Nama Ray Wagiu Basrowi lumayan dikenal di dunia kesehatan Tanah Air, sejak muda Ray memang telah jatuh hati pada dunia medis dan masalah nutrisi. 

Setidaknya sejak duduk di bangku SMA Ray sudah berhasrat besar menjadi dokter, namun pikirannya mulai berubah setelah mimpinya berhasil diraih. Ray tak mau menjadi dokter klinis. Baginya menjadi dokter tak harus berkutat di ruang operasi atau memegang alat suntik.  

Baca Juga: Apa Maksud Prabowo Kumpulkan 1.200 Guru Besar di Istana?

Kecintaannya pada dunia kesehatan itulah yang membawanya  mendirikan Health Collaborative Centre (HCC) di kemudian hari. 

HCC merupakan sebuah lembaga nirlaba yang berfokus pada promosi, advokasi, penelitian, dan edukasi kesehatan masyarakat, khususnya di bidang nutrisi, kesehatan kerja, laktasi, dan kesehatan komunitas.  

Saat ini sebagian besar waktu Ray didedikasikan untuk dunia kesehatan. Selain sibuk mengurus HCC, pria kelahiran Manado 7 Juli 1977 itu juga aktif mengajar Program Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan aktif di organisasi sosial dan ilmiah.

Bahkan di tengah kesibukannya Ray masih sempat mengedukasi masyarakat luas lewat berbagai ide dan gagasannya yang dituangkan lewat artikel ilmiah. 

Total Ray telah mempublikasikan lebih dari 100 artikel ilmiah di jurnal nasional dan internasional. Hal ini membuktikan bahwa dedikasi Ray untuk masalah kesehatan tidak setengah-setengah. 

Sepak Terjang di Dunia Pendidikan

Ray Wagiu Basrowi punya rekam jejak pendidikan yang sangat mentereng, ia menjadi salah dari segelintir dokter yang bergelar doktor (S3) dalam bidang Kedokteran Kerja dan Kedokteran Komunitas dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). 

Awal mula pendidikan dokter dimulai di Universitas Sam Ratulangi, Manado. Di kampus itu Ray mendaftarkan diri lewat jalur prestasi dan menamatkan pendidikan dokter umum. 

Ia kemudian melanjutkan  pendidikan Magister Kedokteran Kerja dari Departemen Kedokteran Komunitas FKUI. Ia sukses  merampungkan studinya setelah menuntaskan tesisnya yang membahas laktasi dan pemberian nutrisi serta menyusui pada populasi ibu bekerja.

Baca Juga: KPK Bicara Nasib Jokowi dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Dimana tesisnya itu menjadi penelitian lanjutan pada jenjang pendidikan berikutnya, pada program pendidikan S3, Ray menyelesaikan disertasi berjudul Formulasi Model Promosi Laktasi di Tempat Kerja di Indonesia.

Karier

Gelar akademis mentereng yang sukses ditorehkan Ray selaras dengan pangalaman panjangnya di dunia kerja, Ray punya segudang pengalaman selama lebih dari 18 tahun berkarier sebagai praktisi industri gizi dan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) manajemen perkantoran. 

Saat ini berkarier di beberapa perusahaan produk pangan dan gizi, dan kini merupakan pengajar di Program Magister Kedokteran Kerja Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI dan Chief Editor dari The Indonesian Journal of Community and Occupational Medicine (IJCOM).

Jauh sebelumnya Ray sempat bekerja sebagai dokter umum di beberapa rumah sakit di Manado dan Jakarta dan melanjutkan karirnya sebagai dokter di unit gawat darurat di dua tempat tersebut.

Tak banyak yang tahu,Ray juga sempat menjajal pekerjaan lain di luar profesinya sekarang ini. Ketika masih menempuh pendidikan Ray sempat bergelut di dunia jurnalisme. 

Ray tercatat sempat menjadi reporter dan pembawa acara program kesehatan di TVRI Manado dan Smart FM.  Status wartawannya baru ia lepas pada 2003 setelah Ray benar-benar fokus ke dunia kesehatan.