Mimpi besar tidak selalu tumbuh dari lapangan megah atau akademi sepak bola ternama. Bagi Purnama, bocah 12 tahun asal Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mimpi menjadi pesepak bola profesional justru tumbuh dari sebuah lapangan sederhana di samping warung makan milik orang tuanya.

Selama empat tahun terakhir, rutinitas Purnama nyaris tak berubah. Setelah membantu orang tuanya berjualan di warung, ia bergegas menuju lapangan untuk berlatih bersama Sekolah Sepak Bola (SSB) Youth Aurasic Bandung. Tiga kali dalam sepekan, ia mengejar bola sambil menyimpan satu cita-cita besar: suatu hari bisa mengenakan seragam Tim Nasional Indonesia.

Kesempatan untuk semakin dekat dengan mimpi itu datang ketika Purnama mengikuti McDonald's Football Clinic di Lapangan Mengger Soccer, Dayeuhkolot, Bandung. Di sana, ia berkesempatan berlatih langsung bersama Pelatih Sepak Bola Nasional Indra Sjafri dan legenda Persib, Atep, dua sosok yang selama ini hanya bisa ia saksikan melalui layar televisi.

Begitu peluit latihan dibunyikan, Purnama tampak tak ingin melewatkan satu pun instruksi. Sebagai kapten SSB Youth Aurasic Bandung, ia mengikuti setiap arahan dengan penuh perhatian, mulai dari latihan teknik hingga permainan bersama peserta lainnya. Mengenakan jersey dan sepatu baru pemberian McDonald's Indonesia, ia menikmati pengalaman tersebut dengan antusias.

Bagi Purnama, latihan hari itu bukan sekadar kesempatan belajar dari pelatih dan pemain yang dikaguminya. Lebih dari itu, pengalaman tersebut membuat mimpi yang selama ini terasa jauh menjadi sedikit lebih dekat.

Namun, perjalanan Purnama untuk sampai ke lapangan tersebut bukanlah cerita yang mudah. Di samping lapangan tempatnya berlatih, berdiri warung makan kecil milik kedua orang tuanya. Dari balik etalase warung itulah sang ayah, Heri Mulyana, selama bertahun-tahun menyaksikan putranya berlari mengejar bola.

Heri mengaku kerap memikirkan bagaimana ia bisa terus mendukung cita-cita sang anak di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Pihak SSB Youth Aurasic Bandung memang memberikan keringanan dengan memperbolehkan biaya latihan dicicil sesuai kemampuan. Namun, biaya tersebut tetap menjadi pertimbangan bagi keluarga Purnama.

“Sejak usia delapan tahun, anak saya berlatih tiga kali seminggu. Meski pihak SSB Youth Aurasic Bandung memberikan keringanan dengan memperbolehkan kami mencicil biaya latihan semampunya, di tengah kondisi ekonomi keluarga, saya sering bertanya-tanya apakah bisa terus mendukung mimpinya menjadi pemain Tim Nasional Indonesia. Namun, melihat semangatnya berlatih bersama Indra Sjafri dan Atep melalui kesempatan yang diberikan McDonald's Indonesia membuat saya yakin bahwa selama Purnama terus bersungguh-sungguh mengejar mimpinya, selalu akan ada jalan untuk mendukung potensinya,” tutur Heri.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa bakat dan semangat anak-anak untuk bermain sepak bola dapat tumbuh di mana saja. M. Iqbal, salah satu pelatih di SSB Youth Aurasic Bandung, melihat kesempatan seperti McDonald's Football Clinic sebagai pengalaman penting bagi anak-anak yang selama ini berlatih dengan fasilitas sederhana.

“Banyak anak berbakat hanya membutuhkan satu kesempatan untuk akhirnya percaya bahwa mimpi mereka juga layak diperjuangkan. Hari ini kami melihat semangat dan rasa percaya diri itu tumbuh dalam diri mereka. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat anak-anak pulang dengan keyakinan bahwa mereka juga bisa meraih mimpi menjadi pesepak bola profesional, apa pun latar belakangnya,” ungkapnya.

Baca Juga: McDonald’s Indonesia Buka Football Clinic, 200 Anak Dilatih Langsung Indra Sjafri

Purnama memang hanya satu dari puluhan anak yang mengikuti program tersebut. Di berbagai daerah di Indonesia, masih banyak anak yang memiliki bakat dan kecintaan terhadap sepak bola, tetapi belum tentu memiliki kesempatan untuk belajar langsung dari pelatih nasional maupun pemain yang mereka idolakan.

Semangat untuk membuka akses itulah yang menjadi salah satu alasan McDonald's Indonesia menghadirkan McDonald's Football Clinic. Program ini bukan hanya dirancang sebagai sesi latihan sepak bola, tetapi juga sebagai ruang bagi anak-anak untuk membangun kepercayaan diri, mengembangkan kemampuan, sekaligus melihat bahwa cita-cita mereka layak untuk diperjuangkan.

Program tersebut menjadi bagian dari perayaan 35 tahun McDonald's Indonesia sekaligus rangkaian kampanye FIFA World Cup Goes to McDonald's. Mengusung semangat “Sepenuhnya Indonesia”, McDonald's Indonesia menghadirkan pelatihan sepak bola untuk anak-anak berusia 8–12 tahun dengan melibatkan peserta umum maupun anak-anak dari berbagai Sekolah Sepak Bola.

