Beras yang terlihat seperti beras biasa ternyata dapat mengandung tambahan vitamin dan mineral yang dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Produk tersebut dikenal sebagai beras fortifikasi. Namun, di balik sebutir beras fortifikasi, terdapat teknologi pangan yang menentukan bagaimana zat gizi ditambahkan, dilindungi, hingga tetap tersedia saat beras diolah dan dikonsumsi.
Kepala Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) IPB University, Dr. Puspo Edi Giriwono, mengungkapkan, beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras yang mendapatkan tambahan mikronutrien untuk memberikan manfaat gizi tertentu.
“Beras fortifikasi adalah beras yang mendapatkan tambahan mikronutrien, yaitu tiga vitamin dan dua mineral. Vitamin tersebut antara lain vitamin B1, B9, dan B12, sedangkan mineralnya adalah besi dan zink,” ungkap Dr. Puspo, dikutip dari laman IPB University, Jumat (2/10/2026).
Dr. Puspo melanjutkan, penambahan mikronutrien tersebut antara lain ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi yang penting bagi tubuh.
Kandungan besi, misalnya, berkaitan dengan upaya membantu mengatasi dan menurunkan risiko anemia. Sementara itu, zink memiliki peran dalam mendukung daya tahan tubuh serta pertumbuhan yang optimal.
Untuk memasukkan zat gizi ke dalam beras, teknologi pangan menawarkan sejumlah pendekatan. Menurut Dr. Puspo, fortifikasi dapat dilakukan melalui coating atau pelapisan, dusting atau penaburan, serta teknologi ekstrusi.
Masing-masing metode memiliki karakteristik tersendiri. Teknologi ekstrusi menjadi salah satu pendekatan yang memiliki keunggulan karena fortifikan dapat dimasukkan ke dalam buliran beras. Dengan cara tersebut, zat gizi tambahan menjadi lebih terlindungi dari sejumlah faktor lingkungan, seperti oksigen, cahaya, dan panas.
Perlindungan tersebut menjadi penting karena beras biasanya tidak langsung dikonsumsi setelah diproduksi. Ada berbagai tahapan yang harus dilalui, termasuk penyimpanan, distribusi, hingga pengolahan di rumah. Salah satu tahap yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan mencuci beras sebelum dimasak.
“Teknologi ekstrusi menghasilkan buliran yang fortifikannya sudah tercampur dan terlindungi. Ketika beras dicuci sebelum dimasak, kandungan fortifikan relatif lebih terjaga dibandingkan teknologi yang hanya melapisi permukaan beras,” tukasnya.
Baca Juga: Beras 5 Kg Mulai Langka, Pakar IPB Ungkap Dampaknya bagi Konsumen
Pada metode fortifikasi yang menempatkan zat gizi di permukaan buliran, seperti coating atau dusting, proses pencucian berpotensi menyebabkan sebagian fortifikan larut dan ikut terbuang bersama air cucian. Artinya, teknologi yang digunakan sejak awal turut menentukan seberapa banyak zat gizi tambahan yang dapat dipertahankan hingga akhirnya dikonsumsi.
Namun, pengembangan beras fortifikasi tidak berhenti pada pemilihan teknologi. Menurut Dr. Puspo, perilaku konsumen juga perlu menjadi pertimbangan dalam merancang sistem fortifikasi. Kebiasaan mencuci dan mengolah beras, misalnya, perlu diperhitungkan agar kadar zat gizi yang tersisa setelah pengolahan tetap sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Tantangan lainnya berkaitan dengan penguatan ekosistem fortifikasi. Akses terhadap teknologi dan modal menjadi faktor penting agar penerapan fortifikasi tidak hanya dapat dilakukan oleh produsen berskala besar. Di sisi lain, ketersediaan bahan fortifikan di dalam negeri juga perlu diperkuat mengingat sebagian vitamin dan mineral masih bergantung pada pasokan impor.
Dari sisi pengujian, aspek pengambilan sampel juga menjadi perhatian. Dr. Puspo menjelaskan bahwa rasio pencampuran fortifikan dengan beras dapat mencapai 1:100. Karena itu, sampel yang digunakan dalam pengujian harus benar-benar mampu mewakili keseluruhan produk.
“Kalau pencampurannya tidak merata dan sampelnya tidak representatif, hasil analisis dapat menggambarkan kondisi yang tidak sesuai dengan keseluruhan produk,” jelasnya.
Selain proses produksi dan pengujian, masa penyimpanan juga perlu diperhitungkan. Setiap vitamin dan mineral memiliki tingkat stabilitas yang berbeda sehingga laju penurunannya selama penyimpanan tidak selalu sama. Kondisi tersebut dapat menyebabkan satu komponen masih memenuhi standar, sementara komponen lainnya telah mengalami penurunan kadar.
“Karena itu, perlu kajian berbasis data untuk memodelkan perubahan kadar fortifikan selama produksi, distribusi, dan penyimpanan. Hasil kajian tersebut selanjutnya diterjemahkan menjadi rekomendasi teknis bagi produsen. Dengan demikian, diharapkan penerapan beras fortifikasi dapat dilakukan secara konsisten dalam skala besar dan memberikan manfaat gizi bagi masyarakat,” tandas Dr. Puspo.
Baca Juga: Top! Stok Beras Tanah Air Tertinggi Sepanjang Sejarah