E).
Pada fase akut, peradangan hati terjadi secara mendadak. Penanganannya berfokus pada meredakan gejala, menjaga keseimbangan cairan tubuh, hingga memantau fungsi hati. Sistem kekebalan tubuh umumnya akan bekerja untuk memulihkan diri dari infeksi virus.
Hepatitis kronis (B dan C) Hepatitis kronis merupakan peradangan organ hati yang berlangsung lebih dari 6 bulan dan berisiko merusak jaringan hati secara bertahap menjadi sirosis, gagal hati, hingga kanker hati jika tidak ditangani dengan baik. Adapun beberapa penyebab utama hepatitis kronis antara lain:
Virus hepatitis B dan C (HBV & HCV)
Virus hepatitis B dan C adalah jenis infeksi virus yang paling sering berkembang menjadi kronis. Virus ini tidak dapat sepenuhnya hilang dari tubuh, tetapi dapat dikelola secara efektif dengan penanganan yang tepat.
Terapi pengobatan bertujuan menekan perkembangbiakan virus, mempertahankan fungsi hati, serta menghambat perkembangan penyakit.
Perlemakan hati metabolik/metabolic dysfunction-associated fatty liver disease (MAFLD) Penumpukan lemak berlebih akibat faktor metabolik seperti obesitas, diabetes, dan kolesterol tinggi yang memicu peradangan kronis pada sel hati.
Alkohol
Kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang membuat organ hati bekerja keras memproses racun, Hal ini menyebabkan penumpukan lemak, peradangan, hingga kerusakan sel hati yang berujung pada peradangan kronis.
Pentingnya Deteksi Dini Penyakit Hati
Penyakit pada organ hati kerap disebut sebagai “silent killer” karena umumnya tidak menimbulkan tanda atau gejala yang khas pada tahap awal, hingga baru disadari ketika kondisinya cukup parah. Padahal semakin cepat dideteksi, penanganan tepat yang diberikan dapat mencegah kondisi menjadi lebih parah dan terhindar dari komplikasi. Oleh karena itu, deteksi dini memegang peran penting.
Secara medis, biopsi masih menjadi metode gold standard untuk menilai derajat kerusakan dan jaringan parut pada organ hati secara presisi. Namun karena biopsi bersifat invasive, terkadang pasien enggan untuk melakukan pemeriksaan. Dengan perkembangan teknologi medis, saat ini telah hadir berbagai metode pemeriksaan yang lebih nyaman bagi pasien, seperti pemeriksaan darah dengan Enhanced Liver Fibrosis (ELF) Test, kalkulasi skor risiko dengan Fibrosis-4 (FIB-4) Index, atau yang paling unggul dan praktis adalah pemindaian dengan FibroScan.
FibroScan merupakan metode pemeriksaan non-invasive untuk mendeteksi dini penyakit hati, memastikan penyebab, hingga melihat tingkat kerusakan hati secara aman dan nyaman, dengan hasil yang akurat, hanya dalam hitungan menit.
FibroScan memanfaatkan alat ultrasonografi (USG) khusus untuk memindai organ hati. Alat ini digunakan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi sebagai salah satu metode pemeriksaan penunjang untuk menilai elastisitas organ hati atau mendeteksi kemungkinan adanya jaringan parut (fibrosis hati).
Selain itu, FibroScan juga dapat membantu dokter mengetahui dengan pasti apakah peradangan yang terjadi dipicu oleh faktor perlemakan hati (MAFLD) atau murni karena infeksi virus.
Pasien hanya perlu berbaring telentang, dokter akan menggunakan probe (perangkat pemancar gelombang ultrasound) di area perut untuk memeriksa kondisi organ hati. Karena tidak melibatkan sayatan, FibroScan tidak akan menyebabkan rasa sakit. Prosesnya pun aman, sehingga pasien dapat langsung pulang setelah pemeriksaan dan segera beraktivitas kembali setelahnya.
Dengan berbagai keunggulannya, FibroScan dapat menjadi solusi tepat untuk mendeteksi dini berbagai masalah kesehatan di hati, mulai dari hepatitis, sirosis, hingga perlemakan hati. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat sebagai metode deteksi dini, pemantauan perkembangan kondisi yang terjadi di hati, maupun mengevaluasi hasil pengobatan dari berbagai penyakit, salah satunya hepatitis B dan C.