Secara keseluruhan, 200 anak mengikuti program yang dipimpin langsung oleh Indra Sjafri. Kegiatan sebelumnya digelar di Jakarta pada 12 Juli 2026 bersama pesepak bola profesional Rio Fahmi, kemudian berlanjut di Bandung pada 19 Juli 2026 bersama legenda Persib, Atep.

Program tersebut juga dirancang agar dapat menjangkau anak-anak dari komunitas prasejahtera. Sebanyak 40 anak berbakat dari SSB Palapa Mavericks Jakarta dan SSB Youth Aurasic Bandung mendapatkan kesempatan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tanpa dipungut biaya. Sebagai bentuk dukungan agar mereka terus berlatih, McDonald's Indonesia turut memberikan jersey dan sepatu baru kepada total 200 anak dari kedua SSB tersebut.

“Setiap anak memiliki mimpi dan cita-cita yang ingin mereka raih. Melihat semangat anak-anak seperti Purnama mengingatkan kami bahwa sering kali yang mereka butuhkan bukan hanya fasilitas atau pelatihan, tetapi pengalaman yang membuat mereka semakin yakin bahwa mimpi mereka layak diperjuangkan. Melalui McDonald's Football Clinic, kami berharap anak-anak tidak hanya membawa pulang pengalaman berkesan, tetapi semangat untuk terus berlatih dan semakin dekat dengan cita-cita mereka di dunia sepak bola,” tutur Caroline Kurniadjaja, Associate Director of Marketing McDonald's Indonesia, dikutip dari keterangan resminya, Minggu (16/8/2026).

Pelatihan selama 70 menit tersebut dirancang langsung oleh Indra Sjafri dengan pendekatan pembinaan sepak bola usia dini. Para peserta dibagi ke dalam enam kelompok dan secara bergantian mendapatkan materi passing, small-sided games (SSG), shooting, serta shielding.

Namun, bagi Indra, sepak bola usia dini tidak berhenti pada kemampuan mengolah bola. Di balik latihan teknik, terdapat nilai-nilai yang diharapkan dapat membentuk karakter anak, seperti kedisiplinan, kerja sama, sikap saling menghargai, dan keberanian mengambil keputusan.

“Yang kami bangun bukan hanya kemampuan bermain sepak bola, tetapi juga karakter. Anak-anak belajar disiplin, bekerja sama, saling menghargai, dan berani mengambil keputusan. Nilai-nilai inilah yang akan mereka bawa, bukan hanya ketika bermain sepak bola, tetapi juga dalam kehidupan mereka kelak,” jelas Indra Sjafri.

Bagi Atep, melihat anak-anak berlatih di Bandung juga menghadirkan kenangan tersendiri. Ia merasa perjalanan mereka memiliki kemiripan dengan langkahnya ketika pertama kali mengejar impian menjadi pesepak bola profesional.

“Saya juga memulai perjalanan dari lapangan sederhana seperti mereka. Tidak pernah terpikir suatu hari bisa menjadi pemain profesional. Karena itu, saya berharap pengalaman hari ini membuat mereka semakin yakin bahwa mimpi sebesar apa pun selalu dimulai dari keberanian untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah,” ujarnya.

McDonald's Football Clinic menjadi bagian dari perjalanan panjang McDonald's Indonesia dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda melalui olahraga. Selama lebih dari satu dekade, berbagai inisiatif telah dilakukan, mulai dari mengirimkan anak-anak Indonesia sebagai Player Escort pada ajang sepak bola internasional pada 2014 dan 2018, menghadirkan Liga Ayo pada 2023, hingga merenovasi 44 fasilitas olahraga sekolah di 12 provinsi pada 2025.

Menjelang siang, peluit panjang akhirnya menandai berakhirnya latihan. Anak-anak berlarian menghampiri Indra Sjafri dan Atep untuk berfoto bersama sebelum meninggalkan lapangan.

Purnama pun pulang ke warung kecil milik keluarganya. Namun, kali ini ia membawa sesuatu yang lebih besar daripada jersey baru, sepasang sepatu, atau foto bersama sosok yang selama ini ia idolakan.

Ia membawa keyakinan baru bahwa mimpinya menjadi pesepak bola profesional bukan sesuatu yang mustahil.

Dari lapangan sederhana di samping warung orang tuanya, Purnama belajar bahwa perjalanan menuju mimpi besar tidak selalu dimulai dengan fasilitas yang besar pula. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kesempatan untuk mencoba, seseorang yang percaya, dan keberanian untuk terus berlari mengejar bola.

Sebab, masa depan seorang anak mungkin tidak berubah hanya karena satu pertandingan. Namun, satu kesempatan bisa mengubah cara seorang anak memandang mimpinya—dari sesuatu yang terasa jauh menjadi sesuatu yang benar-benar mungkin diraih.

Baca Juga: Lewat 'FIFA World Cup Goes to McD', McDonald's Ciptakan Pengalaman Nobar Nyaman untuk Keluarga