Bank Indonesia (BI) menggelar Sustainable Talk bertajuk “Waste Management: Pengolahan Limbah Ramah Lingkungan dan Bernilai Tambah" sebagai bagian dari rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di JICC Jakarta pada Minggu (23/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, BI menggaungkan pentingnya pengolahan limbah untuk menciptakan nilai tambah ekonomi. 

Gubernur Bank Indonesia, Ricky Perdana Gozali, mengungkapkan bahwa pengelolaan limbah menjadi tantangan sekaligus peluang dalam mendorong transformasi ekonomi berkelanjutan. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sampah pada tahun 2025 mencapai 24,8 juta ton per tahun dari 244 kabupaten/kota, namun 65% di antaranya belum terkelola secara layak. Merespons hal tersebut, Ricky menilai bahwa pengelolaan limbah perlu bertransformasi dari pola ambil–olah–buang menuju ekonomi sirkular. Nilai suatu produk dan kualitas material perlu dipertahankan selama mungkin.

Baca Juga: Hendra Lembong: BCA Rogoh Kocek Rp3,07 Triliun untuk Bagikan Dividen Interim September 2026

"Kita perlu bergerak dari persoalan limbah menuju pengelolaan limbah hingga menjadikan limbah yang bernilai tambah," ungkap Ricky dalam keterangan resmi, dikutip pada Senin (24/8/2026).

Ia menambahkan, transformasi tersebut dinilai akan membuka peluang rantai nilai baru bagi industri, UMKM, dan masyarakat melalui pengolahan dan daur ulang limbah, pemanfaatan kembali sumber daya, serta pengembangan model bisnis sirkular. Bagi UMKM, penerapan prinsip keberlanjutan tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi, menciptakan nilai tambah dan peluang usaha baru, serta memperkuat daya saing dalam rantai pasok industri.

Langkah nyata Bank Indonesia dalam memperkuat UMKM inklusif dan berkelanjutan diwujudkan melalui penyusunan Pedoman Model Bisnis UMKM Berkelanjutan. Di samping itu, Bank Indonesia juga memfasilitasi replikasi pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah, serta Kompetisi Perintis Wirausaha Inklusif dan Berkelanjutan (PERWIRA INTAN), suatu perlombaan inovasi model bisnis di bidang pertanian berkelanjutan.

Pada 2026, kompetisi menjaring inovasi usaha yang mendukung ketahanan pangan dengan mengedepankan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan. Sebanyak 1.950 peserta dari kalangan pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat umum telah mendaftar. Dari jumlah tersebut, 200 proposal terbaik akan memperoleh pembekalan dan pendampingan. Selanjutnya, 5 inovasi terbaik berkesempatan untuk memperoleh fasilitasi business matching, kerja sama dengan Bank Indonesia, serta studi banding ke negara dengan sektor pertanian maju.

Prinsip keberlanjutan melalui UMKM sirkular juga diterapkan Bank Indonesia melalui pengelolaan uang rupiah. Bank Indonesia bekerjasama dengan UMKM untuk mengolah limbah racik uang kertas, yaitu hasil pemusnahan uang kertas yang sudah tidak layak edar, menjadi suvenir yang bernilai dan bahan baku pembuatan material pembenah tanah biochar. Program ini telah memperoleh pengakuan internasional melalui IACA Award sebagai pemenang kategori Best New Environmental Sustainability Project. 

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menyampaikan pentingnya kolaborasi Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong perubahan perilaku dan partisipasi masyarakat melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 yang mewajibkan pemilahan sampah dalam empat kategori, yaitu organik, anorganik, bahan beracun dan berbahaya (B3), serta residu. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di hilir.

Sustainable Talk menghadirkan narasumber Kurniawan Agung dari Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Dudi Gardesi Asikin dari Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan M. Bijaksana Junerosano dari Waste4Change. Diskusi membahas praktik ekonomi sirkular bagi UMKM, mulai dari pemilahan dan pengelolaan sampah hingga pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah. Kegiatan ini diikuti oleh UMKM, asosiasi, kementerian/lembaga, lembaga swadaya masyarakat, komunitas pecinta lingkungan, dan masyarakat umum.

Bank Indonesia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam membangun ekosistem usaha yang semakin inklusif dan berkelanjutan. Sejalan dengan semangat KKI 2026, Beudaya MeusareSare, Berdaya Bersama-sama, ekonomi sirkular diharapkan mampu mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang dan nilai ekonomi baru, sekaligus memperkuat daya saing UMKM Indonesia.