Jalur Penularan Hepatitis B dan C
Penularan hepatitis, terutama hepatitis B dan C, dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, termasuk darah, urine, air mani, dan cairan vagina. Kontak yang menyebabkan penularan hepatitis terjadi melalui beberapa cara berikut:
- Melakukan hubungan seksual dengan penderita hepatitis, yang kemungkinannya lebih besar pada orang yang sering berganti pasangan maupun memiliki pasangan seksual lebih dari satu.
- Penggunaan pisau cukur, gunting kuku, maupun sikat gigi secara bergantian Penggunaan jarum suntik secara bergantian
- Proses persalinan jika ibu dengan hepatitis melahirkan bayi secara pervaginam/persalinan normal
- Paparan cairan tubuh penderita hepatitis melalui luka
- Tertusuk jarum maupun benda tajam akibat menjalani prosedur medis yang kurang aman
Umumnya virus hepatitis hanya dapat bertahan hidup selama tujuh hari di luar tubuh manusia. Selama masih “hidup”, virus tetap dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada organ hati.
Masa inkubasi virus hepatitis B dan C berkisar antara 30–180 hari. Infeksi pada anak dapat menetap dan berkembang menjadi kronis. Selain anak, lansia dan mereka yang memiliki kekebalan tubuh lemah berisiko lebih tinggi terinfeksi hepatitis B dan C.
Baca Juga: Berapa Batas Maksimal Konsumsi Gula Harian Agar Terhindar dari Diabetes? Ini Jawaban Menurut Ahli!
Gejala Hepatitis
Meskipun sebagian penderita tidak mengalami keluhan, beberapa gejala umum yang dapat muncul pada penderita hepatitis antara lain:
- Demam
- Mual, muntah
- Tidak nafsu makan
- Sakit perut, khususnya bagian kanan atas
- Nyeri sendi
- Sakit kuning (jaundice), yang tampak pada kulit maupun bagian putih mata yang menjadi kekuningan
- Urine menjadi lebih pekat, atau berwarna seperti teh
- Kotoran menjadi lebih pucat atau seperti lempung
- Pembengkakan pada area kaki, tangan, maupun perut
Jika infeksi hepatitis B dan C kronis berlangsung lama dan tanpa penanganan, keluhan yang muncul biasanya menandakan bahwa fungsi jaringan hati sudah mulai terganggu.
Pencegahan dan Penanganan Hepatitis
Pencegahan terbaik hepatitis adalah melalui pemberian vaksinasi hepatitis B, yang telah menjadi program imunisasi dasar sejak bayi lahir. Bagi orang dewasa, terutama yang berisiko tinggi atau belum pernah mendapatkan vaksinasi, juga sangat disarankan.
Selain itu, hindari penggunaan barang pribadi bersama dan selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Pencegahan hepatitis juga disarankan melalui penerapan pola gizi seimbang, rutin berolahraga, serta menghindari konsumsi alkohol untuk mencegah MAFLD/MASLD.
Jika sudah terdiagnosis hepatitis B atau C kronis, penanganan yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi infeksi. Dokter akan memberikan terapi pengobatan antivirus maupun golongan penguat sistem imun untuk menekan aktivitas virus dan mencegah komplikasi.
Jika hepatitis disebabkan MAFLD/MASLD, penanganan difokuskan pada perbaikan faktor risiko metabolik dan pola hidup, sehingga dapat menghentikan penumpukan lemak di organ hati. Jika kerusakan hati sangat parah, operasi transplantasi hati merupakan pilihan penanganan yang akan disarankan oleh dokter sebagai upaya terakhir.
Menjaga kesehatan organ hati adalah investasi jangka panjang. Merayakan World Hepatitis Day pada 28 Juli, mari lebih waspada terhadap gejala Hepatitis dan segera lakukan screening jika Anda memiliki faktor risiko metabolik atau mengalami gejala yang mencurigakan.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi jika Anda ingin melakukan pemantauan rutin kesehatan fungsi hati. Penanganan awal secara komprehensif akan membantu memastikan kondisi organ hati Anda tetap terjaga dengan optimal.