Ramadan selalu menghadirkan perubahan ritme kehidupan di berbagai penjuru dunia. Aktivitas masyarakat bergeser, malam hari menjadi lebih hidup, dan ruang publik dipenuhi nuansa kebersamaan. Ibadah puasa memang menjadi inti, namun ekspresi budaya membuat suasana Ramadan di setiap negara terasa khas dan berbeda.

Sejarah, adat, serta kebiasaan lokal membentuk cara masyarakat menyambut dan menjalani bulan suci. Tradisi yang lahir tidak berdiri sendiri, melainkan dirawat lintas generasi sebagai bagian dari identitas kolektif. 

Berikut sejumlah tradisi unik Ramadan dari berbagai negara yang mencerminkan kekayaan ekspresi tersebut.

Baca Juga: Ragam Menu Khas Berbuka Puasa dari Berbagai Negara

Mesir dan Fanous

Di Mesir, Ramadan identik dengan fanous, lampion warna-warni yang menghiasi rumah dan jalanan. Tradisi ini telah dikenal sejak era Dinasti Fatimiyah dan terus bertahan hingga kini. Menjelang Ramadan, pasar-pasar di Kairo dipenuhi pedagang fanous dengan berbagai ukuran dan desain, dari yang tradisional berbahan logam hingga versi modern berlampu elektrik.

Lampion digantung di balkon, gang sempit, hingga pusat kota sebagai simbol kegembiraan menyambut bulan puasa. Anak-anak kerap membawa fanous sambil bernyanyi selepas berbuka, menciptakan suasana malam yang hangat dan penuh cahaya. Fanous bukan sekadar dekorasi, tetapi simbol visual yang menguatkan identitas Ramadan di ruang publik.

Uni Emirat Arab dan Haq Al Laila

Di Uni Emirat Arab, masyarakat merayakan Haq Al Laila pada pertengahan bulan Syaban sebagai penanda semakin dekatnya Ramadan. Anak-anak mengenakan pakaian tradisional, lalu berkeliling lingkungan sambil menyanyikan lagu khas dan mengetuk pintu rumah untuk menerima permen atau kacang dari tetangga.

Baca Juga: Sambut Ramadan, Nutella Ajak Keluarga Indonesia Berbagi Berkah

Orang tua menyiapkan bingkisan kecil untuk dibagikan. Tradisi ini menanamkan nilai berbagi sejak dini sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Lingkungan menjadi ramai dan penuh interaksi sosial, membangun semangat kebersamaan sebelum memasuki bulan puasa.

Turki dan Mahya

Di Turki, masjid-masjid dihiasi mahya, rangkaian lampu yang dipasang di antara dua menara. Tradisi ini berkembang sejak masa Kesultanan Utsmaniyah. Tulisan cahaya yang terbentuk biasanya berisi pesan religius atau ucapan selamat menjalankan ibadah puasa. Di Istanbul, mahya menjadi pemandangan khas yang dinantikan setiap malam Ramadan.

Selain itu, tradisi penabuh drum keliling untuk membangunkan warga sahur masih bertahan. Mereka menyusuri permukiman sambil memainkan ritme tertentu. Meski alarm modern telah tersedia, kebiasaan ini tetap dilestarikan sebagai warisan budaya yang memperkuat nuansa Ramadan.

Indonesia dan Tradisi Daerah

Di Indonesia, keberagaman budaya melahirkan ragam tradisi Ramadan. Di Jawa Timur, masyarakat menjalankan megengan dengan doa bersama sebelum puasa dimulai. Warga membawa makanan untuk didoakan, lalu dibagikan sebagai bentuk syukur dan silaturahmi.

Baca Juga: Ramadan Jadi Momentum Gaya Hidup Sehat, Ini Tips Efektif Menurunkan Berat Badan

Di Sumatera Barat, tradisi balimau dilakukan dengan mandi bersama di sungai sebagai simbol penyucian diri. Sementara di Kudus, dandangan menghadirkan pasar rakyat yang ramai menjelang Ramadan. Aktivitas jual beli meningkat, dan masyarakat berkumpul di ruang publik untuk menyambut bulan suci dengan penuh antusias.

Pakistan dan Dentuman Meriam

Di Pakistan, sejumlah kota masih mempertahankan tradisi dentuman meriam sebagai penanda waktu berbuka. Tradisi ini berasal dari masa ketika masyarakat belum memiliki penunjuk waktu yang akurat. Suara meriam menjadi tanda pasti bahwa magrib telah tiba.

Warga menunggu bunyi tersebut sebelum menyantap hidangan berbuka. Anak-anak dan keluarga berkumpul untuk mendengar dentuman bersama, menjadikan momen itu sarat nilai historis dan kebersamaan.

Irak dan Permainan Mheibes

Di Irak, malam Ramadan diramaikan dengan permainan tradisional bernama mheibes. Permainan ini melibatkan dua kelompok besar yang saling menebak lokasi cincin yang disembunyikan di tangan salah satu anggota lawan. Biasanya dimainkan setelah salat tarawih.

Mheibes menghadirkan suasana kompetitif sekaligus akrab. Warga berkumpul di lapangan atau halaman luas untuk bermain dan menonton, memperkuat hubungan sosial antartetangga selama bulan suci.

Maroko dan Nafar

Di Maroko, terdapat sosok bernama nafar yang bertugas membangunkan warga untuk sahur. Ia berjalan menyusuri jalan kota sambil meniup terompet tradisional dan melantunkan doa. Pakaian khas yang dikenakannya membuat nafar mudah dikenali.

Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun. Di akhir Ramadan, keluarga biasanya memberikan hadiah sebagai tanda terima kasih atas dedikasinya selama bulan puasa.

Malaysia dan Bazaar Ramadan

Di Malaysia, bazaar Ramadan menjadi pusat aktivitas menjelang waktu berbuka. Penjual menawarkan beragam makanan khas seperti kuih tradisional, nasi briyani, dan aneka minuman manis. Bazaar tersebar di berbagai kota dan selalu ramai pada sore hari.

Selain menjadi tempat berburu hidangan berbuka, bazaar Ramadan juga menggerakkan ekonomi lokal. Pelaku usaha kecil memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan pendapatan, sementara warga datang untuk berbelanja sekaligus bersosialisasi.

Bangladesh dan Iftar Jamaah

Di Bangladesh, masyarakat kerap menggelar iftar jamaah dalam skala besar. Tikar panjang dibentangkan di pinggir jalan atau halaman masjid, lalu warga berbuka bersama dengan kurma, buah, dan makanan lokal sederhana.

Kegiatan ini terbuka bagi siapa saja, termasuk musafir dan warga kurang mampu. Tradisi tersebut menegaskan nilai solidaritas sosial yang menjadi inti Ramadan, di mana kebersamaan dan kepedulian berjalan beriringan.

Tradisi Ramadan di berbagai negara menunjukkan bahwa praktik keagamaan selalu berinteraksi dengan budaya lokal. Nilai yang dijaga tetap sama, yakni ibadah, kebersamaan, dan kepedulian sosial, namun setiap masyarakat mengekspresikannya dengan cara yang unik sesuai sejarah dan lingkungannya.

Dari cahaya fanous di Mesir hingga iftar jamaah di Bangladesh, Ramadan menghadirkan ruang pertemuan antara spiritualitas dan kehidupan sosial. Bulan suci ini bukan hanya menguatkan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mempererat relasi antarsesama di berbagai penjuru dunia.