Misalnya, jika investasi memberikan imbal hasil sekitar 10% per tahun, maka keuntungan tersebut dapat dialokasikan untuk membayar premi asuransi atau ditambahkan sebagai dana pensiun tanpa harus mengganggu modal pokok.
"Misalnya, punya tabungan Rp100 juta. Kalau dibagi untuk investasi dan hasilnya sekitar 10% setahun, keuntungannya bisa dipakai untuk bayar asuransi atau ditabung lagi untuk dana pensiun," jelasnya.
Menurut Aliyah, konsep tersebut merupakan bagian dari modern money, yakni memanfaatkan aset agar mampu menghasilkan arus kas untuk membiayai berbagai kebutuhan hidup.
Dengan cara ini, lanjut dia, seseorang tidak harus terobsesi mengumpulkan dana pensiun hingga miliaran rupiah sebelum merasa aman secara finansial.
"Modern money yang ingin aku jelaskan adalah kamu enggak harus mengumpulkan dana pensiun miliaran dulu. Yang paling penting kumpulkan modalnya terlebih dahulu," papar Aliyah.
Namun, memiliki modal investasi saja belum cukup. Aliyah menekankan pentingnya meningkatkan literasi keuangan agar mampu memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhan, baik yang berorientasi pada keamanan maupun pertumbuhan aset.
Menurutnya, pemahaman mengenai karakter setiap produk investasi akan membantu seseorang memanfaatkan hasil investasinya untuk membiayai berbagai target keuangan, mulai dari perlindungan diri hingga tujuan hidup jangka panjang.
"Yang kedua, tambah knowledge tentang safety dan growth. Produk seperti apa yang tetap bisa menghasilkan untuk membiayai life goals kamu," tutup Aliyah.
Baca Juga: Freelancer Sulit Menabung Dana Pensiun? Ini Tips dari Financial Trainer